Eksklusif, Perjuangan Karier Amanda Rawles

Musa Ade diperbarui 16 Mei 2016, 08:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Mungkin nama Amanda Rawles belum begitu familiar di telinga Anda. Bisa dibilang ia merupakan bintang baru di dunia hiburan Indonesia. Meskipun bintang baru, namun perlahan tapi pasti ia mulai menunjukkan sinarnya.

****

Gadis cantik kelahiran Jakarta, 25 Agustus 2000 ini merupakan seorang artis berdarah Australia dan Indonesia. Ia memulai karier sebagai seorang model. Selain berbakat di dunia modeling, ia juga punya bakat di dunia akting.

 

Tercatat sudah ada beberapa judul sinetron dan flm yang ia bintangi. Adik dari Annisa Rawles ini memulai karier saat ia masih muda. Akan tetapi untuk mencapai kesuksesan seperti sekarang, Amanda Rawles harus jatuh bangun.

Bahkan siapa yang menyangka jika masa kecilnya dipenuhi dengan pengalaman buruk. Pasalnya anak dari pasangan Shane Rawles dan Nasriyah ini kerap mendapatkan perlakukan bullying.

Akan tetapi perlakukan bullying tersebut tidak membuat bintang sinetron Duyung ini menjadi minder. Bahkan ejek-ejekan tersebut membuat dirinya termotivasi untuk berubah.

Lantas seperti apa perjuangan karier Amanda Rawles? Seperti apa perlakuan bullying yang kerap ia terima? Dan seperti apa kriteria pacar idaman dari Amanda Rawles? Berikut ini petikan wawancara eksklusif Bintang.com dengan Amanda Rawles.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Awal Karier Amanda Rawles

Kesuksesan yang saat ini didapatkan Amanda Rawles bukan tanpa perjuangan. (Fotografer: Deki Prayoga, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Kesuksesan yang saat ini didapatkan Amanda Rawles bukan tanpa perjuangan. Bahkan ia harus ditolak berulang kali saat casting.

Awal perjuangan karier seperti apa?

Awal karierku sih sebenarnya dari mama yang nawarin aku untuk ikut casting. Dan awalnya tidak pernah dapat dan sempat tidak mau ikut casting lagi. Dan sampai akhirnya aku ditawarin masuk ke dalam suatu PH, dari situ aku mulai ikut syuting. Tapi karena aku sekolah, karierku di dunia hiburan harus berhenti. Sempat aku mencoba untuk syuting dan sekolah tapi malah berantakan semua. Akhirnya aku memutuskan untuk terjun ke dunia hiburan dan homeschooling.

Seperti apa proses belajar setelah kerap ditolak casting?

Aku sempat tidak mau casting karena memang banyak saingannya. Aku dulu juga masih kecil, tidak bisa akting, malu sama kamera dan takut jika bertemu orang baru. Sampai akhirnya step by step, aku mulai percaya diri dan mulai keterima casting.

Siapa orang yang paling berperan dalam karier?

Mama sih. Mama itu orangnya kebalikan aku. Pokoknya aku diajarin bagaimana jika bertemu orang dan harus bersikap apa.

Seperti apa peran kakak (Annisa Rawles) dalam karier?

Sebenarnya bisa dibilang kita berdua itu bareng. Malah aku duluan yang terjun di dunia hiburan. Cuma karena dia lebih dewasa dari aku, banyak kesempatan yang ia dapatkan. Jadi kita saling mendukung dan jalannya bareng-bareng.

Pernah tidak iri dengan sang kakak?

Pasti ada sih. Cuman aku itu tipe orang yang sok bijak sih. Maksudnya aku berpikir mungkin bukan rejekiku atau nggak memang ia lebih dewasa. Intinya aku tidak mau kalah, maksudnya aku juga bisa seperti dia.

Pernah tidak curhat soal karier ke kakak?

Kita berdua itu bukan yang suka iri. Kita lebih seperti kayak 'Manda, lu mau gak ambil job itu? Kalau lu mau, lu aja yang casting'. Begitu juga sebaliknya.

