Sukses

News & Entertainment

Rakhma Sinseria: Kesuksesan Coffee Toffee, Bukti Produk Lokal Mampu Bersaing di Pasaran

2 dari 3 halaman

Next

Dimulai dari mimpi…

Ide membuat usaha bersama sejak awal memang sudah ada sejak keduanya masih berpacaran. Rakhma membuka obrolan, “Dulu kami sering nongkrong di coffee shop di mall, dan kebetulan dia juga sempat kerja paruh waktu di coffee shop di Melbourne sembari menyelesaikan short course-nya di sana. Sering membayangkan, enak kali ya, kalau kami punya usaha begini, apalagi di Melbourne suami saya banyak menemukan kopi Sumatera yang dikemas ulang sesuai brand mereka.”

Bermimpi mempunyai sebuah coffee shop di mall, yang bisa terwujud setelah mereka menikah barulah usaha kecil-kecilan di Surabaya. “Alasan klasik, kami terbentur dana. Kalau memulai di mall, harga sewanya sangat fantastis, belum biaya lain-lain. Ya sudah kami mulai dari yang kami bisa. Saat itu dananya cuma 5 juta rupiah, dan kami mulai dengan booth ukuran 1x1 m. Pertama buka juga nebeng di tempat kursus milik mertua saya. Ada satu space kosong di sana. Kita manfaatkan dari apa yang ada dulu saja,” jelas Rakhma.

"Kebanyakan orang kan, menjelang bangkrut langsung menutup bisnisnya, kalau saya sebaliknya."

Keputusan berani jelang kebangkrutan

Sejak awal sang suamilah yang total terjun ke bisnis minuman ini, sedangkan Rakhma bekerja sebagai staf keuangan di salah satu perusahaan swasta. Kalau terjadi hal yang kurang diinginkan, masih ada pemasukan tetap yang bisa diandalkan, begitu pikir mereka. Tapi, kemudian Rakhma mengambil langkah berani dengan keluar dari pekerjaannya di saat Coffee Toffee hampir bangkrut, “Tahun 2007 akhir saya memutuskan keluar karena saya yakin dengan bisnis yang kami pilih. Bisnis ini punya masa depan bagus. Kebanyakan orang kan, menjelang bangkrut langsung menutup bisnisnya, kalau saya sebaliknya. Saya yakin usaha saya butuh perhatian lebih, butuh perawatan, karena itu saya memutuskan keluar dan memberikan seluruh waktu, pikiran, dan perhatian saya ke bisnis ini.”

Menjelang kebangkrutan, saat itu Coffee Toffee sudah memiliki 10 booth yang tersebar di Surabaya, 3 milik pribadi dan 7 lainnya milik mitra. Rakhma memang sengaja menawarkan booth ke teman dekat dan saudara dengan pertimbangan makin banyak booth, Coffee Toffee makin dikenal dan menarik perhatian orang. Sayang, satu per satu booth akhirnya terpaksa ditutup karena penjualan terus menurun. Rakhma menebak-nebak, “Yang menyebabkan kebangkrutan mungkin karena segmen kita tanggung, murah nggak, mahal juga nggak. Cuma take away tanpa fasilitas lain. Dari produk juga kurang bagus karena hanya awalnya saja diterima. Tiap bulan makin ditinggalkan.” 

"Ketika Coffee Toffee hampir bangkrut kami justru tertantang untuk membuktikan benar-tidaknya pilihan kami ini."

Sama-sama tertarik bisnis sejak kecil

Sebelum saling kenal pun Rakhma dan Odi sudah tertarik berbisnis kecil-kecilan. Rakhma, ketika SMA menyewakan VCD beserta player-nya ke teman-teman. “Zaman segitu mikirnya mau cari duit jajan tambahan, jadi modalnya pinjam orangtua.” Setelah kuliah Rakhma mengembangkan bisnisnya dengan menyewakan PlayStation 1, “Tapi karena nggak fokus, sibuk kuliah dan main, usaha saya tutup. Yang penting sudah bisa mengembalikan modal ke orangtua,” kenang Rakhma geli.

“Kalau Mas Odi, kata teman-teman kuliahnya pernah punya usaha salon mobil, karena nggak punya tempat dia yang mendatangi pelanggan. Dia juga membuka toko ‘serba lima ribu’ yang sempat ngetren. Sama seperti Coffee Toffee, awalnya juga dimulai dari kecil. Cuma, kita sudah punya mindset bahwa Coffee Toffee ini bukan bisnis main-main seperti dulu. Ini adalah bisnis serius, jadi kita harus total. Ketika Coffee Toffee hampir bangkrut pun kami justru tertantang untuk membuktikan benar-nggaknya pilihan kami ini,” tambahnya.

Bangkit dari kebangkrutan karena nekat

Merasa mereka tidak lagi diterima pasar dan kehilangan kepercayaan para rekan bisnis, Rakhma dan Odi memikirkan strategi baru mengembalikan nama Coffee Toffee karena tak ada pilihan untuk berhenti, apalagi menutup bisnis ini. “Pada saat itu ada salah satu calon investor yang berminat membeli Coffee Toffee, artinya masih ada peluang, kan. Orang lain saja tertarik, masa kita yang dari awal berjuang membesarkan brand ini malah menyerah.”

“Kami sempat kehabisan dana, bahkan untuk membayar karyawan harus dicicil 3 sampai 4 kali. Kami tetap harus berjuang untuk maju, tapi di Surabaya sudah nggak ada peluang karena nama Coffee Toffee sedang nggak baik. Akhirnya kami berlima, saya, suami, dan 3 orang staf, nekat ke Jakarta dan tinggal di kos-kosan yang bisa disewa harian untuk ikut pameran franchise pertama, sekitar awal tahun 2008,” Rakhma menjelaskan masa-masa sulitnya, “Kendalanya orang Jakarta lebih detail dan kritis, jadi mereka pasti menanyakan kantor kami ada di mana, di Jakarta yang sudah ada di mana saja. Lumayan susah waktu itu, untungnya ada 2 investor yang percaya. Itulah batu loncatan kami sampai bisa seperti sekarang ini.”

