Sukses

Informasi Umum

  • PengertianPuasa berasal dari bahasa Sansekerta, upawasa. Menurut ahli bahasa Sansekerta, upawasa bermakna ritual untuk “masuk” ke Yang Ilahi. Namun, di Jawa dipakai juga istilah lokal yaitu pasa. Pasa kemudian berkembang menjadi puasa yang bukan dari bahasa Sanskerta. Pasa sendiri artinya kekangan, mengekang, menahan sesuatu dari. Jadi, tradisi puasa sudah dikenal oleh agama-agama terdahulu, bahkan sebelum Hindu-Budha. Makna-makna puasa tersebut selaras dengan makna shaum atau shiyam di dalam ajaran Islam, yang berarti menahan diri dari makan, minum dan hubungan seksual, untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Adapun puasa pada masa pra Islam, jika dilihat dari akar katanya bertujuan spiritual. Karena makan, minum, serta berhubungan seksual cenderung menjauhkan atau melupakan kepada Tuhan.

    Puasa dan Agama

    Puasa bukan hanya semata-mata menjadi ibadahnya umat Islam. Semua agama memiliki ibadah sejenis puasa, terutama agama samawi seperti Yahudi dan Kristen. Mungkin yang berbeda hanyalah tata cara dan waktunya, akan tetapi esensi puasanya sama, yakni menahan dari sesuatu.

    Puasa dalam Yahudi

    Dalam Yahudi Puasa untuk umat Yahudi bermakna menahankan diri keseluruhannya dari makanan dan minuman, termasuk air. Gosok gigi diharamkan pada puasa hari besar Yom Kippur dan Tisha B'Av, tetapi dibenarkan pada puasa hari kecil. Umat Yahudi yang mengamalkan berpuasa sampai ke enam hari pada satu tahun. Dengan pengecualian Yom Kippur, puasa tidak dibenarkan pada hari Sabat, karena rukun menyimpan hari Sabat itu adalah menurut Alkitab (injil) ditentukan dan mengatasi hari-ari puasa berinstitusi rabbi kemudian. Yom Kippur adalah satu-satunya rukun yang mana ditentukan dalam Torah.

    Puasa dalam Kristen

    Dalam Kristen pada umumnya, ajaran puasa intinya adalah pertobatan, melawan keinginan duniawi, keinginan daging yang di maksud arti daging dalam arti kristen daging adalah manusia itu sendiri karna manusia berdaging maka umat kristen lebih sering menyebutkan manusia dalam kata-kata tertentu sebagai daging jadi artinya keinginan daging yaitu keinginan manusia itu sendiri, dan juga mengajarkan berpuasa agar sebisa mungkin tidak memberitahukan atau di ketahui kepada sesamanya yang sedang berpuasa atau sesamanya yang sedang tidak berpuasa termasuk merahasiakan hari apa dia akan mulai berpuasa, menyamarkan tubuhnya agar tidak terlihat sedang berpuasa dari orang lain bahkan sesama keyakinan sendiri, itu sebabnya Puasa Kristen pada Umumnya banyak yang tidak diketahui keberadaanya oleh keyakinan non Kristen dan media publik. Dalam beberapa aliran Kristen hanya pelaksanaan dan tata caranya saja yang berbeda inti dan tujuanya sama.

    Puasa dalam Kristen Ortodoks

    Bagi umat Kristen Ortodoks, puasa merupakan bentuk disiplin spiritual yang sangat penting, karena sering sekali disebutkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru serta mempunyai keterkaitan yang erat dengan teologi Kristen Ortodoks mengenai sinergi antara tubuh (bahasa Yunani: Soma) dan jiwa (bahasa Yunani: Pneuma). Selain itu, bagi umat Kristen Ortodoks, puasa bukan bertujuan untuk menderita, melainkan bertujuan untuk menjaga diri dari segala bentuk ketamakan, kerakusan, keserakahan, serta pemikiran, perkataan, dan perbuatan yang buruk. Dalam tradisi Kristen Ortodoks, kegiatan berpuasa diiringi pula dengan bentuk kebajikan lainnya seperti berderma serta perbanyak berdoa, bahkan disebutkan jika melaksanaan puasa tanpa diiringi bentuk kebajikan tersebut maka puasanya akan sia-sia.