Seperti apa perasaannya bermain bersama Michelle Ziudith dan mendapatkan peran penting di film I Love You (ILY)?

Aku senang banget dikasih kesempatan bermain di film ini. Apalagi pemain- pemainnya juga lebih pengalaman dari aku. Menurutku ini adalah pengalaman baru. Apalagi aku dikasih peran penting di dalam film ini. Ini pertama kali dikasih peran yang lebih dewasa.

 

 

Kedepan, karakter apa yang Anda inginkan?

Sebenarnya kata orang, wajahku ini sayu jadi cocoknya untuk karakter portagonis. Aku sih nyaman dengan karakter portagonis. Sebelum aku masuk ke karakter lainnya, aku ingin menyempurnakan karakter di protagonis. Setelah itu baru untuk mencoba bermain sebagai karakter antagonis atau mungkin tomboi.

3 dari 3 halaman

Metamorfosis dari Amanda Rawles

Masa kecil Amanda Rawles dipenuhi dengan pengalaman buruk. (Fotografer: Deki Prayoga, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Masa kecil Amanda Rawles dipenuhi dengan pengalaman buruk. Pasalnya ia kerap dibully gara-gara penampilannya. Akan tetapi bullying tersebut malah memotivasi dirinya untuk menjadi lebih baik.

Dengar-dengar penampilan Anda saat kecil dan sekarang benar-benar berbeda. Bisa diceritakan?

Iya beda banget. Sampai dulu tuh, cowok tuh tidak bakal ngelirik. Pokoknya item yang tidak menarik. Terus rambutnya pendek dan lepek. Dan badannya kecil, kurus, dan pendek. Orang lain pasti tidak bakal inget. Sampai cowok yang dulu tidak mau ngelirik dan sekarang banyak yang modusin.

Apa yang membuat Anda untuk memutuskan berubah?

Sebenarnya mulai berubah setelah tidak mau berenang dan sepakbola supaya lebih putih. Kemudian aku juga sering lihat-lihat video di internet soal make-up. Sampai akhirnya aku lebih feminim.

Lebih nyaman tomboi atau feminim?

Jujur sih dua-duanya nyaman. Tapi aku kangen sih kayak dulu lagi yang bisa main di bawah terik matahari yang tidak peduli nanti jadi hitam atau nggak.

 

 

 

Pernah tidak dibully gara-gara penampilan?

Dulu waktu kecil aku pernah dibully. Kan papa itu orang Australia, jadi orang melihatnya aku itu bule. Tapi ya begitu, orang lain heran kenapa kulitku hitam dan badanku kecil. Jadi mereka bilang aku ini bule KW atau bule kampung. Tapi aku nggak stres karena sering dibully. Sampai akhirnya aku termotivasi untuk berubah tapi sebenarnya aku berubah karena tuntutan pekerjaan saja bukan karena bullyan mereka. 

Biasanya di lokasi syuting kerap ada cinta lokasi (cinlok). Seperti apa Anda menanggapi hal tersebut?

Aku punya impian itu, kalau bisa punya pasangan yang bukan berasal dari dunia hiburan.

Seperti apa kriteria pasangan Anda?

Pokoknya orangnya harus pintar dan baik. Buatku fisik itu bukan nomor satu. Yang penting baik, pintar, pengertian dan loyal.

Apakah cowok di Instagram itu sesuai dengan kriteria Anda?

Ya itu dia pacarku. Namanya Marco Teguh. Awal itu dia sempat ngemodusin aku. Lama kelamaan makin dekat. Sekarang sudah tiga bulan. Kenalnya dari teman. Awalnya sudah sering keluar bareng.

Apa yang membuat Anda dengan nyaman dengan dia? Mama mengijinkan Anda punya pacar?

Mama sih mengijinkan selama orang itu baik dan perhatian. Aku merasa dia itu orang yang pintar, ia juga pengertian banget, dewasa dan suka memotivasi aku.