Sukses

News & Entertainment

Hangout: Jatuh Cinta dengan Kopi Tanpa Gula Bergaya Australia

Next

Blacklisted Coffee

Kedatangan pertama ke coffee joint baru di kawasan Pondok Indah ini berawal dari ajakan seorang teman. Tidak berharap apa-apa, kami pun datang ke kawasan Street Gallery di kompleks Pondok Indah Mall itu. Sudah begitu banyak coffee shop bermunculan di Jakarta. Masing-masing punya idealisme dan pengalaman yang mereka tawarkan. Jadi kami tidak berharap banyak. Ini akan jadi pengalaman minum kopi biasa lainnya. Sampai kami berpikir, mungkin besok-besok kami ingin membuat kompilasi dari semua coffee shop yang sudah kami datangi dan membuat ‘coffee map.’

Pertama kami datang, kami sudah menyukai bagian depan coffee shop bernama ‘Blacklisted Coffee’ itu. Ada pintu besar warna hitam yang seperti hanya menempel di bagian depan. Konstruksinya mirip kotak telepon umum warna merah dari Inggris yang terkenal itu.  Sisi kiri dibiarkan los, lantai dibangun mirip trotoar, sementara dinding adalah hamparan bata bercat putih. Pilihan furniture dan aksen-aksen vintage terlihat di sana-sini, khususnya tempat sendok garpu yang mengingatkan pada Capmbell’s Soup karya Andy Warhol yang terkenal itu.

 

 

Next

 

Blacklisted Coffee

Dan mungkin kedengarannya dangkal, tapi dominasi warna hitam dan kuning di seluruh sisi coffee shop yang sebenarnya pertama kali membuka toko mereka di kawasan Puri Indah setahun yang lalu itu membuatnya sangat chic. It’s a good thing, sebuah coffee shop bisa melekatkan identitas mereka dengan warna. It’s good for their customers, it’s good for promotions. Karena warna hijau sudah diambil oleh coffee shop lain.

Nama ‘Blacklisted’ sendiri diambil dari sebuah kejadian di tahun 1675, di mana kopi dianggap tabu di Inggris. Bukan apa-apa, saat itu menjelang abad pencerahan, coffee shop menjadi tempat favorit orang-orang pergerakan untuk bertemu dan membicarakan isu-isu keagamaan dan politik. Hal tersebut sensitif dan dianggap ancaman oleh pemerintahan yang status quo.

 

Next

 

Blacklisted Coffee

Kami bertemu dengan Dendy Sjahada, director, yang menjelaskan bahwa biji-biji kopi di tempat mereka mengikuti roasting formula dari juri kompetisi Barista internasional, Saxon Wright. Berbeda dengan coffee shop lain yang memanggang biji kopi mereka sampai hitam, maka Blacklisted cukup berhenti di gradasi coklat yang mereka butuhkan. Dengan warna coklat itulah, rasa manis alami kopi masih bisa dirasakan di tiap minuman yang mereka sajikan. Which is good and which was what we tasted.

Segelas cappuccino, dengan presentasi sederhana. Di dalam cup hitam, berhias kuning. Busa lembut namun kental konsisten di atas kopi. Tidak percaya dengan lidah, tapi cappuccino tanpa gula itu memang meninggalkan kesan manis yang begitu halus. Itu bukan manis karena gula. That was the coffee. Segelas cappuccino itu kami nikmati dengan gigitan besar di Blacklisted burger mereka yang khas. Bun roti mereka dibuat hitam, dengan tinta squid. No worries. Tidak ada kesan amis pasti. Lelehan keju, daging melimpah. Presentasinya juga sederhana, tapi ini salah satu burger paling besar yang pernah kami temui. Beef bacon menyelip di antara potongan daging. Menu sempurna untuk akhir pekan nanti.

Next

 

Blacklisted Coffee

Dendy juga menyampaikan bahwa presentasi mereka memang terpengaruh gaya Australia. Hidangan di sana menggabungkan pengaruh Amerika, Italia, dan beberapa selections makanan Indonesia. Kehadiran soto dan ayam rica-rica jadi buktinya. Cukup eklektik. Semua penggugah rasa yang enak itu, surprisingly tidak begitu mahal. Daya tarik yang bisa mengumpulkan fans-fans setia untuk terus kembali. Pembukaan outlet terbaru di kawasan Pondok Indah itu, berbarengan dengan outlet satu lagi di kawasan Mega Kuningan. Keputusan yang bagus, mengingat outlet pertama mereka di kawasan Puri Indah tentu bukan kawasan nongkrong favorit. It’s far.

Pelanggan juga bisa mendapat seleksi pastry yang dipanggang di tempat. Semuanya adalah buatan mereka sendiri. Sampai lemon water yang bisa kita lihat di sudut meja bar mereka yang rendah. Blacklisted coffee di Street Gallery, Pondok Indah Mall ini tidak begitu besar. Sama seperti outlet pertama mereka yang jauh itu. But it was surprisingly comfy. Plus, mereka baru saja menjadi runner up coffee shop terbaik di Jakarta versi sebuah majalah gaya hidup. Itu alasan lain lagi untuk kembali.

Loading