Sukses

News & Entertainment

Menyiasati Hunian Daerah Tropis Dengan 'Menangkap Angin'

Next

ren1Di sela-sela jadwalnya yang bertambah padat, Ren Katili menyempatkan diri untuk berbincang dengan kami. Laki-laki yang berprofesi sebagai dosen arsitektur di Universitas Bina Nusantara dan juga punya jasa konsultasi arsitektur ini dikenal sebagian orang lewat akun twitternya @arsitektropis. Lewat akun itu pula Ren menyampaikan sebuah kampanye 'hijau' pada banyak orang. Kampanye itu kini semakin luas terdengar. Klien-klien figur publik yang ingin rumahnya didatangi, direnovasi agar bisa lebih dingin, tanpa tergantung dengan pendingin ruangan, atau mengonsumsi listrik kelewat banyak terus bertambah. Hitung-hitung promosi gratis, candanya di tengah-tengah bincang kami.

“Kita tinggal di negara kepulauan yang memang panas. Bahkan tiap pulau itu memiliki tingkat panas yang berbeda-beda,” jelas Ren yang sejak awal tahun ini memutuskan untuk meninggalkan kendaraan roda empatnya di Bandung dan lebih banyak menggunakan angkutan umum selama di Jakarta. Ia dan keluarga kecilnya memang berdomisili di Bandung. ”Saya hanya menggunakan kendaraan saya di Bandung. Untuk mobilitas di Jakarta saya naik Trans Jakarta atau nebeng kendaraan teman kalau tujuan saya searah” ia tersenyum. “Mungkin ini salah satu kontribusi kecil yang saya lakukan untuk mengurangi kemacetan. Saya jujur sudah jengah dengan kemacetan di Jakarta” tambahnya kemudian.

Tentunya sebuah tren yang bukan hanya menarik untuk diamati. Ini harus menjadi sebuah gaya hidup yang segera kita aplikasikan. Ketergantungan dengan pendingin ruangan adalah sebuah fakta menakutkan, sebenarnya. “Intensitas panas, arah angin, semua tempat di Bumi ini memiliki karakternya masing-masing. Kita di Indonesia memiliki curah hujan yang fluktuatif, tidak rata. Tingkat respirasi juga sangat tinggi. Salah satu cara untuk mengatasi panas adalah dengan aliran angin” jelas Ren. “Estetika dan model rumah memang tergantung klien, tapi saya selalu melihat desain rumah dari kondisi iklim yang nantinya harus sesuai dengan desain itu. Tiap rumah harus bisa ‘menangkap angin’ kesalahan letak pada proses pembangunan sangat berpengaruh pada tingkat panas di dalamnya” lanjut Ren yang pernah mendalami arsitektur dan bekerja di Jerman selama sepuluh tahun.

“Orientasi rumah yang mengacu pada tradisi harus kita cermati lagi. Setiap bahan yang akan kita gunakan dalam membangun rumah punya tingkat serap panas yang berbeda, dan sebenarnya itu tidak bisa kita pisahkan” papar Ren yang baru saja menyelesaikan desain untuk sebuah proyek hunian ‘dingin’ di kawasan Depok.”Saya dibebaskan oleh klien untuk membangun sejumlah rumah di kawasan itu, karena kebetulan kita punya visi yang sama. Saya menerapkan konsep yang sedang gencar saya gaungkan ini pada rumah-rumah yang saya bangun untuk mereka” lanjutnya.

Bagi kita yang sudah terbiasa dengan pendingin ruangan pasti akan panik saat listrik tiba-tiba putus. Yang ada mengeluh dan mencari penyelesaian cepat. ‘Mengungsi’ ke pusat perbelanjaan terdekat untuk ngadem. “Konsep ini memang awalnya dipahami oleh sebagian kecil orang. Tarif dasar listrik terus akan naik. Di luar negeri listrik mahal, sementara di Indonesia tarif listrik sangat murah. Jadi kita cenderung manja. Pencet sana, pencet sini, pakai ini, pakai itu. Saat kita mulai terbiasa dengan gaya hidup ini, setiap kali akan mengaktifkan peralatan listrik kita mulai mengkalkulasi penggunaan listrik. Sumber daya terus berkurang, siapa yang tahu akan terjadi lima puluh tahun lagi?” jelas Ren panjang.

