Di tengah ritme kehidupan urban yang serba cepat, mobilitas yang tinggi, dan notifikasi gadget yang seolah tak pernah berhenti, tingkat stres pun kian meningkat. Dalam keseharian yang padat seperti ini, banyak orang mulai mencari keseimbangan dengan kembali pada hal-hal yang lebih alami. Salah satu caranya adalah dengan hidup selaras dengan alam.
Gaya hidup ramah lingkungan kini bukan lagi sekadar tren, melainkan cerminan nilai dan kesadaran diri untuk menemukan kedamaian melalui setiap langkah kecil yang penuh makna. Bagi banyak perempuan modern, hidup berkelanjutan telah menjadi bagian dari identitas diri.
Perempuan modern tidak hanya berbicara tentang gaya, tapi juga makna di balik pilihan hidupnya. Mereka sadar bahwa setiap pilihan memiliki dampak, mulai dari produk yang digunakan, makanan yang dikonsumsi, hingga cara berbelanja yang lebih bijak. Kesadaran ini tumbuh menjadi gaya hidup yang berakar pada empati dan tanggung jawab. Di tengah dunia yang serba cepat, memilih hidup ramah bumi adalah bentuk elegan dari kepedulian.
Jejak HijauGenerasi Baru
Perempuan muda saat ini tumbuh dengan kepedulian yang makin kuat dan tercermin dalam tindakan sehari-hari. Fokus mereka tak hanya pada passion, karier, atau pencapaian pribadi, tetapi juga pada dampak setiap pilihan terhadap lingkungan. Kesadaran ini didukung temuan Deloitte (2024) yang menunjukkan bahwa generasi Z dan milenial menempatkan perlindungan lingkungan sebagai isu sosial terpenting bagi dunia usaha dan masyarakat. Pergeseran ini menandai lahirnya generasi yang tak sekadar mengikuti tren, tetapi bergerak sebagai agen perubahan yang mendorong keberlanjutan.
Pola pikir baru mulai tumbuh: jika dulu gaya hidup identik dengan konsumsi berlebihan, kini banyak perempuan muda memilih conscious living, hidup dengan kesadaran penuh atas setiap keputusan. Mereka lebih selektif saat berbelanja, menghindari produk yang merusak lingkungan, dan mendukung merek yang mengusung nilai keberlanjutan. Kesadaran ini membuat mereka bukan hanya konsumen, tetapi juga penggerak yang memberi arah baru bagi dunia bisnis dan gaya hidup masa kini.
Menariknya, perubahan ini sering dimulai dari langkah kecil yang dilakukan konsisten. Mengganti kantong plastik dengan tote bag, membawa tumbler, hingga lebih memperhatikan jejak karbon menjadi bukti sederhana bagaimana generasi muda menyalurkan kepeduliannya pada bumi—dan perlahan membangun perubahan yang lebih luas.
Green LivingDimulai dariRumah
Perubahan besar berawal dari kebiasaan kecil di rumah, ruang pertama tempat nilai keberlanjutan dipahami dan dipraktikkan. Banyak keluarga kini makin sadar pentingnya menjaga bumi, mengajarkannya sejak dini kepada anak melalui kegiatan mudah seperti memilah sampah dan memahami daur ulang. Dari dapur hingga kamar mandi, setiap sudut rumah dapat menjadi bagian dari gerakan hijau yang membentuk pola hidup berkelanjutan bagi keluarga.
Gerakan green living juga semakin diperkuat oleh dukungan brand besar FMCG seperti Unilever, Danone Aqua, dan Nestlé Indonesia, yang melihat bahwa konsumen kini jauh lebih peduli lingkungan. Kesadaran ini mendorong perubahan strategi bisnis, termasuk penerapan ekonomi sirkular sebagai pendekatan yang mengutamakan penggunaan sumber daya secara berkelanjutan dengan mengurangi limbah, mendaur ulang material, dan memperpanjang umur produk. Apa yang dulunya dianggap sampah kini dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai.
