Sukses

Pengertian

Istilah gastritis menggambarkan adanya peradangan pada dinding lambung. Pada sebagian orang, gastritis bersifat akut, yaitu muncul tiba-tiba dan hanya berlangsung dalam hitungan hari atau minggu. Sebagian lagi mengalami gastritis kronis, yang muncul perlahan dan berlangsung dalam hitungan bulan atau tahun.

Sebagian besar kasus gastritis tidaklah serius dan cepat membaik jika diobati. Akan tetapi, pada sebagian kecil kasus, gastritis dapat berkembang menjadi tukak lambung serta meningkatkan risiko kanker lambung.

Dalam lambung terdapat lapisan mukosa yang merupakan pelapis dinding lambung terluar dan berfungsi sebagai pelindung dari asam lambung. Jika lapisan ini lemah atau mengalami cedera, asam lambung akan langsung mengenai dinding lambung dan menyebabkan peradangan.

Diagnosis

Untuk menentukan diagnosis dan penyebab gastritis, berikut pemeriksaan-pemeriksaan yang mungkin dilakukan:

  • Endoskopi lambung, yakni untuk melihat kondisi di dalam lambung secara langsung melalui kamera yang dimasukkan ke dalamnya. Bila diperlukan, biopsi lambung bisa dilakukan bersamaan dengan prosedur ini.
  • Urea breath test untuk melihat infeksi bakteri Helicobacter pylori dengan cara meminum segelas cairan khusus yang mengandung karbon radioaktif. Pasien kemudian diminta untuk bernafas di dalam kantung khusus untuk diukur kadar zat radioaktif tersebut.
  • Pemeriksaan tinja untuk melihat adanya infeksi atau perdarahan lambung.
  • Pemeriksaan barium meal dengan foto rontgen lambung.
  • Pemeriksaan darah untuk melihat kemungkinan adanya anemia atau kurang darah.

Gejala

Gastritis tidak selalu menimbulkan gejala. Jika ada, berikut gejala yang dapat muncul:

  • Rasa mual hingga muntah
  • Perut kembung
  • Perut terasa penuh setelah makan atau cepat kenyang
  • Rasa terbakar perih, atau nyeri pada ulu hati yang dapat memburuk atau membaik setelah makan

Gejala-gejala tersebut disebabkan oleh berbagai macam kondisi yang menyebabkan gastritis seperit tukak lambung atau infeksi lambung.

Gastritis

Pengobatan

Pengobatan gastritis tergantung pada penyebabnya. Pengobatan ditujukan untuk menurunkan jumlah asam lambung agar keluhan berkurang serta memberi kesempatan agar dinding lambung menyembuh.

Untuk mengurangi keluhan, digunakan obat-obatan untuk menurunkan atau menghambat produksi asam lambung. Jenis obat yang sering digunakan adalah sebagai berikut.

  • Antasida – untuk menetralkan asam lambung. Obat ini dapat diperoleh secara bebas dan dapat mengurangi nyeri dengan cepat.
  • Obat yang berfungsi sebagai pelapis dinding lambung, yaitu sukralfat.
  • Penghambat histamin-2 (H2) – untuk menurunkan produksi asam lambung. Contoh: ranitidin, simetidin, famotidin.
  • Penghambat pompa proton (proton pump inhibitor/PPI) – juga menurunkan produksi asam lambung tetapi lebih efektif dibandingkan penghambat H2. Contoh: omeprazole, lansoprazole, pantoprazole, dan esomeprazole.

Jika gastritis disebabkan oleh infeksi H. pylori, penderita juga diberikan antibiotik selain penghambat pompa proton. Penderita juga memerlukan kunjungan dan tes lanjutan untuk memastikan infeksinya telah sembuh.

Hampir semua orang mengalami gastritis dalam hidupnya. Sebagian besar kasus tidak berlangsung lama dan tidak membutuhkan pengobatan khusus. Namun demikian, segera kunjungi dokter bila:

  • Rasa tidak nyaman pada perut berlangsung selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan
  • Nyeri ulu hati muncul setelah mengonsumsi obat tertentu, khusunya antinyeri
  • Nyeri perut atau ulu hati memburuk atau tidak membaik meski telah diobati
  • Muntah atau tinja berdarah (warna tinja hitam seperti kopi)
  • Berat badan turun tanpa disengaja (bukan karena diet)

Pencegahan

Episode gastritis berulang dan perburukan gejala dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup sebagai berikut:

  • Hindari makanan pedas, terlalu asam, atau mengandung gas seperti kol dan sawi.
  • Kurangi atau hindari konsumsi kopi, teh, dan minuman bersoda.
  • Perbanyak frekuensi makan namun dalam porsi kecil, kurang lebih 5-6x/hari.
  • Usahakan jadwal makan teratur dan jangan sampai terlambat.
  • Kelola stres dengan baik melalui olahraga, metode relaksasi atau kegiatan lain yang disukai.

Penyebab

Berikut adalah hal-hal yang dapat menyebabkan gastritis:

  • Infeksi bakteri. Bisa dikatakan bahwa infeksi bakteri H. pylori dialami oleh semua orang. Namun demikian, hanya sebagian orang yang pada akhirnya mengalami gastritis atau gangguan pada saluran cerna atas. Kerentanan seseorang terhadap infeksi bakteri ini mungkin bersifat genetik atau disebabkan oleh gaya hidup seperti merokok dan pola makan.
  • Usia. Bertambahnya usia meningkatkan risiko gastritis karena dinding lambung cenderung menipis. Di samping itu, orang dewasa juga lebih berpeluang mengalami infeksi kuman H. pylori atau penyakit autoimun.

  • Penggunaan obat-obatan antinyeri. Obat antiinflamasi seperti ibuprofen dan asam mefenamat dapat menyebabkan gastritis akut maupun kronis jika dikonsumsi berlebihan atau dalam jangka waktu lama. Obat-obatan dalam golongan ini menurunkan kadar zat yang menjaga lapisan mukosa pelindung dinding lambung.

  • Konsumsi kokain atau alkohol berlebihan. Kokain dan alkohol dapat mengiritasi dan melukai dinding lambung sehingga bisa terpapar asam lambung. Konsumsinya yang berlebihan akan menyebabkan gastritis akut.

  • Stres fisik dan psikologis. Stres fisik yang disebabkan oleh operasi besar, cedera berat, luka bakar atau infeksi berat dapat menimbulkan gastritis akut. Stres psikologis akan memperburuk gastritis melalui peningkatan produksi asam lambung.

  • Gastritis autoimun. Pada kondisi ini, sel tubuh menyerang sel-sel yang membentuk dinding lambung, yang akhirnya dapat merusak lapisan pelindung lambung. Gastritis autoimun dihubungkan dengan kekurangan vitamin B12 serta lebih banyak ditemukan pada orang yang juga mengalami penyakit autoimun lain seperti diabetes tipe 1.

  • Penyakit lainnya. Gastritis dapat berhubungan dengan kondisi medis lain seperti HIV/AIDS, penyakit Crohn, dan infeksi parasit.
    Gastritis yang tidak terdeteksi dan tidak terobati dapat berkembang menjadi tukak lambung dan perdarahan lambung. Meski jarang, sebagian kasus gastritis kronis juga meningkatkan risiko kejadian kanker lambung.