Sukses

News & Entertainment

Reza Rahadian dan Acha Septriasa Jadi Kaum Marginal di Film Surga Dibawah Langit

Fimela.com, Jakarta Sebuah karya film bertema sosial siap tayang di bioskop tanah air. Berjudul "Surga Dibawah Langit", film tersebut sedianya akan mulai tayang di bioskop tanah air pada 30 April 2020 guna menyambut peringatan hari Buruh (1 Mei) dan dan Hari Pendidikan Nasional (2 Mei).

Ialah Rio Silaen selaku Produser bersama dengan Pritagita Arianegara sebagai Sutradara yang coba mengangkat kehidupan kaum marjinal di Jakarta sebagai garis besar film. Dimana, secara spesifik film produksi Visi Optima Indonesia itu mengangkat kehidupan anak-anak kurang beruntung di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang sebagai latar belakang cerita.

"Film ini mengangkat mengenai pendidikan anak kaum marginal. Sebagian dari mereka merasa pendidikan itu nggak penting, buat mereka cukup untuk bisa survive sehari-hari," ujar Rio Silaen selaku Produser film 'Surga Dibawah Langit' di kawasan Kuningan, Akhir pekan kemarin.

Bertabur Bintang

Lebih lanjut, niatan Rio Silaen untuk memberikan tema lain di perfilman Indonesia pun tak main-main. Untuk film pertama ini, ia didukung oleh beberapa bintang tanah air seperti Reza Rahadian, Acha Septriasa, Andien Aisyah, Happy Salma, Jajang C. Noer, dan beberapa nama lain. Sementara itu, untuk pemeran anak-anak, nama-nama seperti Muzzaki Rhamdan, Neona Ayu, dan Vanaya Keira Baiin dari Voice of Indonesia ikut terlibat di dalamnya.

"Ini mengenai persahabatan tiga anak kaum marginal yang sudah putus sekolah, akhirnya mereka bekerja jadi pengamen, pencopet, dan ojek payung untuk membantu orangtuanya mencari nafkah. Ketika dewasa nantinya diperankan oleh sama Reza Rahadian, Acha Septriasa, dan Andien," paparnya.

 

Tentang Film Surga Dibawah Langit

Film "Surga Dibawah Langit" sudah melewati seluruh proses produksi. Bercerita tentang persahabatan 3 anak sederhana yang tak lekang oleh waktu meski kerap berbenturan dengan keterbatasan.

Pada saatnya, kebersamaan mereka pun harus dipisahkan oleh keadaan. Satu persatu mereka harus meninggalkan pemukiman kumuh yang sudah mereka anggap surga.

"Ini kisah anak Jakarta yang mencoba survive dan berjuang. Mereka nggak mimpi muluk, hanya ingin tiap hari bisa hidup di pemukiman kumuh lihat burung-burung, itu Surga buat mereka," pungkas Rio Silaen.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini

;
Loading