Sukses

News & Entertainment

Fimela Fest 2019: Bangkit dari Kasus Pelecehan Seksual, Bukti Hannah Al Rashid Fearless Women

Fimela.com, Jakarta Menjadi berani memang pilihan setiap orang, termasuk kaum perempuan. Saat sebagian orang masih merasa sungkan mengungkapkan dirinya sebagai korban pelecehan seksual di ruang publik, aktris peran Hannah Al Rashid memilih jalan yang berbeda. Ketimbang memendam rasa amarah, ia memilih untuk mengungkapkan perasaannya.

Lewat sebuah tulisan, perempuan berdarah Inggris-Indonesia itu mengungkapkan rasa ketidaknyamanannya menjadi korban pelecehan seksual. Dari situ, dukungan pun mulai berdatangan.

"Gua sempet megalami pelecehan seksual di ruang publik, dan dari situ jadi domino effect. Kita ingin terus mengedukasi masyarakat tentang isu ini," ucap Hannah Al Rashid.

Melawan Hal Buruk

Hannah Al Rashid memang menjadi satu dari segelintir perempuan yang berani bersuara terhadap pelecehan yang dialami. Menurutnya, stigma masyarakat yang terkesan 'kuno' menganggap pelecehan seksual adalah hal yang wajar membuatnya perlu mengedukasi banyak perempuan untuk lebih speak up.

"Sesimpel, suit suit (siulan) aja bagian dari pelecehan dan kita terlalu lama mengabaikan perilaku seperti itu dan akhirnya menjadi sesuatu yang normal. Gua ingin melawan hal buruk di budaya kita yang udah di normalisir soal isu ini (pelecehan seksual)," paparnya.

 

Tak Gampang

Bukan hal yang mudah memang, diterangkan Hannah Al Rashid mengingat stigma budaya perempuan lebih rendah daripada laki-laki sudah mengakar dari berabad-abad silam. Namun menurutnya, saat seorang perempuan merasa tidak nyaman atas perlakuan seseorang yang dianggap melecehkan, harusnya hal tersebut dilawan.

"Ini sesuatu yang sudah dibentuk bergenerasi. Ini ada relasi dengan cara kita memandang perempuan pada umumnya, gendre stereotyping, udah dibentuk berabad-abad lalu. Emang susah, tapi kita harus bisa," tutur Hannah Al Rashid.

Dan, cara paling simpel menurut Hannah Al Rashid untuk setiap perempuan melawan pelecehan seksual di ruang publik adalah dengan langsung bereaksi. Untuk itu, menurut Hannah, perlu juga dukungan lingkungan sekitar yang menyaksikan pelecehan tersebut untuk proaktif membantu korban, bukan menyalahkan.

"Saya udah pasti, jelas bilang, 'lawan'. setidaknya ungkapkan secara verbal, 'saya tidak terima'. Itu emang tidak gampang. Kalau kita melawan tapi sekitar kita nggak mendukung pun nggak ngebantu. Kalau lu melihat pelecehan dan membiarkan, itu juga salah. Itu kenapa kesetaraan gender itu perlu, bukan kita mau ngalahin lelaki, tapi untuk kita membuat imbang, supaya semuanya bisa berdampak positif," pungkas Hannah Al Rashid.

Ketahuilah bahwa setiap perempuan terlahir istimewa. Yuk, Grow Fearless bersama Fimela. Daftar untuk mengikuti berbagai kelas inspiratif di FIMELA FEST 2019 di sini.

 

Saksikan Video Menarik Berikut

;
Loading