Sukses

News & Entertainment

Berkenalan Dengan Para Aktivis Kuliner Cantik di Eatphoria

2 dari 3 halaman

Next

eatt

Mereka menyebut diri mereka sebagai aktivis kuliner. The love for food and culinary world drives these young ladies untuk bersama-sama menceburkan diri dalam sebuah konsultan kulinari yang diberi nama ‘Eatphoria.’ Meski belum punya kantor resmi, dan baru memiliki ruang kecil di rumah salah satu dari mereka di wilayah Lebak Bulus, Eatphoria bergerak secara gerilya mengorganisir, menggerakan sebuah ‘baby project’ yang kemudian menjadi gong awal eksistensi mereka. “Kenapa aktivis? Karena misi jangka panjang kita adalah menjadikan environment kuliner di Jakarta lebih berkembang,” jelas Thanya Ponggawa yang memegang posisi konsultan untuk Eatphoria.

Terbagi atas dua divisi, Eatphoria membagi layanan mereka menjadi culinary consultant dan event promotor ( fokus kepada acara-acara kuliner). “Culinary consultant  dasarnya adalah kitchen outsourcing, lebih kayak catering tapi untuk restoran, kita yang hire koki, membuat menu, dan segala macam persiapan di kitchen kita yang urus, di sinilah sisi aktivis tadi kelihatan,” jelas Kezia Ponggawa yang berperan sebagai Public Relation untuk Eatphoria.

Bila banyak perempuan yang sepertinya cenderung memulai bisnis entah itu di bidang kecantikan, atau fashion, maka keempat perempuan ini dengan passion yang sama akan dunia kuliner memilih bergerak di bisnis satu ini. Usaha mereka bahkan baru menginjak usia delapan bulan sejak pertama kali memutuskan untuk bergabung dan mencurahkan ide, kreatifitas, semangat dan waktu di wadah ini. “Kebetulan keluarga saya sudah memiliki usaha katering yang berjalan cukup lama, jadi kita juga belajar dari situ, sampai urusan mengangkat piring.” Jelas Avanda Hanafia yang juga berperan sebagai konsultan untuk Eatphoria.

Berbicara mengenai ‘baby project’ yang semacam menjadi gong berdirinya Eatphoria diawali dengan sebuah proses organik. “Awalnya kita iseng menghubungi manajemen pemenang reality show Junior Master Chef musim pertama Isabella dan Sophia, karena kita ngefans banget, ternyata direspons dan mereka justru antusias banget untuk datang ke Indonesia. Akhirnya kita bergabung dan mempersiapkan kedatangan mereka,” jelas Avanda dan Allesandra. “Kita bahkan belum menemukan nama Eatphoria ini saat mempersiapkan event itu, Semuanya sambil jalan aja,” tambah Avanda lagi.

3 dari 3 halaman

Next

 

eateam

“Sebelum kedatangan Isabella dan Sophia kita memang sudah dekat, tapi saat mempersiapkan event pertama ini kita jadi dekat secara profesional, karena ini urusannya pekerjaan, dan bagaimana passion ini benar-benar bisa kita olah jadi sesuatu.” Cerita Thanya yang bersama Allesandra menciptakan beberapa menu favorit Eatphoria yang bisa dinikmati di salah satu project mereka di kawasan SCBD.”Kita percaya bahwa kuliner itu seni, makan bukan hanya untuk hidup, tapi kemasan menyeluruh dari sebuah makanan. Ada presentasi, tekstur, rasa, semua diperhatikan,” tambah Thanya lagi.

“Kita learning by doing aja, sih. Avanda dan Allesandra berasal dari keluarga dengan usaha katering yang sudah established, pelan-pelan kita tahu bahwa bisnis kuliner harus punya manajemen, promosi, branding yang berjalan beriringan,” jelas Kezia kemudian. “Kita juga memperhatikan kompetitor, kita riset tentang bisnis ini, dan untungnya bisa mulai menentukan target client kita seperti apa, apalagi karena kita adalah pemain baru di bisnis ini,” lanjut Kezia. “It’s not always about money, saat mulai menghadapi challenge yang cukup berat kita kembali lagi ke awal, bahwa kita mulai ini dengan passion,” timpal Thanya yang juga adalah sepupu dari Kezia itu.

We love to eat, kita berempat sering sekali traveling bareng, dan agenda utama pasti makan. Kadang jalan keluar negeri juga kita udah reserve di restoran yang ingin kita datangi nantinya di sana. Jadi nyampe bisa langsung nyoba,” jelas Avanda lagi.”Banyak orang yang taste buds nya kurang terasah dan nggak bisa mengenali rasa yang detail, kita membuat bisnis ini untuk orang-orang seperti itu. Pengalaman kuliner kami sudah membuat kami cukup terlatih. So we’d like to help those people who have money, want to start a restaurant but don’t know how and what to do, termasuk menciptakan rasa yang ingin mereka bagikan ke pengunjung restoran mereka nantinya,” sambung Thanya kemudian.

Eatphoria saat ini sudah memiliki 7 pegawai, seorang Head Chef dan enam orang koki.”Pertama kali kita bayar gaji pegawai terharu banget, duduk di kitchen dan baru benar-benar merasa bahwa we’re actually working, this thing is growing,” cerita Thanya lagi. Keempat perempuan muda ini boleh berbangga karena meski dengan dukungan orang tua, pelan-pelan mereka menata bisnis sendiri. Setelah event pertama yang sukses, banyak pihak sudah menantikan langkah mereka berikutnya dan saat yang sama, pelan-pelan client baru terus berdatangan. Memupuk ilmu seraya membiarkan semuanya mengalir dan mengizinkan usaha mereka yang baru seumur jagung itu terus berkembang. From the passion we witnessed in their eyes, tied by years of close bond, long years of hard work is surely their path.

Artikel Selanjutnya
Jakarta Kota Kita, Susah Senang Sama-Sama
Artikel Selanjutnya
Cinta Seribu Tahun Christina Perri Untuk Indonesia
: