Sukses

Entertainment

Eksklusif Vino G. Bastian, Kenangan, Harapan dan Makna 212 Wiro Sableng

Fimela.com, Jakarta Wiro Sableng memang termasuk film Indonesia paling ditunggu di tahun ini. Sejak diumumkan pertama kali akan diproduksi di tahun lalu, film yang dibintangi Vino G. Bastian ini memang sudah mengundang rasa penasaran.

***

Film produksi Lifelike Pictures dan 20th Century Fox ini memang mendapat publikasi dan promosi luas. Bahkan sosok Wiro Sableng sempat muncul sejenak di trailer film Deadpool 2 yang diproduksi 20th Century Fox. Tak heran kalau di hari pertama penayangannya, 30 Agustus 2018, film yang disutradarai Angga Dwimas Sasongko ini sudah berhasil menjaring 187 ribu penonton dan mendapat banyak pujian.

Setelah lebih dari sepekan pemutarannya Wiro Sableng sudah meraih satu juta penonton. Film Wiro Sableng sendiri merupakan adaptasi dari buku berjudul sama karya mendiang Bastian Tito, yang merupakan ayah dari Vino G. Bastian. Wiro Sableng pernah dibuatkan versi sinetron di era 90-an yang cukup sukses.

Namun siapa sangka, Vino yang merupakan salah satu pewaris hak cipta karakter Wiro Sableng, awalnya enggan terlibat langsung sebagai pemain, apalagi pemeran utama. Pria berusia 36 tahun ini, mengatakan pada awalnya hanya ingin melestarikan karya ayahnya yang salah satunya kembali diangkat dalam bentuk film layar lebar.

Tapi akhirnya Vino pun mengiyakan tawaran untuk memerankan tokoh Wiro Sableng. Menurut Vino, setidaknya dengan memerankan karakter Wiro Sableng, ia bisa memberi banyak andil untuk melestarikan karya ayahnya.

“Setelah melihat cuplikan hasilnya, wuah Alhamdulillah banget. Mereka yang terlibat di film semuanya memberikan yang maksimal. Kalau saya nggak ambil mungkin saya akan rugi dan menyesal,” kata suami dari Marsha Timothy ini, saat ditemui di kantor Lifelike Pictures di kawasan Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Tentu ini sesuatu yang menarik dan jarang ditemui. Tak banyak yang bisa seperti Vino G. Bastian, memerankan karakter fiktif yang sangat terkenal hasil karangan ayahnya sendiri di film layar lebar. Hasilnya ternyata cukup bagus dan tidak hanya diminati para penyuka bukunya tapi juga menciptakan generas baru penggemar Wiro Sableng.

Apa tanggapan Vino dan keluarga saat Wiro Sableng diputuskan dibuat film layar lebar? Apa yang membuat Vino G. Bastian sempat menolak memerankan Wiro Sableng meski akhirnya bersedia? Apa saja kenangan Vino G. Bastian tentang mendiang ayahnya dengan Wiro Sableng?. Simak hasil wawancaranya berikut ini.

Kenangan dan Adaptasi Wiro Sableng

Tak banyak yang bisa mendapat pengalaman seperti Vino G. Bastian. Ayahnya adalah pencipta tokoh dan cerita Wiro Sableng, Saat dewasa, Vino memerankan karakter Wiro Sableng di film layar lebar. Lalu pengalaman apa saja yang diingat Vino saat masih kecil serta pengalamannya tentang Wiro Sableng.

Bagaimana sambutan terhadap film Wiro Sableng sejauh ini?

Sambutannya cukup beragam ya, sebagian besar responnya positif terutama buat anak-anak karena mereka kayak baru tahu ternyata Indonesia ada superhero yang ngak kalah dengan superhero yang mereka sering tonton dan baca komiknya. Ya Wiro memang pendekar tapi bisa dibilang superhero juga. Wiro Sableng ini jadi menemukan pintu baru dan sambutannya luar biasa ketika anak kecil datang memakai baju Wiro itu yang nggak terbayarkan sih.

Kesan yang paling bereksan selama mengikuti nonton bareng di berbagai daerah?

Hal yang paling berkesan mungkin saat melihat anak-anak kecil datang dengan pakai baju Wiro dan sambutan mereka luar biasa antusias. Dan ternyata nggak cuma anak laki-laki, anak perempuan juga dan memang di Wiro Sableng kan ada tokoh pendekar perempuan juga. Lalu waktu meet and greet, banyak juga yang datang membawa buku Wiro, mereka bilang suka baca bukunya. Itu menjadi satu kenangan yang luar biasa soalnya mereka masih menyimpan buku itu meski sudah usang

Apa kenangan kamu tentang Wiro Sableng dan mendiang ayah kamu?

Almarhum ayah saja dia kan termasuk jurnalis. Jadi saat dia mau membuat buku Wiro Sableng, dia bikin riset dulu. Waktu masih kecil, kita tahunya diajak jalan-jalan ke berbagai daerah, padahal dia sekalian melakukan riset.

Sepert apa risetnya?

Misalnya ke candi-candi di pulau Jawan, dia meriset soal candinya, kalau kita anak-anaknya menikmati pemandangannya. Terus ke kampung-kampung untuk mencari perguruan silat, dia bisa ngobrol lama sama pendiri perguruan maupun pesilat-pesilatnya untuk menambah referensi jurus jurus di buku Wiro Sableng. Imajinasinya dia (alm.Bastian Tito) saya akuin sangat luar biasa. Bikin cerita fiktif tapi dia ambil bahan-bahan yang sebenarnya ada di Indonesia.

Jadi waktu diajak jalan-jalan, belum tahu ayah mau membuat riset?

Belum tahu, tapi kalau dia (alm.Bastian Tito) mau membuat buku Wiro Sableng sudah tahu karena dia suka menceritakan Wiro Sableng. Pas sudah besar baru baca-baca bukunya karena saya sering banget dibilang anaknya Pak Bastian dan mereka suka banget baca buku ayah saya. Jadi saya penasaran baca-baca dan ternyata menarik.

Apa yang paling kamu ingat tentang Wiro Sableng saat masih kecil?

Yang menarik setiap ayah saya mau membuat karakter baru, dia mendongeng terlebih dahulu kepada kami anak-anaknya. Kalau Wiro ceritanya kalah, kita pada protes, hahaha. Setelah itu saya baru sadar kalau itu memang konsep Bastian Tito.

Wiro Sableng dibuat sebagai superhero tapi juga sebagai manusia biasa, dan sering kalah dalam pertempuran. Tapi dia bisa bangkit dengan mempelajari ilmu lain untuk mengalahkan penjahat yang pernah mengalahkannya. Jadi Wiro bukan tiba-tiba menjadi hebat, tapi butuh perjuangan dan proses sama tak pernah berhenti belajar.

Ada pesan khusus dari ayah kamu?

Pesan khusus nggak ada. Tapi kakak saya pernah bilang kenapa kita menjaga banget Wiro Sableng karena dulu almarhum pernah bilang kalau mau Wiro Sableng ingin diadaptasi lagi mau dalam bentuk apapun, tolong dikembalikan lagi ke bukunya, karakternya yang harus dikembalikan lagi. Jangan terlalu berlebihan, jangan terlalu jauh dari buku, dan itu yang saya sampaikan ke Lifelike Pictures. Dan ternyata visi kita sama membalikan karakter ke bukunya dan mengangkat ke level yang lebih tinggi lagi.

Jadi ide membuat film Wiro Sableng datang dari siapa?

Waktu Lifelike Pictures membuat film Tabula Rasa, dan saya ikut bergabung sebagai asisten produser, Sheila bilang mau membuat film yang berbeda. Dia mau bikin film aksi yang beda, ya film aksi fantasi. Kebetulan keluarga saya punya buku Wiro Sableng ini. Saya tawarin dan coba baca dulu bukunya, dan ternyata dia mau setelah melalui sejumlah pertimbangan.

Bagaimana dengan ceritanya, buku Wiro Sableng jumlahnya kan banyak?

Saya rasa pilihan yang sangat tepat untuk membuat film pertama Wiro ini mengenalkan sosok Wiro terlebih dahulu. Karena banyak yang belum tahu, akhirnya kami bikin film Wiro Sableng ini sesuai dengan buku tapi dengan story line yang baru.

Kenapa kamu pernah menolak sebelum kemudian bersedia memerankan Wiro Sableng?

Saya menolak karena nggak ada keharusan mesti keluarga yang main. Saya rasa banyak juga aktor yang pengin memerankan Wiro Sableng. Tapi setelah saya lihat dari Lifelike Pictures yang melakukan riset, dan bekerja keras untuk membuat Wiro Sableng, saya jadi berpikir kenapa saya sebagai keluarga nggak mau berkontribusi. Akhirnya saya mau bergabung dengan syarat saya dipisahkan sebagai anak dari Bastian Tito dan sebagai aktor.

Apa saja persiapan memerankan karakter Wiro Sableng?