3 dari 3 halaman

Next

Semua dilakukan berdua…

“Semua dilakukan berdua. Ya, kami jadi satu tim yang kompak,” Rakhma bangga, “Kalau ada yang bertanya apakah Coffee Toffee bisa berjalan kalau nggak ada saya, mungkin jawabannya nggak. Sebaliknya, kalau tanpa Mas Odi juga nggak akan bisa seperti sekarang ini. Jadi, masing-masing punya kontribusi.” Kesuksesan mereka sebagai partner hidup sekaligus rekan bisnis memang patut diacungi jempol. Bahkan, ketika gagal Rakhma mengaku nggak pernah menyesal dengan pilihannya ataupun kehilangan kepercayaan terhadap sang suami. Ia malah tetap yakin akan keberhasilan Coffee Toffee,“Saya tipe yang selalu menyiapkan plan kedua, tapi untuk Coffee Toffee ini saya sama sekali nggak punya plan selain memperjuangkannya. Nggak terpikir sama sekali untuk kembali bekerja kantoran. Mungkin lebih ke keras kepala ketika itu.”

Tapi, Rakhma mengaku rumah tangganya dengan Odi nggak selalu mulus. “Memang suami-istri, dalam kondisi keuangan yang kurang menguntungkan seperti saat itu sangat rawan dengan pertengkaran, itu sudah umum terjadi. Bersyukur kami nggak sempat mengalami yang begitu parah. Kalau ingin berbisnis dengan partner hidup, paling nggak yang harus diingat pertama adalah bisa menghidupi keluarga itu dulu agar hubungan tetap sehat, karena kalau bisnis nggak menghasilkan, hal-hal kecil bisa jadi sangat sensitif,” Rakhma memberi saran.

Kerja sama Rakhma dan Odi pun semakin baik setelah Coffee Toffee perlahan kembali eksis. Rakhma mengaku perbedaan pendapat di antara mereka pasti ada dan bisa kadang sangat sering terjadi karena masing-masing merasa berhak memimpin bisnis. “Tapi, setelah dua tahun berjalan, kami akhirnya ngobrol serius berdua untuk menentukan mana yang jadi tanggung jawab dan hak masing-masing, Rakhma menceritakan pembagian kerja antara dirinya dan Odi, “Istilahnya Coffee Toffee itu ada bagian depan dan belakang. Bagian depan, yang bertanggung jawab terhadap ekspansi, perkembangan bisnisnya, itu Mas Odi. Sedangkan saya memegang bagian belakang, menjaga bisnis tetap eksis. Semua bisnis pasti ingin bertumbuh dan berkembang. Nah, saya yang harus menguatkan pondasinya agar ketika berkembang nggak goyah dan makin kokoh berdiri.”

"Saya nggak bilang jadi pengusaha adalah pilihan hidup yang paling baik karena masing-masing orang punya pilihan sendiri.”

Merasa belum sukses dan masih punya banyak mimpi

Dengan pencapaiannya ini, Rakhma justru merasa harus berjuang lebih keras lagi, “Kalau bicara kesuksesan, saya menilai untuk saat ini memang cukup, tapi belum bisa disebut sukses karena masih banyak yang harus dilakukan di usia Coffee Toffee yang masih begitu muda ini. Tapi saya selalu mensyukuri apa yang sudah saya dapatkan sekarang. Masih banyak sekali hal yang ingin saya capai, kita harus terus maju dan berkembang, kan. Salah satu impian berikutnya, yang paling dekat, adalah mendapat pengakuan secara nasional. Beberapa kalangan sudah mengakui brand kita, tapi belum semua. Itu yang kami perjuangkan sekarang.”

Untuk terus mempertahankan pasar Coffee Toffee, Rakhma dan Odi pun terus melakukan inovasi. Selain menjaga kualitas kopi dan bahan lokal lain yang jadi ciri khasnya, menu-menu pun terus diperbarui. Training berkala untuk para frontliner juga rutin dilakukan untuk meningkatkan pelayanan. Selain itu, demi kenyamanan pelanggan, desain interior Coffee Toffee tak lepas dari perhatian mereka juga sehingga terus diperbarui.

Lakukan 100 persen atau tidak sama sekali

Obrolan ditutup dengan sebuah pesan dari Rakhma, “Kalau ingin berkarier secara profesional atau terjun di dunia bisnis, kuncinya adalah fokus. Lakukan 100 persen atau nggak sama sekali. Saya nggak bilang jadi pengusaha adalah pilihan hidup yang paling baik karena masing-masing orang punya pilihan sendiri.”

Rakhma berkaca pada pengalaman pribadi ketika pilihannya berwirausaha sempat mendapat protes dari kedua orangtuanya yang pekerja profesional. Ayahnya yang seorang dokter sekaligus dosen serta ibunya yang menjadi bidan lebih menginginkan Rakhma menjadi dokter atau bekerja kantoran agar memiliki pendapatan tetap. “Wajar. Saya pun juga ingin anak saya kelak meneruskan usaha ini kalau saya sudah nggak ada. Tapi semua kembali lagi ke pilihan hidup. Saya punya keyakinan, karenanya saya fokus dan menekuni bisnis saya dengan totalitas.” 

Artikel Selanjutnya
Berkenalan Dengan Para Aktivis Kuliner Cantik di Eatphoria
: