Sukses

Entertainment

Review Aku dan Mesin Waktu: Dualisme Cinta Sukma

Fimela.com, Jakarta Pelaku industri kreatif memang tak pernah kehabisan ide untuk menciptakan sebuah karya. Didukung ketersediaan berbagai platform sebagai 'etalase' hasil akhirnya, sebuah film pendek berjudul Aku Dan Mesin Waktu pun sukses mencuri perhatian dengan capaian ratusan ribu viewers dalam beberapa hari usai di unggah secara digital.

Aku Dan Mesin Waktu terdiri dari 4 episode dengan total durasi tak sampai 60 menit yang cukup berbobot. Ceritanya yang terinspirasi dari empat lagu karya empat musisi berbeda membuat alur yang ada sepanjang cerita sudah tertata dengan sangat apik.

Upie Guava selaku sutradara pun tak membuat predikat 'Film Pendek' di cerita Aku Dan Mesin Waktu seperti project sampingan yang tak mengedepankan faktor sinematografinya. Hampir seluruh adegan yang ada diambil secara profesional dengan angle dan mood layaknya sebuah film layar lebar. Terlebih, keterlibatan Caitlin Halderman, Refal Hady dan Fero Walandouw sebagai main cast memiliki porsi yang sama dalam memainkan alur drama yang diusung.

Bercerita tentang Sukma (Caitlin Halderman) yang terjebak diantara kekagumannya pada seseorang di masa lalu dan realita yang ia jalani saat ini. Kehadiran Bara (Fero Walandouw), sosok yang diidolai di masa remaja membuat Sukma berpaling dari Rama, sang kekasih yang menenangkan. Dari situ, dualisme perasaan Sukma dimainkan sebagai konflik utama dari cerita.

Visualisasi Sinopsis

Cerita Aku Dan Mesin Waktu diawali dari Sukma yang menjalani hari pertamanya sebagai pekerja kreatif. Di situ, ia bertemu dengan Bara, mentor sekaligus vokalis band yang ia idolai sejak remaja. Seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta diantara mereka pun tumbuh. Sukma seolah menemukan taman bermain baru di sosok Bara sehingga lupa akan adanya Rama, rumah yang sudah miliki hampir 3 tahun.

Layaknya cerita drama yang mengangkat cinta segitiga, alur konfliknya pun sudah bisa ditebak. Yang menarik untuk disimak ialah bagaimana cara elegan Rama menyelesaikan konflik yang ada.

Durasi yang terbilang singkat sepertinya menjadi alasan utama mengapa Upie Guava tak banyak melakukan improvisasi cerita. Jika boleh disederhanakan, Aku Dan Mesin Waktu hanya sebuah sinopsis cerita film layar lebar yang divisualisasi dan diberi konklusi. Dengan ide cerita yang ditawarkan dan totalitas dalam aspek penggarapannya, Aku Dan Mesin Waktu sepertinya layak untuk diangkat menjadi sebuah film panjang bergenre drama remaja.

Dukungan Soundtrack

Yang kemudian harus diapresiasi adalah keberadaan empat lagu yang menjadi inspirasi cerita sekaligus berperan original soundtrack-nya. Empat lagu yang dibawakan oleh Caitlin Halderman, Last Child, Budi Doremi, dan Virgoun sukses menghadirkan sensasi audio dan visual yang harmonis dengan alur cerita.

Jika diurutkan, lagu Apa Ini Cinta dengan vokal lembut Caitlin Halderman memulai petualangan 'salah jalan' Sukma, dimana tetap berakhir di Orang Yang Sama seperti yang digambarkan di lagu Virgoun. Sebagai dramatisasi, tetap perlu ada perasaan Menyerah lewat lagu milik Last Child dan penyesalan yang tergambar di lagu Mesin Waktu-nya Budi Doremi.

Pada akhirnya, Aku Dan Mesin Waktu adalah perpaduan yang harmonis untuk penonton mendapatkan sensasi secara audio dan visual dalam durasi yang terbilang singkat. Menarik untuk ditunggu apakah cerita pendek yang diproduksi oleh dr.m (Dapur Musik) ini akan mendapat tempat 'idealnya' di layar bioskop dengan format film panjang.

Saksikan Video Menarik Berikut Ini

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading