Sukses

News & Entertainment

Glenn Fredly dan Artis Lain yang Meninggal karena Meningitis, Harus Dikenali Cirinya

Fimela.com, Jakarta Penyakit meningitis saat ini mungkin kian dikenal masyarakat Indonesia. Apalagi setelah penyakit itu diderita Glenn Fredly, hingga akhirnya merenggut nyawa sang penyanyi kawakan itu. Kendati mematikan, penyakit ini tergolong langka.

Selain Glenn Fredly ternyata ada beberapa artis lain yang memiliki nasib sama dengan pelantun Kisah Romantis itu. Sebut saja Olga Syahputra yang sampai harus menjalani perawatan intensif di sebuah rumah sakit di Singapura.

Penyakit ini memang tak memandang usia. Karena beberapa artis lain yang masih berusia produktif pun sempat didiagnosa mengidap penyakit ini sebelum akhirnya meninggal dunia. Diantara mereka adalah desainer Barli Asmara, dan Giska Putri Sahetapy. Giska mengembuskan napas terakhir pada 11 januari 2010 pada usia 28 tahun.

Sangat Mematikan

Dalam sebuah unggahannya di laman Instagram @kenapaharusvaksin, Rabu (7/3/2021), dr Atilla mengatakan bahwa penyakit meningitis memang jarang ditemukan, namun sangat mematikan. Menurutnya, Meningitis merupakan peradangan pada meningen atau selaput otak.

Atilla memaparkan, Indonesia merupakan penyumbang kasus dan kematian tertinggi di Asia Tenggara akibat meningitis. Meningitis sendiri, kata dia dapat diakibatkan oleh virus, kuman, parasit, maupun bakteri.

Dari berbagai macam penyebab meningitis, yang paling berbahaya adalah meningitis yang disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitidis. "Meningitis yang disebabkan oleh bakteri tersebut dinamakan Invasive Meningococcal Disease atau disingkat IMD," ucapnya.

Jika ditangani tidak tepat, lanjut Atilla, 50% IMD bisa berakhir dengan kematian dan 5%-10% kasus berakibat fatal walau sudah dilakukan terapi.

Serang Anak-Anak

Pada masa epidemi, IMD sendiri lebih banyak menyerang anak-anak dan dewasa muda. Sedangkan saat non epidemi, IMD lebih banyak menyerang anak-anak dari usai 3 bulan hingga 5 tahun. Atilla pun memaparkan gejala anak diatas 1 tahun yang terkena IMD. Antara lain demam, sakit pada punggung atau leher, sakit kepala mual atau muntah-muntah, leher kaku, dan bercak ruam ungu kemerahan.

Kemudian pada bayi, gejala IMD tidak mudah untuk dilihat, namun gejala ini bisa menjadi perhatian para orang tua. Antara lain rewel, lesu, tidur sepanjang waktu, menolak menggunakan botol, menangis saat digendong dan tidak bisa ditenangkan saat menangis.

"Kemudian ubun-ubun yang menonjol (pada bayi), perubahan perilaku serta demam. Hanya dalam 24 jam saja kondisi anak bisa dapat berubah dari yang hanya panas menjadi berbahaya," tuturnya.

Atilla melanjutkan, terdapat beberapa faktor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya Invasive Meningococcal Disease, yaitu kontak erat dengan orang yang terinfeksi, asap rokok (aktif & pasif), pemukiman yang padat, perubahan iklim, tingkat sosial ekonomi yang rendah dan riwayat infeksi saluran pernafasan atas.

Dia menegaskan, IMD memang dapat diobati, tapi IMD dapat meninggalkan 'jejak' seperti kelumpuhan, tuli, dan juga kerusakan otak.

Vaksinasi

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, pencegahan terbaik untuk meningitis adalah dengan vaksinasi. Vaksinasi diutamakan diberikan untuk anak-anak di bawah usia 5 tahun, dan juga anak kelompok usia remaja berusia 11-18 tahun. Saat ini vaksinasi untuk mencegah IMD sudah tersedia di Indonesia.

"Mari kita melindungi orang-orang tersayang kita dengan vaksinasi. Buat kamu yang ingin mendapatkan vaksinasi pencegah IMD, Anda bisa konsul ke dokter," tandas Atilla.

Saksikan Video Menarik Berikut Ini

Loading
Artikel Selanjutnya
Ada Kista di Rahim Aurel Hermansyah, Ini Kata Krisdayanti
Artikel Selanjutnya
Perasaan Baim Wong Usai Lakoni Tantangan Hidup Higienis