Sukses

News & Entertainment

Menikmati Waktu di Bundaran Hotel Indonesia, Berminat?

Next

bundafran

Image courtesy of Yulian.Firdaus.or.id

Di suatu malam saat pulang dari makan malam bersama teman-teman, saya mengitari putaran Tugu Selamat Datang atau yang lebih dikenal dengan area Bundaran Hotel Indonesia. Pukul sembilan malam lebih, dan kawasan itu terlihat ramai dengan mereka yang (dari mata saya) rasanya cukup menikmati malam mereka. Bersenda gurau, mengambil foto, ngeceng, sampai pacaran.  Dari situlah ide artikel ini hadir. Jakarta memiliki begitu banyak tempat keriaan. Tempat-tempat yang lebih nyaman untuk didatangi bila ingin bersenda gurau. Tempat-tempat yang lebih privat supaya bisa berduaan dengan pasangan. Mengapa mereka lebih memilih ke Bundaran Hotel Indonesia? All people could see you there. Kamu akan ter-ekspos pada siapa saja yang melewati kawasan itu.

“Kalau orang Jakarta asli nggak mungkin mau ke sana” seloroh teman saya saat saya lemparkan topik itu. Banyak yang menyetujui notion ini.  “Bukan masalah latar belakang pendidikan atau apa, tapi Bundaran Hotel Indonesia itu rasanya seperti alun-alun. Jadi kalau di daerah mereka ada yang seperti alun-alun, di mana keramaian biasanya berpusat, nggak heran mereka tertarik untuk kesitu. Kalau mereka memang benar berasal dari luar Jakarta, mengambil foto di Bundaran Hotel Indonesia juga jadi bukti sahih bahwa mereka memang sudah pernah berkunjung ke Jakarta” tambah teman saya itu. Teorinya masuk akal juga.

Jakarta tidak secara spesifik memiliki kawasan yang disebut alun-alun itu. Keramaian tersebar rata di seluruh kawasan Jakarta. Rata-rata juga semua berada di dalam ruangan. Rasanya kita-pun menjadi terbiasa dengan pergi ke tempat-tempat hiburan, makan, dan sebagainya semua yang berada di dalam ruangan. Because we can’t stand the heat, too. “Apa sebenarnya kita yang menjadi terlalu hesitant, atau malu untuk menghabiskan waktu di tempat terbuka yang dilihat banyak orang seperti Bundaran Hotel Indonesia?” respon teman saya yang lain. Pertanyaan yang bagus.

Untuk mengembangkan topik ini, saya sengaja mampir ke Bundaran Hotel Indonesia pada suatu malam. Seperti yang sudah saya duga, selalu ada kerumunan di sana. Jenis-jenis kerumunan yang sama.  “Saya datang dari luar kota. Ini bareng sepupu-sepupu lagi liburan di sini.  Belum pernah ke sini juga, sih” cerita Anton yang saya temui sedang mengambil foto bersama sepupu-sepupunya itu. Teori pertama yang disampaikan teman saya tadi sudah terbukti. “Merasa nyaman nggak nongkrong di sini, dilihat banyak orang?” saya bertanya balik.”Nyaman saja, sih. Nggak ada yang aneh. Di tempat kita biasa saja yang begini. Nggak setiap hari juga, kan kita main di sini.” Another point. Rasa nyaman yang berbeda-beda dari setiap orang.

Saya hampiri kelompok lain yang saya temui di Bundaran Hotel Indonesia malam itu. Mereka kelompok  anak muda yang menenteng kamera SLR di tangannya. “Saya sedang mengambil foto lanskap, kalau di Jakarta ya salah satu tujuan utama pasti Tugu Selamat Datang,” cerita Budi yang datang bersama beberapa temannya. Mereka semua menenteng kamera SLR. “Nyaman, nggak?” Tanya saya kemudian.”Kita sih nyaman-nyaman aja. Orang yang lewat juga tahu kita sedang mengambil gambar” lanjut Budi. Kita nggak akan tahu apakah Budi suatu hari akan jadi fotografer handal dengan bekal latihannya mengambil contoh-contoh foto di Bundaran Hotel Indonesia.

Next

bundaran

Image courtesy of Rumahmimpi.net

Saya juga bertemu dengan sepasang anak muda yang menghabiskan waktu bersama. Mereka memesan minuman dari asongan yang juga berkeliling di Bundaran Hotel Indonesia. Saya pesan segelas kopi sachet di gelas plastik lalu berbincang dengan mereka. “ Ya, nongkrong di sini murah, masuk ke mall juga uangnya nggak ada” jelas Ratna sambil tertawa. “Kita berdua memang suka tempat-tempat terbuka begini.  Sadar diri juga-lah kita mampunya yang seperti apa” timpal Andri, sepertinya kekasih perempuan bernama Ratna ini. Setelah berbincang lebih jauh saya tahu bahwa Andri adalah seorang karyawan di usaha konveksi, sementara Ratna bekerja di sebuah toko di kawasan mall Ambassador, Kuningan.

Selesai dengan Ratna dan Andri, saya pindah ke si pedagang asongan. Namanya Fathur. Asal Purbalingga.”Yang datang ke sini semakin ramai kalau akhir pekan. Jualan saya juga semakin laku. Makanya saya juga sering ngider di sini” cerita Fathur yang selalu berjualan bersama sepedanya yang sudah di-customize supaya semua dagangannya bisa tertata rapi di sepeda. “Yang biasanya ke sini ya orang-orang dari luar kota, mahasiswa, atau mereka yang katanya mencari foto. Kadang ada yang jauh-jauh jalan dari Tangerang, Bekasi, mainnya ke sini. Nggak tahu deh. Kalau saya kan jualan” jelas Fathur.

Terlalu dini untuk berasumsi bahwa nggak ada warga Jakarta asli atau orang-orang seperti Fimelova yang mungkin mau melihat seperti apa rasanya menghabiskan waktu di Bundaran Hotel Indonesia. After all, it’s a famous landmark, kan? Kalau memang patokannya adalah teori alun-alun tadi, ya nggak heran selalu banyak yang ingin mengunjungi tempat ini. Terlepas dari banyaknya kendaraan yang berlalu lalang, polusi, sampai pandangan orang-orang yang melintas. Would you try the experience?

;
Loading