Sukses

News & Entertainment

Pemain Drama Musikal, Mengejar Hidup dari Panggung ke Panggung

Onrop musical scenes

Image courtesy of hujandiatasmeja.blogspot.com

Dalam beberapa waktu kedepan akan ada setidaknya tiga pementasan musikal. Ada satu drama musikal yang beberapa tahun lalu sempat pentas, akan dipentaskan ulang. Sisanya menawarkan konsep dan cerita yang baru.

Sebuah judul musikal akan melalui masa persiapan selama berbulan-bulan, sampai akhirnya tirai dibuka bagi penonton. Selama berbulan-bulan pula, mereka yang terlibat di dalamnya akan memusatkan tenaga dan pikiran untuk pementasan tersebut. Tidak ada kantor, atau meja kerja. Biasanya, gedung kesenian atau hall besar tempat latihan diadakan. Melewati ribuan jam latihan yang amat panjang, lebih melelahkan (kadang) dari mereka yang bekerja di jam kerja pasti dan berangkat ke gedung perkantoran yang pasti pula.

It’s an alternative way of life, pastinya. Karena bagi mereka yang menyukai sesuatu yang pasti-pasti saja, maka berkesenian, menyambung hidup sambil memuaskan asa di atas panggung tidak jelas sifatnya. “Belum ada industri khusus yang mengakomodir seni pementasan seperti ini,” ujar Joko Anwar, sutradara film yang juga pernah menggarap pentas musikal “Onrop.”

Nggak heran, para pekerja seni akhirnya harus inisiatif sendiri mengejar satu panggung ke panggung lain. Menawarkan bakat, mencari celah di mana pekerjaan berikutnya bisa di-book.

Kami berbicara dengan Reggie, seorang pekerja seni yang juga membagi aktivitas kesehariannya ke beberapa pekerjaan lain. “Sebagian besar karena memang panggilan hati, karena kita benar-benar menyenanginya.” Reggie yang juga aktif di paduan suara dan seorang teknisi IT itu sedang bergabung dengan proyek “Buto Musikal” yang segera dipentaskan Juni nanti.  Dari Reggie kami menangkap bahwa sebenarnya pindah dari panggung ke panggung drama musikal belum tentu pemasukan minim. “Setahu saya, artis-artis besar yang sudah sering bergabung di proyek musikal juga punya rate cukup tinggi. Jadi meski hidup mereka hanya berkutat dari satu panggung musikal ke musikal lain, income-nya besar kok,” tutup Reggie.

“Saat menyaring pemain kita harus memastikan bahwa mereka bisa memenuhi jadwal latihan. Para pemain kita waktu itu juga memiliki pekerjaan lain, selain mempersiapkan musikal. Ada pemain kita yang bekerja di bank, belum lagi banyak anak sekolah,” cerita Lolita Malaihollo yang sempat menjadi production team untuk musikal sukses “Laskar Pelangi.” “Rata-rata memang yang akhirnya total mengurus persiapan pentas adalah mereka yang hidupnya juga hanya fokus di kesenian,” tambah Lolita lagi. Pegawai Bank yang diceritakan Lolita bergabung dengan proyek “Laskar Pelangi” hanya bisa ikut latihan setelah jam kantor dan di akhir pekan.

“Tapi mereka yang berproses bersama kami waktu itu sekarang sudah sangat terlatih. Dengan pengalaman yang ada, beberapa pemain kami waktu itu sekarang hidupnya bisa pindah dari satu produksi musikal ke produksi lainnya,” papar Lolita lagi. “Tidak apa-apa, asalkan di tiap pementasan mereka mampu jadi bunglon dan hadirkan karakter kuat yang berbed,” lanjutnya. Toh, jelas Lolita kemudian, produksi-produksi musikal sesudahnya pasti akan mencari mereka yang sudah berpengalaman. Nggak heran, wajah-wajah familiar akan terlihat berpindah dari satu produksi ke produksi lain.

Kami juga berbincang dengan Leah. Perempuan muda yang memfokuskan hidupnya menjadi penari ini beberapa kali kami temui menari untuk corporate event, acara hiburan, dan ia juga menjadi penari bagi seorang musisi terkenal tanah air. Saat ini Leah juga sedang bergabung dengan sebuah produksi musikal. “Benar-benar mendominasi aktivitasku, jadi untuk menari di kesempatan lain harus aku kurangi,” jelas perempuan yang memiliki banyak tato di tubuhnya ini. Leah mengaku ia menjalani latihan berjam-jam setiap hari untuk persiapan musikal tersebut. “Kalau punya pacar nggak pengertian, jangan-jangan bisa putus,” canda Leah kemudian. Leah bercerita lagi, bahwa keterlibatannya musikal yang sekarang karena ditawarkan oleh produksi yang bersangkutan. Jelas bahwa keterlibatan Leah di produksi lain, dan pengalaman panjangnya sebagai penari membuatnya mudah mendapat tawaran seperti ini.

Tidak seperti di sini, musical production di luar negeri sudah ditangani perusahaan-perusahaan berpengalaman. Yang memang menghasilkan pementasan-pementasan musikal ini secara reguler, dengan pekerja-pekerja yang reguler pula. Saat ini, barangkali baru kelompok pementasan Cirque du Soleil yang baru menyediakan jenjang karir bagi para penampil mereka. Karena kelompok ini sadar bahwa mereka-mereka yang selalu ada di panggung di tahap tertentu merasa harus meninggalkan panggung itu sendiri. Bila tidak ada perkembangan di sana. Rampungnya sebuah pementasan, maka saatnya move on. Bagaimana menjaga agar para seniman ini betah? Sediakan celah untuk progress yang jelas.

Setiap profesi butuh fokus dan komitmen. Termasuk saat kita memilih untuk hidup di dunia seni. Bidang pekerjaan yang tidak dipahami banyak orang. Dengan tidak adanya pengayoman yang resmi dari pemerintah, seniman di tanah air tumbuh dan hidup sendiri. Berjuang sendiri.

;
Loading