Sukses

News & Entertainment

Pak Raden, Perjuangan Seorang Legenda Untuk Hak Intelektualnya

2 dari 3 halaman

Next

Rden1Ia tak menikah, tak memiliki keturunan. Rumahnya di kawasan Barat Jakarta cenderung sempit dan dipenuhi semua karya-karya yang ia buat. Ia tinggal dengan dua orang ‘pengasuh’ yang hingga kini setia menemani, bahkan saat ia sudah sepertiga langkah didukung kursi roda dan tongkat.  

Di usianya yang November nanti akan menginjak 80 tahun, wajar tentunya bila ia sudah tak segesit dulu lagi. Drs Suyadi dengan beskap, kumis iconic, serta blangkon, dan suaranya yang khas lebih dikenal siapapun sebagai Pak Raden. Sebuah karakter yang muncul di drama seri “Si Unyil”  yang semua karakternya adalah boneka. Tayangan yang populer di kalangan anak-anak era itu mulai tayang sejak 1981 hingga sepuluh tahun berikutnya.

Pak Raden dan Unyil muncul kembali bersama-sama di sebuah program untuk anak-anak. Dulu di TVRI, Unyil dan Pak Raden kini milik sebuah televisi swasta yang mengemas paket hiburan itu menjadi lebih edukatif. Pendekatan pada teknologi, ilmu pengetahuan, dan budaya disampaikan oleh Unyil modern ini. Berbeda dengan Unyil terdahulu yang lebih menekankan cerita kehidupan sehari-hari untuk membawakan pesan-pesan moral pada para penontonnya.

Kami mengunjungi Pak Raden saat ia hadir di tengah-tengah pameran tunggalnya. Sebuah pameran sederhana, begitu kesan kami, di lobby Art Cinema Jurusan Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Pameran itu memajang beberapa sketsa dan lukisan Pak Raden yang memang lebih pantas menjadi collector’s items. Dengan gaya yang menurut Pak Raden sendiri disebut ‘figuratif naratif’ itu goresan-goresan beliau memang menyampaikan cerita tersendiri. Gurat-gurat karakter yang ramah, membawakan kisah.

Dengan kondisinya yang sekarang, kita tak bisa memungkiri iba yang muncul begitu saja. Melihat perjuangannya saat ini dan keinginannya untuk terus berkarya, betapa kecil penghargaan untuk sebuah kecerdasan intelektual. Pak Raden menciptakan sebelas karakter yang dekat di hati kita dalam serial “Si Unyil” di era 1980an. Dan ia tak mendapatkan royalti apapun dari karakter-karakter itu.

Puluhan tahun melakukan hal ini. Tidak capek, Pak Raden? Tanya kami. “Inilah hidup, ini perjalanan hidup. Dilakoni saja. Walaupun saya nggak segesit dulu lagi. Sekarang nggak bisa loncat-loncat,” jelas Pak Raden yang diawal pertemuan memang berpesan agar ia tidak lama-lama diajak bicara. Sebelum kami ajak bicara Pak Raden baru merampungkan dua sesi bercerita pada dua puluhan lebih anak kecil yang antusias melihatnya bercerita lewat beberapa boneka tangan. Tidak kelihatan usia yang memakan geraknya.

3 dari 3 halaman

Next

 

Raden2“Banyak cita-cita yang belum kesampaian, tapi ada beberapa yang sudah dijalani. Mensyukuri apa saja yang sudah didapat. Fisik saya memang sudah tidak bisa seperti dulu. Kalau tidak dituntun ya saya jalannya pelan sekali, kalau jauh baru saya menggunakan kursi roda,” tambahnya.

Bila Unyil sudah menghilang, maka Pak Raden juga akan menghilang. Begitu pendapat Suyadi akan karakter yang membuatnya dikenal banyak orang. Meski kami yakin bahwa bila suatu saat program anak-anak yang membuatnya harus melakukan rekaman setiap hari di sebuah stasiun televisi swasta itu berakhir, Pak Raden akan tetap muncul di ajang-ajang di mana pencerita untuk anak-anak diperlukan. Di usianya yang sudah senja, Suyadi selalu hadir dalam wujud Pak Raden di acara-acara yang memintanya untuk bercerita pada anak-anak.

“Orang Indonesia itu kreatif semua, bila Unyil tidak muncul lagi, Pak Raden juga sudah nggak ada akan tetap banyak karakter-karakter baru muncul. Jangan mengharapkan saya saja, ” lanjut Suyadi. Dari nada bicaranya Suyadi mengharapkan agar kita tidak sedih bila suatu saat memang Unyil dan Pak Raden tidak muncul lagi.

Suyadi yang juga adalah lulusan seni rupa ITB ini berharap agar sesudah dirinya semakin banyak yang lebih perhatian pada dunia bercerita seperti yang ia tekuni hingga kini. Perlu diketahui bahwa ia termasuk pionir dalam mengembangkan dunia animasi nasional. Di tahun 1975 Suyadi membuat film animasi berjudul “Timun Mas.” Film ini selesai digarap tahun 1984 dan mengalami restorasi sehingga bisa kembali diputar di pembukaan dan penutupan pameran tunggal Pak Raden yang berakhir 20 Juli yang lalu.

“Pak Raden muncul karena saat kita menyusun program anak-anak ini kita berpikir mustahil untuk menghadirkan semua karakter yang baik-baik saja. Harus ada karakter yang memberikan elemen antagonis. Untuk menyeimbangkan sifat bandel Pak Raden, kita kemudian menjadikan Pak Raden cinta dengan kesenian. Senang melukis, nembang. Jadi anak-anak bisa tetap melihat sisi positif dari karakter ini,” jelas Suyadi tentang kelahiran karakter yang kemudian melekat dengan dirinya tersebut.

Melekat dengan karakter yang cinta kesenian tentunya bukan hal yang susah untuk Suyadi. Menjadi pencerita memang sudah hidupnya. Ia juga mendalang, mampu berkarawitan, dan pernah menjadi penari. Saat ini biografi tentang kehidupan Pak Raden sedang dalam penyusunan. Diharapkan dengan biografi ini nantinya kita lebih mengenal sosok Suyadi yang berpuluh tahun bercerita lewat wujud Pak Raden.  Tetap sehat Pak Raden, perjuangan belum selesai.

Loading
Artikel Selanjutnya
Dipuaskan vs Memuaskan Saat Bercinta
Artikel Selanjutnya
Gubernur Seperti Apa Yang Cocok Untuk Perempuan di Jakarta?