Yang pasti saya juga harus melalui proses kasting. Yang jadi concern utama saya, yaitu saya nggak menguasai ilmu bela diri terutama pencak silat. Saya lebih menguasai Muay Thai dan Boxing. Makanya, selama enam bulan saya digembleng sama kang Yayan Ruhian. Ya, memang sulit untuk memahami semua gerakan silat tapi paling tidak ini adalah usaha saya yang terbaik yang saya lakukan, dan yang penting rasa silatnya nggak hilang.

Selain belajar silat, apa lagi persiapannya?

Latihan silat selama enam bulan itu betul betul total. Di bulan pertama itu kita cuma latihan fisik. Lalu baru belajar basic posisi silat dan kuda-kuda, baru masuk ke koreo. Makanya berat badan juga mesti dijaga. Bukan hanya latihan fisik dan silat, tapi juga diselingi sama latihan akting buat lebih mendalami karakter dan kita dilatih sama mas Yayu Unru yang juga ikut bermain di sini.

Ada pantangan makanan untuk menjaga bentuk badan?

Nggak ada, tapi berat tubuhnya saja yang harus diturunin, karena sosok Wiro bukan yang kekar tapi agak kurus dan memang untuk menjaga itu sangat susah, harus menjaga pola makan terutama mengurangi karbohidrat. Masalahnya, pas syuting udaranya sering dingin jadi banyak makan. Untung ada tim khususnya yang selalu memantau, jadi kalau mulai gemuk langsung dihajar dengan olahraga, beda dengan karakter Bujang Gila Tapak Sakti yang justru harus banyak makan karena nggak boleh kurus, hahaha.

Ini termasuk film yang melelahkan di antara film kamu yang lain?

Melelahkan iya, tapi paling menyenangkan juga. Karena suasana syutingnya seru banget dan timnya solid banget. Pas filmnya keluar mendapat tanggapan positif dari kritikus film yang bilang kalau Wiro Sableng menjadi benchmark film action fantasy baru di Indonesia. Bagi kita, kerja keras yang kita lakukan hasilnya nggak akan menipu karena bisa terbayarkan dengan tuntas.

Sebagai salah satu pemegang hak cipta, kamu puas dengan film Wiro Sableng?

Kalau penilaian dari saya menjadi subjektif karena saya bergabung di film Wiro Sableng. Jadi saya bertanya ke kakak saya yang sangat tahu dengan bukunya Wiro, dan lebih dekat dengan ayah saya. Katanya, ini adalah sebuah film adaptasi yang terbaik dari yang pernah dibuat tanpa membandingkan dengan yang lain karena adaptasi Wiro buat saya adalah yang terbaik di zamannya. Pun nanti dibuat sekuelnya kakak saya bilang harus lebih baik lagi nggak boleh turun, levelnya harus lebih tinggi lagi.

Peran dan Harapan Vino G. Bastian

Sebelum memerankan Wiro Sableng, Vino G. Bastian sudah banyak memerankan sejumlah karakter yang berkesan dan mendapat banyak pujian. Misalnya saja sebagai Radit di film Radit dan Jani (2008) yang membuahkan Piala Citra bagi Vino. Lalu ada juga peran sebagai pelawak legendaris Kasino dan penyanyi legendaris Chrisye. Lalu peran seperti apa lagi yang ingin dimainkannya?.

Bisa cerita tentang senjata kapak Wiro Sableng?

Ini senjata utama Wiro Sableng, namanya Kapak Maut Naga Geni 212. Di film Wiro Sableng, kapak ini didesain sama Adrianto Sinaga. Kalau dulu simple banget, ini dibuat dengan menggambarkan dunia, ada air, udara dan tanah. Bentuk naganya dibalikan lagi ke versi bukunya, karena di versi sinetronnya beda sama di buku.

Apa makna angka 212 dari Wiro Sableng?

Makna filosofinya banyak banget, 1 menggambarkan Ketuhanan yang maha esa, dua nya itu bahwa makhluk hidup dan banyak hal di dunia selalu berpasangan. Ada pria ada wanita, ada pagi ada siang, ada hitam ada putih. Lalu ditambahkan dengan angka dua jumlahnya jadi lima. Lima ini bermakna Pancasila, jadi benar benar mewakili Indonesia. Selain itu, bisa juga bermakna rukun Islam yang ada lima atau solat lima waktu. Tapi yang paling utama ya Pancasila itu.

Tanggapan kamu soal film Wiro Sableng akan dibuat sekuel dan spin-off?

Ini memang sudah dibicarakan dari awal dan konsepnya trilogi. Untuk yang pertama ini mengambil dari empat buku dan memang banyak karakter yang belum dimasukan, nanti aka muncul di film selanjutnya. Kami harap sih dengan film ini, orang-orang akan kembali lagi membaca bukunya.

