Sukses

News & Entertainment

Menjadi Perupa Perempuan di Indonesia Menurut Renjani Damais-Arifin

Next

Renjani Damais -Arifin

Jakarta Pertama kali kami berkenalan dengan perupa perempuan satu ini saat ia bergabung dengan sebuah pameran kolektif di kawasan Kuningan, paruh akhir tahun lalu. Berkonsentrasi sebagai pematung, ia justru sedang mulai kembali asik dengan seni lukis.

�Saya baru mulai lagi. Melukis memang belajar sendiri karena memang saya memulai eksplorasi di dua dimensi. Saya lalu masuk IKJ karena merasa ingin memulai eksplorasi lebih luas. Mentok di dua dimensi, ada ide-ide yang harus saya sampaikan lewat medium 3 dimensi,� papar Renjani yang juga orangtua tunggal dari seorang anak laki-laki kecil, yang saat itu tidak terlihat di sekitar kami.

Renjani mengaku ia baru pindah di kediamannya sekarang kurang lebih beberapa bulan. Sebuah paviliun di kawasan Wisma Subud, Fatmawati, yang begitu tenang, bahkan nampak begitu nyaman dan mampu membangkitkan inspirasi seni. Interior yang begitu retro, dengan dinding semen putih serta elemen-elemen kayu, membuat kami tidak percaya kami saat itu berada di Jakarta.

�Saya sudah lama mengetahui lokasi ini, tapi setelah pindah ke sini baru merasakan sekali nyamannya komplek ini,� lanjut Renjani.

Next

Renjani Damais -Arifin

Kembali ke kebiasannya melukis.

�Dulu sih seniman, sekarang perupa�istilah gaulnya�hanya fokus di bidang tertentu. Tapi, sekarang rasanya nggak cukup ya hanya fokus di bidang itu-itu saja. Karena sebagai perupa, kita bisa bikin apapun, meski akarnya ya sama saja, seni murni. Makanya, saya juga merasa bebas-bebas saja untuk berekspresi di media yang saya inginkan. Saya juga sempat membuat karya fotografi, meskipun saya bukan fotografer, kan..�

Next

Renjani Damais -Arifin

Masuk IKJ tahun 1998 dan pertama kali berpameran tahun 1999, perupa yang berjiwa bebas ini, sempat vakum dari dunia karya seni saat ia memutuskan pindah ke Bali dan berkeluarga di sana.

Ia kembali lagi berkarya sejak 2011 lalu.

�Saya akui saya kurang produktif. Ingin jadi lebih produktif, ya pastilah. Tapi, itu semua selalu subjektif bagi setiap perupa. Ada yang sudah bisa memetakan apa saja yang akan mereka buat dalam sekali periode, tapi ada juga sering membuat karya, tapi belum menemukan celahnya di pasar,� cerita Renjani, yang membandingkan atmosfir kehidupan dan dinamika industri karya seni di Jakarta dan Yogyakarta yang cukup berbeda jauh.

Next

Renjani Damais -Arifin

“Saat ini, boleh dibilang kehidupan perupa di Yogyakarta lebih dinamis, galeri dan kolektor benar-benar mengejar karya-karya baru teman-teman seprofesi saya ini. Bahkan, ada yang jam 7 pagi, galerinya disamperin hanya untuk mencari tahu karya apa yang mereka sudah buat. Karya yang belum selesai saja sudah dibeli,” ujarnya, cerita yang mungkin mampu menginspirasi sebagian perupa di Jakarta untuk pindah ke Yogyakarta.

Next

Renjani Damais -Arifin

Ada baiknya, ada buruknya. �Di satu titik, kita merasa apapun yang kita buat pasti laku sepertinya itu nggak baik juga,� tambah Renjani yang mengaku sedang mempersiapkan pameran kolaborasi di kwartal ketiga 2014 ini, bersama seorang perupa perempuan lain yang namanya sudah cukup besar di Tanah Air.

�Saya ingin jadi produktif, pasti. Tapi, dengan menjadi orangtua tunggal, pengaturan biaya dan segala macam, tentu banyak yang harus saya pertimbangkan saat ingin berkarya,� papar perempuan yang selalu mengambil peristiwa-peristiwa di sekeliling hidupnya sebagai inspirasi dari banyak karya-karyanya. Seperti sebuah karya resin yang ditaruh di atas sebuah lemari kayu di belakang kami, saat wawancara ini berlangsung.

Next

Renjani Damais -Arifin

Posisinya sebagai orangtua tunggal juga berpengaruh dengan ritme kerja. Ia kadang harus berangkat ke Yogyakarta, �numpang� bekerja di studio seorang teman perupa di sana selama 4 hari, atau di studio Ibu Dolorosa Sinaga (salah satu dari sedikit perupa perempuan Nasional, juga dosen IKJ, karya-karyanya sudah diakui secara global dan berada di beberapa lokasi prestisius, seperti gedung IMF, Washington DC dan Bank Indonesia) � dan nggak bisa berlama-lama.

�Saya juga punya anak, kan, nggak bisa pergi berminggu-minggu.�

Itu yang membawa kami ke pertanyaan berikutnya, semenguntungkan apakah jadi perupa di Tanah Air? �Tergantung orangnya. Kalau karya mereka cukup disukai pasti menguntungkan buat mereka. Kasusnya lain-lain, karena seperti teman-teman saya di Yogyakarta, mereka adalah perupa full time. Sementara di Jakarta, perupa-perupa di sini rata-rata punya pekerjaan lain lagi.�

Next

Renjani Damais -Arifin

“Perupa perempuan di Indonesia belum banyak, apalagi pematung. Harusnya, untuk orang-orang seperti saya, bisa jadi motivasi tersendiri untuk rajin berkarya,” tambah Renjani yang seusai wawancara 30 menit itu kemudian kami minta berpose di depan kamera fotografer kami, Windy Sucipto.

Dia mengenakan gaun terusan hitam dengan kaos kaki polkadot. “Enaknya jadi perupa, kamu nggak terikat oleh jam kerja, nggak kena macet di jam-jam berangkat kantor, dan bebas jadi apapun yang kamu suka. Menghindari kemunafikan juga, karena kamu jadi diri sendiri” kelakarnya.

“Kesempatan perempuan untuk jadi perupa dan berkarya di Indonesia lebih besar, semua tergantung kita,” timpal Renjani yang memfavoritkan karya perupa-perupa lokal seperti Awan Simatupang, S. Teddy dan Dolorosa Sinaga.

Nampaknya memang, bila punya sikap terlalu peduli dengan apa yang orang lain pikirkan, susah untuk jadi perupa. Karena perupa, menurut Renjani rata-rata sama, tidak peduli dengan anggapan orang lain. “Nggak ada tuntutan, tapi di lain pihak itu jadi bumerang karena tidak ada yang mengingatkan kita serajin apa kita harusnya berkarya, kan?”

Loading