Unilever
“Less plastic, better plastic, no plastic”
Refill station 100% plastik daur ulang (PET) 25% plastik daur ulang (PCR)
Unilever menjadi salah satu pionir keberlanjutan melalui filosofi “less plastic, better plastic, no plastic” yang diterapkan lewat berbagai inisiatif nyata. Mereka menghadirkan refill station di sejumlah kota besar untuk produk seperti sabun, sampo, dan detergen, memungkinkan konsumen mengisi ulang kemasan lama dan mengurangi penggunaan plastik baru. Unilever juga telah menerapkan 100% plastik daur ulang (PET) untuk beberapa produk seperti Love Beauty and Planet, serta menargetkan 25% penggunaan plastik daur ulang (PCR) pada kemasan mereka pada 2025. Dari inovasi desain kemasan inilah perubahan besar mulai digerakkan.
Danone-AQUA
#BijakBerplastik
70% bisnis galon isi ulang Inovasi kemasan Pengelolaan sampah
Danone-AQUA mendorong pengurangan plastik melalui sistem galon isi ulang yang kini mencakup sekitar 70% bisnis mereka, menjadi contoh kuat penerapan ekonomi sirkular di industri air minum. Lewat gerakan #BijakBerplastik, Danone menitikberatkan pada edukasi masyarakat, inovasi kemasan, dan pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi kebutuhan plastik baru, tetapi juga membangun kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan.
Nestlé Indonesia
“Good Food, Good Life”
95% kemasan bisa didaur ulang Kemasan Mono-material Pengelolaan sampah dengan WWF & Pemprov DKI 100% bebas deforestasi Regenerasi siklus air lewat Nestlé Water
Nestlé Indonesia juga menunjukkan komitmen kuat pada keberlanjutan; sekitar 95% kemasannya kini dirancang agar mudah didaur ulang, dan perusahaan menargetkan pengurangan sepertiga penggunaan plastik baru pada 2025. Mereka turut mengembangkan kemasan mono-material yang lebih sederhana untuk diproses dalam sistem daur ulang, membuktikan bahwa inovasi desain dapat menjadi kunci terciptanya industri yang lebih ramah lingkungan dan efisien.
Fashion DenganNilai
Sustainable fashion kini berkembang menjadi cerminan gaya hidup yang lebih sadar dan penuh makna. Di era mode yang bergerak cepat, berpenampilan menarik bukan lagi soal mengikuti tren, tetapi tentang memilih pakaian yang tidak membebani bumi. Gerakan ini mengajak perempuan melihat busana bukan sekadar barang konsumsi, melainkan ekspresi diri yang beretika, menghargai proses, manusia, dan alam di balik setiap helainya.
“Elegansi sejati adalah ketika keindahan tak meninggalkan luka pada bumi.”
Brand LokalPionirGreenFashion
Sejauh Mata Memandang
Brand ini dikenal dengan pendekatan etis dan ramah lingkungan, menggunakan bahan alami serta pewarnaan tradisional yang minim limbah. Setiap koleksinya bercerita tentang budaya, alam, dan nilai keberlanjutan, menciptakan pakaian yang indah sekaligus bermakna.
Kana Goods
Mengusung filosofi slow fashion, Kana Goods menampilkan karya berbasis kain alami seperti katun dan linen dengan teknik pewarnaan alami dari tumbuhan. Koleksinya menunjukkan bahwa busana elegan bisa tetap sederhana, lembut, dan berkelanjutan.
Noesa
Brand asal Nusa Tenggara Timur ini berfokus pada pelestarian tenun tradisional dengan pendekatan modern. Noesa tidak hanya mengedepankan keindahan wastra Indonesia, tetapi juga kesejahteraan pengrajin lokal serta transparansi proses produksinya.