    Puasa dalam Katolik

    Dalam Katolik Roma, puasa biasanya dilakukan dengan makan kenyang satu kali sehari (dalam waktu 24 jam), wajib dilakukan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung; masing-masing uskup dapat mengatur rincian ketentuan atas hal tersebut disesuaikan dengan keadaan di keuskupannya. Minum air tidak termasuk soal puasa. Namun saat sekarang ini lebih ditekankan makan kenyang satu kali sehari menahan hal-hal dari keinginan dunia dan keinginan daging (manusia), seperti tidak makan tidak minum termasuk menahan nafsu, sikap, dan juga hal-hal yang paling disukai. Ini dilakukan selama 40 hari menjelang Paskah atau di kenal sebagai masa Prapaskah. Di samping puasa resmi, secara pribadi umat Katolik disarankan untuk berpuasa pada hari-hari lain yang dipilihnya sendiri sebagai ungkapan tobat dan laku tapa. Selain berpuasa, Gereja juga mempunyai kebiasaan berpantang. Pantang diharapkan untuk dilakukan setiap Jumat sepanjang tahun, kecuali jika hari Jumat itu bertepatan dengan hari raya gerejawi. Pada hari-hari puasa dan pantang, Umat Katolik diharapkan dapat meluangkan lebih banyak waktu dan perhatian untuk berdoa, beribadat, melaksanakan olah tobat dan karya amal.

    Puasa dalam Protestan

    Dalam Protestan, keyakinan puasa Kristen Protestan tidak ada bedanya dengan katolik melawan keinginan dunia keinginan daging (manusia) yaitu puasa makan minum dan hal-hal yang tidak baik dalam tingkah laku juga pikiran. Dalam Protestan yang lain ada juga cara puasa dalam hal-hal tertentu selain puasa makan dan minum yaitu berpuasa mengenai rutinitas yang sering dilakukan yang paling disukainya. Contohnya: puasa tidak menonton TV atau puasa mendengarkan lagu selama 1 minggu, 1 bulan atau dalam jangka waktu tertentu, ada juga contoh-contoh lain yaitu rutinitas di mana kalau sedang tidak berpuasa itu sulit dihindari rutinitas.

    Puasa dalam Islam

    Dalam Islam, puasa disebut juga Shaum yang bersifat wajib dilakukan pada bulan Ramadhan selama satu bulan penuh dan ditutup dengan Hari Raya Idul Fitri. Puasa dilakukan dengan menahan diri dari makan dan minum dan dari segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat sesuai perintah dalam kitab suci umat Islam Al Quran. Puasa juga menolong menanam sikap yang baik dan kesemuanya itu diharapkan berlanjut ke bulan-bulan berikutnya dan tidak hanya pada bulan puasa. Jika didasarkan pada ritual puasa itu sendiri, maka jika kita hendak mengakhirinya atau berbuka, maka terasa bertolak belakang jika kita tidak berbuka sekadarnya saja. 

    Puasa dalam Buddhisme

    Dalam Buddhisme, puasa merupakan bagian dari pelaksanaan Atthasila yang bisa dilaksanakan pada hari uposatha atau hari apapun. Hari uposatha (bahasa Sanskerta: Upavasatha) merupakan hari dimana umat Buddha melakukan perenungan dan pengamatan yang sudah dilakukan sejak masa kehidupan Buddha Gautama dan masih dipraktikkan hingga hari ini. Buddha mengajarkan bahwa hari Uposatha diperuntukkan "membersihkan pikiran dari hal-hal kotor," yang menyebabkan ketenangan batin dan kebahagiaan.

    Secara umum, Uposatha dilakukan sekali dalam seminggu di negara-negara Theravada, sesuai dengan empat fase bulan: bulan baru, bulan purnama, dan dua kali bulan separuh.

    Puasa dalam Buddhisme merupakan pelaksanaan sila ke-6 pada Atthasila, di mana waktu berpuasa adalah setelah tengah hari hingga setelah matahari terbit. Selain berpuasa, umat Buddha juga perlu melaksanakan seluruh pantangan yang tertera pada Atthasila.

    Puasa dan Kesehatan

    Menurut penelitian, puasa menyehatkan tubuh. Diet puasa (biasanya minimum 16 jam periode puasa dan 8 jam periode makan) mulai populer untuk menurunkan berat badan. Selama periode puasa, kadar gula menurun, sehingga aktivitas di periode puasa akan menggunakan lemak sebagai sumber energi.

    Makanan berkaitan erat dengan proses metabolisme. Oleh sebab itu, dalam pemeriksaan medis tertentu yang berhubungan dengan proses metabolisme, misalnya pemeriksaan kadar glukosa darah, pasien sering kali disyaratkan untuk berpuasa dahulu.

    Puasa menggantikan sel-sel yang rusak di dalam tubuh dan menggantinya dengan sel-sel yang baru. Selain itu, puasa mampu meningkatkan kembali hormon pertumbuhan hingga 2000% pada laki-laki dan 1300% pada perempuan. Hormon pertumbuhan ini akan memfasilitasi pembakaran cadangan lemak dalam tubuh selama berpuasa. Peningkatan kembali hormon pertumbuhan dalam tubuh juga bermanfaat dalam melawan penuaan dini.