Next

 

ren2Ren awalnya bertemu dengan para klien memang melalui twitter. Janji temu diatur. Lalu ia menawarkan konsep sebuah hunian yang lebih mudah menangkap angin tersebut. “ Bila rumah masih bisa direnovasi maka kita akan lakukan  itu. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pendingin ruangan. Kita lebih menekankan penggunaan panel surya sebagai sumber energi. Jadi penggunaan listrik pun bisa dikurangi. Sebenarnya bebas dari PLN itu masih bisa kita kejar.” Di sini terlihat bahwa saat pembangunan sebuah hunian, rencana itu penting. Sebuah rencana yang matang bisa membantu kita untuk mengoptimalkan setiap sudut rumah. “Kesalahan rancang bangun bisa membuat rumah kita panas, seperti apapun kondisinya. Bila memang sudah susah untuk direnovasi kita berusaha mencari celah-celah, atau paling tidak ya kita mengevaluasi jalur angin di rumah itu. Itu yang kita benerin” lanjut Ren lagi.

Intinya adalah mencari titik sumber angin paling banyak di rumah dan jangan menghalangi titik tersebut dari mendatangkan lebih banyak aliran udara ke dalam rumah. “Tidak perlu tukang khusus. Tukang mana saja bisa, asal rencana atau desain rumah cukup jelas. Sekali lagi, estetika diserahkan pada si penghuni, tapi jangan juga lupakan sistem yang akan berlangsung di dalam rumah. Mau tinggal di rumah yang keren, tapi angin nggak bisa masuk?” tanya Ren yang ternyata aktivitasnya semakin banyak mendapatkan respon positif dari banyak pihak itu. Ia ditunjuk menjadi salah satu brand ambassador sebuah produk lampu yang mendukung apa yang ia kerjakan sekarang. Ia juga akan muncul di beberapa program layanan masyarakat demi memperluas penyampaian program ini.

“Energi bisa berputar bila kita mengarahkannya dengan baik pula” jelasnya singkat. Sudah jelas sekarang Fimelova, bahwa kita masih harus meragukan semua konsep hunian yang menekankan konsep hijau hanya dengan menggembar-gemborkan elemen-elemen hijau.”Bila ada perumahan yang mempertahankan pohon-pohon di sekitar area itu bagus. Tapi sekali lagi, fungsi utama dari sebuah pohon jangan sampai bergeser hanya untuk fungsi estetis saja. Laksanakan dan penuhi fungsi utama dari sebuah pohon, baru pikirkan fungsi estetis.“

Dulu banyak yang meragukan apa yang Ren usahakan ini. Banyak yang skeptis dan menganggap konsep yang ditawarkannya terlalu idealis. “Bila ingin mendinginkan ruangan di daerah kita yang tropis ini memang satu-satunya cara adalah dengan angin. Memfokuskan pada lancarnya sirkulasi udara di dalam rumah.” Terlihat seperti sebuah investasi bagus ya untuk masa depan kita dan anak cucu nanti. Terdengar mahal? Tidak juga, bila kita melihat efek ke depannya nanti seperti apa. Pernah membayangkan bisa lepas sepenuhnya dari PLN dan tidak membayar tagihan listrik?

Ren saat ini memang masih sibuk bolak-balik dari Jakarta ke Bandung. Ia masih memiliki banyak proyek yang ia kerjakan. Ia masih memfokuskan kampanye hunian ‘dingin’ yang sangat kami sukai ini. Bahkan ia sedang mengerjakan sebuah proyek yang letaknya sangat dekat dengan kantor kami. Ia pun turut menyampaikan konsep ini pada mahasiswa-mahasiswinya di kampus. Rencana bagus untuk meregenerasikan sebuah visi positif.

Loading