Biasa Atelier
Mengedepankan desain minimalis dan bahan berkualitas tinggi, Biasa Atelier menghadirkan koleksi yang timeless dan tahan lama. Filosofinya sejalan dengan gerakan mode berkelanjutan, yaitu membeli lebih sedikit, namun memilih dengan lebih bijak.
EcoBatik
Batik kini ikut bertransformasi lewat eco-batik yang menggunakan pewarna alami dan serat ramah lingkungan seperti kapas dan linen, menunjukkan bahwa tradisi dan keberlanjutan bisa berjalan bersama tanpa kehilangan keindahan. Sustainable fashion juga mengajak kita memilih pakaian yang tahan lama, merawatnya, dan memakainya dengan sadar agar setiap helai punya makna dan berkontribusi pada hidup yang lebih berkelanjutan.
Kecantikan YangMenyatuDengan Alam
“Kecantikan sejati tumbuh dari harmoni antara diri dan alam.”
Gerakan clean beauty dan eco-beauty kini menjadi arah baru kecantikan modern, menghadirkan produk berbahan alami, tanpa animal testing, dan berkemasan ramah daur ulang bagi mereka yang ingin merawat diri sekaligus menjaga bumi.
Dalam filosofi eco-beauty, setiap langkah perawatan adalah bentuk tanggung jawab, baik terhadap kulit maupun alam. Bahan-bahan alami seperti minyak esensial, ekstrak tumbuhan, dan bahan aktif nabati tidak hanya lembut di kulit, tetapi juga lebih aman bagi ekosistem. Sementara kemasan yang dapat diisi ulang atau mudah terurai menjadi simbol dari perubahan kecil yang berdampak besar.
Brand asal Bali ini dikenal dengan formula alami yang terinspirasi dari kekayaan bahan tropis Indonesia. Seluruh produknya diformulasikan tanpa bahan berbahaya dan dikemas menggunakan material yang dapat didaur ulang, menjadikannya pelopor clean beauty di tanah air.
Oasea
Oasea mengusung kampanye pelestarian ekosistem laut, dengan produk skincare terbarukan yang sudah disetujui para dermatologist untuk menciptakan masa depan yang lebih bersih, baik itu dari sisi konsumen terutama lingkungan, terutama laut. Brand ini juga berkolaborasi dengan Rekosistem dalam program pengembalian kemasan bekas Oasea untuk dilakukan daur ulang.
The Bath Box
Dengan pendekatan artisanal skincare, The Bath Box menggunakan bahan alami tanpa paraben, SLS, dan silikon, sehingga produknya banyak direkomendasikan untuk mereka yang punya masalah kulit seperti eczema, psoriasis, hingga kulit sensitif. Selain fokus pada keamanan kulit, brand ini juga mendukung penggunaan kemasan ramah lingkungan dan proses produksi yang etis.
Nadora Organic
Mengusung filosofi produk natural dan cruelty-free skincare, Nadora Organics menghadirkan produk perawatan kulit yang segar dan sangat peduli dengan kualitas hidup penggunanya. Setiap produknya dibuat dengan prinsip keberlanjutan, dari sumber bahan hingga proses pengemasan.
Miru
Menariknya, kepedulian terhadap bumi kini juga mulai merambah ke dunia aksesori kecantikan. Salah satu inovasi datang dari Miru, produk contact lens yang dikembangkan oleh Menicon Global. Lensa ini menggunakan bahan yang lebih ramah lingkungan dan dikemas dengan desain eco-conscious, menandai langkah maju dalam menciptakan produk fungsional yang tetap memperhatikan keberlanjutan.
Kesadaran dalam memilih produk kini menjadi bentuk kecantikan baru, bukan hanya mempercantik kulit, tetapi juga berkontribusi menjaga keseimbangan alam. Setiap pilihan kecil, mulai dari krim wajah hingga kemasan yang digunakan, mencerminkan nilai kepedulian yang sesungguhnya.
MindfulRelationship:Cinta yangMenumbuhkan
Gaya hidup hijau juga tercermin dalam mindful relationship yang mengajarkan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang dua hati yang saling terhubung, melainkan juga bagaimana keduanya tumbuh bersama dengan nilai-nilai keberlanjutan.
Hubungan mindful dibangun atas saling menghargai, kejujuran, dan empati, dengan setiap tindakan dilakukan secara sadar demi kebaikan pasangan dan lingkungan. Pendekatan ini membuat hubungan lebih stabil dan penuh tanggung jawab, sekaligus mendorong pasangan menikmati momen sederhana, seperti menyeduh teh, berbagi cerita, atau berjalan di taman—sebagai bentuk keintiman yang lebih bermakna.
“Hubungan yang sehat bukan hanya membuat bahagia, tapi juga membuat dunia lebih baik.”
Aktivitas seperti eco-date kini juga mulai banyak dipilih sebagai cara mengekspresikan cinta yang lebih sadar. Piknik tanpa plastik sekali pakai, bersepeda berdua ke tempat favorit, atau ikut kegiatan menanam pohon bersama menjadi simbol bahwa cinta bisa tumbuh seiring dengan kepedulian terhadap bumi. Aktivitas ini tidak hanya mempererat kedekatan emosional, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama untuk menjaga alam yang menjadi tempat tinggal bersama.
Mindful relationship juga berarti saling mendukung dalam menerapkan gaya hidup yang lebih baik. Saat satu pihak berusaha mengurangi jejak karbon, menggunakan energi secara efisien, atau memilih konsumsi yang beretika, pasangan dapat menjadi penyemangat agar perubahan dapat terjadi secara berkelanjutan. Ingatlah bahwa hubungan yang sehat bukan hanya membuat bahagia, tapi juga membuat dunia lebih baik.
Komunitas &GerakanHijauHijauPerempuan
Gelombang kepedulian lingkungan semakin kuat dipimpin oleh perempuan, dari kota hingga desa. Mereka mengubah gaya hidup sekaligus menggerakkan komunitas hijau, mulai dari pengelolaan limbah, daur ulang tekstil, hingga edukasi publik. Semangat ini tumbuh dari kesadaran bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan bersama memiliki kekuatan untuk membawa perubahan besar.
Bye Bye Plastic Bags
Digagas oleh dua remaja perempuan asal Bali, Melati dan Isabel Wijsen mendirikan Bye Bye Plastic Bags yang mencerminkan semangat kepedulian terhadap lingkungan. Berawal dari keprihatinan terhadap sampah plastik yang mencemari pantai, keduanya berhasil menciptakan gerakan global untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Apa yang dimulai dari kampanye kecil di sekolah, kini menjelma menjadi inspirasi dunia bahwa kepedulian bisa menembus batas usia dan wilayah.
Du'anyam
Du Anyam, didirikan oleh Azalea Ayuningtyas, Hanna Keraf, dan Melia Winata, adalah brand kerajinan tangan yang mengangkat anyaman tradisional dari wanita Indonesia Timur. Produk-produk Du Anyam mulai dari tas, keranjang, hingga dekorasi rumah tidak hanya indah dan fungsional, tapi juga berakar pada kearifan lokal dan keberlanjutan: bahan yang digunakan ramah lingkungan, dan proses produksinya mendukung pemberdayaan perempuan serta ekonomi komunitas lokal.
Green Welfare
Digagas oleh dua remaja perempuan asal Bali, Melati dan Isabel Wijsen mendirikan Bye Bye Plastic Bags yang mencerminkan semangat kepedulian terhadap lingkungan. Berawal dari keprihatinan terhadap sampah plastik yang mencemari pantai, keduanya berhasil menciptakan gerakan global untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Apa yang dimulai dari kampanye kecil di sekolah, kini menjelma menjadi inspirasi dunia bahwa kepedulian bisa menembus batas usia dan wilayah.
Bye Bye Plastic Bags
Du'anyam
Green Welfare
MembangunKeseimbanganDenganAlam
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, perempuan kini mulai mencari cara baru untuk menemukan keseimbangan dan ketenangan dalam dirinya. Salah satunya melalui green self-care, konsep merawat diri yang berakar pada kedekatan dengan alam.
Praktiknya sederhana, mulai dari bermeditasi di taman, menulis jurnal ditemani angin sore, hingga berjalan tanpa ponsel untuk benar-benar hadir pada momen. Aktivitas ini bukan hanya jeda dari kesibukan, tetapi cara lembut untuk kembali terhubung dengan energi alami yang menenangkan. Kedekatan dengan alam pun memberi dampak positif bagi kesehatan mental: udara segar, hijaunya pepohonan, dan suara burung membantu menurunkan stres serta menyeimbangkan emosi.
Saat tubuh dan pikiran mengikuti ritme alami bumi, ketenangan muncul dengan sendirinya. Alam mengingatkan bahwa kedamaian tidak selalu ditemukan dalam kesempurnaan, tetapi dalam kehadiran penuh kesadaran. Meluangkan waktu untuk menyentuh rumput, menatap langit senja, atau merasakan angin di wajah menjadi ruang refleksi sekaligus bentuk kecil cinta pada diri sendiri dan pada bumi yang menaungi.
Konsumsi yangBerkesadaran
Di tengah dunia serba instan, gerakan mindful consumption muncul sebagai ajakan untuk membeli dengan kesadaran, bukan dorongan sesaat. Banyak perempuan mulai menata ulang kebiasaan belanja mereka yakni membeli karena kebutuhan, bukan sekadar keinginan. Pendekatan ini membantu menghindari pemborosan sekaligus menumbuhkan nilai kesederhanaan dan tanggung jawab dalam tiap keputusan.
Kesadaran ini juga tercermin dalam pemilihan produk. Konsumen kini semakin cermat memilih barang yang ramah lingkungan, etis, dan mendukung komunitas lokal. Belanja bukan lagi sekadar aktivitas impulsif, tetapi wujud kepedulian bahwa setiap rupiah membawa dampak. Konsumsi pun menjadi bentuk partisipasi nyata dalam menciptakan perubahan positif bagi manusia dan bumi.
Gerakan mindful consumption juga mendorong kesadaran akan isu besar seperti food waste atau limbah makanan. Tahukah kamu kalau salah satu masalah lingkungan yang paling besar dampaknya adalah soal sampah makanan?
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024 menyebutkan, sisa makanan mendominasi komposisi sampah di Indonesia hingga 39,36% dari total sampah nasional. Sementara itu, data dari Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan sekitar 23-48 juta ton makanan terbuang setiap tahun di Indonesia. Angka tersebut membuat kita harus mulai berpikir ulang tentang bagaimana makanan diproduksi, dikonsumsi, dan dibuang.
Industri makanan kini mulai berbenah melalui konsep Industri Hijau, yang berfokus pada efisiensi bahan baku dan pengolahan sisa makanan agar tetap bernilai. Inovasi kreatif juga bermunculan, seperti penggunaan kembali bahan sisa untuk produk pangan baru, hingga penerapan teknologi daur ulang yang lebih ramah lingkungan. Upaya ini membuktikan bahwa keberlanjutan tidak hanya soal apa yang dikonsumsi, tetapi juga bagaimana proses di baliknya dilakukan dengan bijak.
Bahkan, beberapa perusahaan besar baik nasional maupun global mulai mengambil langkah nyata untuk menghadapi krisis food waste tersebut.
Indonesia: Minimalisir Sampah, Optimalkan Bahan Baku
Unilever, salah satu perusahaan consumer goods terbesar, sudah lama menjalankan misi keberlanjutan melalui kampanye “Less Waste, More Life” yang menargetkan zero waste to landfill di seluruh pabriknya, sekaligus mengoptimalkan penggunaan bahan baku agar tidak menyisakan limbah—mengolah sisa organik menjadi biogas dan kompos untuk menciptakan siklus produksi yang lebih ramah lingkungan.