Sampai kapam kamu akan memerankan Wiro Sableng?

Saya sendiri nggak tahu. Kalau triloginya sampai 10 tahun agak aneh kalau saya lagi yang main. Yang jelas kalau selama saya masih dibutuhkan, saya akan selalu siap. Kalau tidak bisa berkontribusi lagi sebagai pemain, saya bisa bekerja di belakang layar. Karena misi utama saya awalnya bukan memerankan Wiro akan tetapi melestarikan Wiro Sableng ini.

Sudah banyak peran yang kamu mainkan, peran apa lagi yang kamu inginkan?

Saya sih mengalir saja. Kadang saya ingin mendapat karakter ini, tapi ternyata malah nggak dapat. Justru yang nggak disangka-sangka malah datang kepada saya. Saya percaya bahwa si karakter akan mencari aktor yang tepat untuk memerankannya. Tiba-tiba saya menjadi almarhum Kasino, Chrisye, dan sekarang menjadi Wiro Sableng, nggak pernah terpikir oleh saya memerankan karakter karakter legend seperti itu.

Siapa yang mengajak kamu ke dunia akting?

Saya agak lupa ya, saya dulunya lebih suka nge-band ,terus saya ditawarin untuk bikin video klip di Rexinema sama mas Erwin Arnada. Saya sempat tampil di video klip band Cokelat, dan setelah itu diajak untuk ikutan kasting. Saya dapat peran pertama kali di film 30 Hari Mencari Cinta, jadi cowok yang terkesan gay gitu, hahaha. Setelah itu main di film Catatan Akhir Sekolah yang disutradarai mas Hanung Bramantyo dan jadi salah satu pemeran utama. Setelah itu tawaran makin banyak datang. Berawal dari musik, saya justru lebih dapat sambutan di bidang akting.

Siapa yang paling berjasa bagi karier kamu?

Yang paling berjasa, banyak banget.orangtua saya terutama, keluarga. Tapi yang pertama kali nawarin saya waktu saya ngeband itu Mas Iwan Toha, salah satu kontributor di majalah HAI, saya diajakin foto di majalah itu. Terus Mas Iwan bikin manajemen dari situ jalannya mulai terbuka, jadi benar-benar mulai dari nol banget sih.

Dulu tidak pernah berencana untuk menjadi aktor?

Iya, nggak ada, dulu saya itu mikirnya mau beli alat band tapi nggak minta sama orangtua. Jadi saya ikut foto-foto dapat duit, dan keterusan dapat rezekinya dari situ. Setelah itu ya banyak main film sampai sekarang ini.

Masih ingin berkiprah di musik?

Pengin sih tapi teman-teman saya juga sudah sibuk dengan kegiatan masing masing. Kalau pun misalnya mau main lagi, persaingannya ketat banget. Sekarang saya menjadi penikmat musik saja karena musikalitas anak-anak sekarang keren-keren banget.

Band kamu pernah rekaman?

Pernah, tapi nggak laku. Manggung juga sudah mulai dibayar. Tapi sekarang sih musik hanya menjadi hobi saja. Untuk jadi profesional secara waktu susah. Band saya namanya Lesley28 itu kalau di underground orang cukup tahu tapi kalau major label nggak ada yang tahu, hahaha.

Ada keinginan berkiprah di belakang layar?

Masih ingin di depan layar masih ingin menikmati karakter-karakter lain. Tapi saya sudah mulai mencoba di belakang layar dengan jadi produser. Saya juga pengin coba jadi sutradara, ya belajar pelan-pelan saja. Untuk mencapai itu kan nggak bisa instan karena perlu proses yang nggak cepat.

Ke depannya, siapa yang akan meneruskan Wiro Sableng?

Sebenarnya kakak saya punya bakat meneruskan Wiro Sableng tapi karena punya kesibukan yang berbeda jadi terputus, Jadi buat keluarga kamu, Wiro Sableng adalah karya ketika Bastian Tito masih hidup sampai meninggal dan Wiro Sableng hanya sampai 185 judul. Setelah itu bisa dikembangkan dalam medium lain seperti film, game, komik maupun yang lainnya.

Tak hanya Wiro Sableng, Indonesia masih punya banyak sosok hero atau superhero yang belum terangkat ke permukaan. Vino G. Bastian berharap Wiro Sableng bisa menjadi benchmark atau pemicu tokoh-tokoh superhero Indonesia lainnya untuk diangkat ke layar lebar. Dengan begitu karya-karya tersebut akan lebih dikenal dan dilestarikan seperti halnya Wiro Sableng.

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading