Sukses

News & Entertainment

Konsumerisme Kikis Kesadaran Berbangsa, Benarkah?

2 dari 3 halaman

Next

Pernah menyadari hal ini? Tiap pusat perbelanjaan yang menggelar sale akan penuh sesak orang-orang dengan dandanan modis. Ketika urusan politik atau kebijakan pemerintah dinilai merugikan masyarakat, yang terang-terangan melakukan protes cuma dari kalangan bawah atau justru dari kalangan pejabat langsung, sementara lainnya cukup jadi pengamat sambil sesekali ikut mengomentari.

Zaman memang terus berkembang, demikian juga dengan pola pikir masyarakat. Contohnya, ada perubahan kecenderungan di kelas menengah. Sepertinya kelas menengah lebih tertarik tenggelam dalam gaya hidup yang menggambarkan di kelas mana mereka berada ketimbang memedulikan carut-marut kehidupan ekonomi, politik, dan hukum di negara ini.

“Jujur urusan politik memang nggak tertarik ikut campur, ngikutin juga nggak. Mungkin karena sudah terlanjur antipati sama dunia perpolitikan di negara kita. Pilih deh, sekarang lebih mending shoping, senang-senang di mall, atau nonton diskusi politik yang isinya orang-orang yang ngotot dengan argumen masing-masing?” tutur Nike, sekretaris, 25 tahun.

Kelas menengah ikut menjadi saksi kisruh rencana kenaikan BBM, banjir di beberapa daerah, konflik antarsuku dan agama, pejabat-pejabat korupsi, kasus video, juga kasus lainnya yang satu persatu muncul ke publik. Sangat tahu dan sadar akan hal itu—karena kelas menengah adalah penikmat internet dan segala macam informasi—tapi mereka seakan tak peduli dengan tetap sibuk nongkrong di coffee shop, arisan, nonton bermacam acara hiburan, atau mengejar info sale terbaru dan langsung berburu produk fashion, elektronik, sampai kebutuhan rumah tangga. Benar begitu?

Anin, public relation, 24 tahun, berpendapat, “Aku pribadi mengikuti alur lingkunganku. Artinya, enjoy dengan hang out, nongkrong, berburu barang-barang fashion. Bukan berarti nggak peduli sama isu sosial dan politik yang ada. Malah itu jadi bahasanku dan teman-teman saat kumpul. Sejauh ini memang aku, atau teman-temanku, nggak melakukan apa pun karena kita merasa nggak berhak masuk ke zona itu. Ada yang lebih berkompeten menyelesaikannya, ambillah contoh dalam kasus korupsi. Mau berkoar seperti apa pun nggak ada gunanya, kan? Jadi, nggak setuju kalau kita dibilang nggak peduli.”

3 dari 3 halaman

Next

Kalau ada kebijakan-kebijakan negara yang dinilai tak sesuai, juga bencana yang timbul begitu meresahkan, barulah kelas menengah ikut terusik, berlomba mengeluarkan pendapat masing-masing dan bermacam kritikan. Tapi, tak melakukan tindakan apa pun selain berkomentar dan memberikan solusinya. Solusi yang bagus, tapi tak akan sampai ke pihak yang bersangkutan karena cuma didengar sekelompok teman hang out yang menjadikan obrolan itu salah satu topik dari sekian banyak bahasan seru. Setelahnya, siapa peduli. Toh, jadi penonton saja sudah cukup. Selanjutnya, biar negara dan aparat yang bertindak. Ya, pikiran demokratis berbalik mundur, kembali kolot seperti sebelum era reformasi. Apa ini juga benar?

Sementara itu, Pita, 26 tahun, yang merasa sebagai bagian dari kelas menengah mengaku memang nggak menunjukkan kepeduliannya secara ekstrem. “Demo atau protes-protes macam itu buatku justru buang waktu dan tenaga. Kenapa nggak langsung bertindak menanggapi masalah-masalah sosial yang kecil. Contohnya nih ya, mengkritik lewat media sosial. Cari cara kreatif saja. Dulu masalah Prita itu aku ikut mengumpulkan koin lewat media sosial, terus aksi pengumpulan sandal untuk anak SMP yang dituduh mencuri sandal milik anggota Brimob Polda Sulteng juga kulakukan dengan bantuan media sosial. Kita memang penggila gadget dan fashionable, tapi nggak buta sosial. Walaupun mungkin ada yang memang cuek, ya, itu urusan mereka.”

Berdasarkan survei Litbang Kompas Maret-April 2012 lalu, makin tinggi kelas sosial makin tenggelam mereka pada gaya hidup konsumerisme. Kecenderungan itu membuat lupa apa arti demokrasi dan cencerung pasrah pada pemerintah. Mereka terlalu asyik sendiri di dunia mereka sendiri. Padahal, kelas menengah yang terdiri dari ibu rumah tangga, pengusaha, pelajar/mahasiswa, karyawan, pegawai negeri, dan profesi kebanyakan lainnya, adalah kelas terbesar di Indonesia. Beberapa Fimelova sudah mengaku mereka, bukannya nggak peduli, tapi memilah mana yang bisa dan nggak bisa mereka ikut campuri.

Bagaimana denganmu? Kalau mereka hanya sebagian kecil dari yang masih peduli pada kehidupan sosial-politik, kita patut prihatin karena demokrasi makin kehilangan pamor. Semoga sebagian dari kita nggak benar-benar cuma disibukkan dengan gaya hidup konsumtif, lebih peduli pada launch sepatu baru ketimbang isu draf RUU Keadilan Kesetaraan Gender (KKG) yang sempat heboh karena bocor ke publik dan mendapat penolakan dari sejumlah ormas perempuan. Sempat ikut menanggapi? Atau, jangan-jangan bahkan ada yang sama sekali nggak tahu ada isu ini? Hayo!

Loading
Artikel Selanjutnya
Shoesday, I'm in Love!