Nestlé Indonesia Terapkan Inovasi Hijau di Seluruh Rantai Pasok
Dalam pengelolaan susu dan kopi yang jadi produk utamanya, Nestlé Indonesia memastikan setiap tetes bahan baku digunakan seoptimal mungkin. Sisa produksi yang masih memiliki nilai gizi diolah menjadi pakan ternak atau kompos.
Kontribusi Lewat Pertanian Berkelanjutan
Inovasi berkelanjutan juga ditunjukkan Indofood lewat pengelolaan industrinya. Mereka menerapkan sistem water reuse, penggunaan ulang air untuk mengurangi limbah cair di pabrik mi instan dan tepungnya. Selain itu, limbah sisa produksi minyak goreng juga diolah menjadi biodiesel yang merupakan sumber energi alternatif ramah lingkungan.
Jejak untukGenerasiBerikutnya
Gaya hidup hijau sejatinya bukan beban atau kewajiban moral, melainkan bentuk warisan penuh makna yang dititipkan untuk generasi mendatang. Dalam setiap keputusan kecil yang diambil seperti memilih produk ramah lingkungan, menanam pohon, atau sekadar mengurangi sampah plastik, tersimpan pesan cinta untuk generasi di masa depan. Itu adalah cara perempuan menuturkan kasihnya pada bumi, bukan dengan kata-kata, melainkan melalui tindakan yang memberi kehidupan.
Perempuan memiliki peran istimewa dalam merawat keseimbangan dunia. Dengan empati dan kelembutan, mereka menyalurkan nilai keberlanjutan ke dalam rutinitas sehari-hari, menumbuhkan kesadaran di rumah, di komunitas, bahkan di industri yang mereka jalani. Setiap langkah, sekecil apa pun, meninggalkan jejak yang berarti, sebagai pijakan untuk generasi berikutnya agar bisa bertumbuh dengan lebih bijak, lembut, dan selaras dengan alam.
Pada akhirnya, perjalanan menuju gaya hidup hijau adalah perjalanan menemukan keseimbangan antara diri, sesama, dan bumi. Tidak perlu sempurna, cukup berani untuk memulai dan konsisten menumbuhkan. Sebab perubahan sejati tidak terjadi dalam sekejap, melainkan tumbuh dari hati yang penuh cinta.
Bahkan, beberapa perusahaan besar baik nasional maupun global mulai mengambil langkah nyata untuk menghadapi krisis food waste tersebut.
“Perempuan memiliki kekuatan untuk menumbuhkan kehidupan. Dan dari tangan merekalah, bumi menemukan kembali harapannya.”
Jejak hijau perempuan membangun gaya hidup yang lebih ramah bumi
Di tengah ritme kehidupan urban yang serba cepat, mobilitas yang tinggi, dan notifikasi gadget yang seolah tak pernah berhenti, tingkat stres pun kian meningkat. Dalam keseharian yang padat seperti ini, banyak orang mulai mencari keseimbangan dengan kembali pada hal-hal yang lebih alami. Salah satu caranya adalah dengan hidup selaras dengan alam.
Gaya hidup ramah lingkungan kini bukan lagi sekadar tren, melainkan cerminan nilai dan kesadaran diri untuk menemukan kedamaian melalui setiap langkah kecil yang penuh makna. Bagi banyak perempuan modern, hidup berkelanjutan telah menjadi bagian dari identitas diri.
Perempuan modern tidak hanya berbicara tentang gaya, tapi juga makna di balik pilihan hidupnya. Mereka sadar bahwa setiap pilihan memiliki dampak, mulai dari produk yang digunakan, makanan yang dikonsumsi, hingga cara berbelanja yang lebih bijak. Kesadaran ini tumbuh menjadi gaya hidup yang berakar pada empati dan tanggung jawab. Di tengah dunia yang serba cepat, memilih hidup ramah bumi adalah bentuk elegan dari kepedulian.