Sigi Wimala dan Prioritasnya

Ratna Irina diperbarui 30 Jan 2011, 06:18 WIB

 

 

 

 

Kesibukan utama adalah mengurusi Maxine Sara, anak perempuannya yang berusia sepuluh bulan. Itu alasan Sigi hanya mengerjakan job yang nggak makan waktu lama atau yang bisa dikerjakan di rumah, sambil menjaga Max. Sehingga dia merasa belum bisa main atau bikin film, karena nggak bisa meninggalkan Max terlalu lama. Salah satunya jadi juri untuk acara TV, Just Dance, mengerjakan skrip untuk layar lebar. Serta masih jadi spokesperson Awareness Kanker Serviks. Sigi juga punya rencana untuk memulai menulis skrip untuk bikin film pendek dan mengumpulkan uang untuk modal.
Sigi mengakui kehidupannya berubah 180 derajat sejak menikah dengan Timo Tjahjanto yang berprofesi sebagai sutradara dan terutama hadirnya Max. Anak dan keluarga jadi prioritas utama.  Apalagi dia berniat untuk mengurusi segala keperluan Max sendiri. Memutuskan untuk nggak memakai jasa babysitter dan hanya sesekali dibantu oleh asisten rumah tangga. Semuanya dikerjakan sendiri bergantian dengan Timo. Sigi mengakui mereka cukup beruntung karena jam kerja mereka yang fleksibel dan nggak seperti orang kantoran pada umumnya sehingga bisa menyesuaikan jadwal masing-masing sambil mengurus Max.
Sigi masih menyusui Max sampai sekarang, alasannya karena ASI-nya masih ada dan Max nggak suka susu formula serta nggak mau pakai dot. Selain itu Sigi mengakui kalau dia nggak suka memompa ASI. Selain sakit, dia malah takut jumlahnya malah nggak cukup. Sekarang ada satu jenis susu formula yang cocok dengan Max walaupun minumnya pakai sippy cup. Berdua dengan suaminya, sering iri melihat anak-anak lain yang lancar minum susu pakai dot. Tapi akhirnya Sigi memutuskan untuk nggak memaksa Max. Yang penting, menurutnya, Max tetap sehat.
Awalnya dari dikasih Nike+ (sepatu lari yang bisa mengukur jarak dan kecepatan saat lari atau jalan. Kemudian data yang didapat bisa di-upload ke website khusus) dan saat Sigi mengaku kaget saat dia online ke web tersebut, ternyata banyak yang sudah pakai. Dan jarak yang ditempuh oleh orang-orang tersebut juga cukup gila, 10km, 15km, sampai 20km. Sigi pun mencoba serius dan akhirnya jadi ketagihan. Karena menurutnya lari seperti menantang diri sendiri untuk melewati jarak yang sudah dicapai. Sama seperti ditantang jauh-jauhan lari oleh orang lain.
Target berikutnya adalah ikut marathon atau half marathon. Dan sekarang Sigi juga sibuk mempersiapkan diri ikutan marathon di Singapura, Desember ini. Buat Sigi, ini jadi semacam cita-cita jarak pendek. Her mountain to climb. Tiap hari Minggu Sigi dan beberapa teman lari di Sudirman atau Ragunan, dan terus menambah jarak, 10, 15, 20km. Kalau hari biasa, Sigi setiap dua hari lari di treadmill. Istilah Sigi, sekarang dia jadi running junkie.
Alasan lainnya dia menekuni lari, karena pengen kurus tapi sehat. Waktu hamil Sigi sempat naik 20kg, dan hidup sehat dan teratur. Setelah melahirkan, kebiasaan hidup sehat ingin terus dipertahankannya. Makanya Sigi sudah mulai lari lagi sejak Max baru berumur beberapa bulan. Tapi jadinya sekarang mind set-nya bukan karena pengen kurus, tapi karena kepengen sehat dan ketagihan lari.
Selain badan yang sehat, lari memberikan ketenangan dan mendatangkan ide buat Sigi. Dia bilang, saat lari yang bergerak adalah badan, otak otomatis kosong. Makanya orang banyak yang mendengarkan musik saat lari. Buat Sigi, dengan lari, dia bisa berimajinasi mengkhayalkan sesuatu dan bisa jadi ide buat tulisan atau skrip. Didukung dengan playlist yang disiapkan sebelum mulai lari, agar bisa mendapatkan mood yang diinginkan. Kebetulan pengarang favorit Sigi, Haruki Murakami juga melakukan hal yang sama. Lari juga jadi semacam ‘me time’-nya Sigi.
Penggemar berat serial Musashi ini tentunya punya banyak referensi sutradara yang disukainya. Park Chan-wook adalah salah satu sutradara favorit Sigi, selain Wong Kar-Wai. Karena tampilan yang khas dan warna-warnanya bagus. Sofia Coppola juga punya gaya yang khas. Fashionable, kata Sigi. Kemudaan serta quirkiness yang terlihat jelas. Terutama di film Marie Antoinette. Floria Sigismondi, sutradara film The Runaways juga masuk dalam daftar favorit Sigi. Serta Gus Van Sant.
Awalnya jadi sutradara, sebenarnya merupakan cita-cita lama Sigi, sejak dari SMA. Tapi sempat ragu karena masih buta banget dalam hal menyutradarai film dan karena proses untuk bikin film yang panjang. Harus nyari dana sendiri, bikin atau nyari skrip yang pas, ngumpulin kru, dan sebagainya. Dapat tawaran dari LA Lights Indie Movie untuk bikin film, langsung disambar. Film karyanya yang berjudul Boy Crush mendapatkan respon yang bagus. Di film ini Sigi belajar banyak soal film, termasuk proses editing dan mewarnai.
Penyandang gelar sarjana arsitektur dan sempat bekerja di sebuah firma arsitektur, tapi Sigi nggak berniat untuk kembali serius menekuni dunia arsitektur, walaupun dia sangat menyukai dunia tersebut. Waktu yang tersita, membuat Sigi memilih proyek-proyek kecil, seperti mendesain interior apartemen. Paham arsitektur yang dimilikinya, justru lebih tersalurkan saat dia membuat film. Secara visual Sigi merasa dirinya menguasai warna, komposisi, dan look secara keseluruhan berkat latar belakang arsitekturnya.
Menurut Sigi, dari sudut pandang arsitektur, setting film bisa mempengaruhi flow film secara keseluruhan. Joko Anwar merupakan salah satu sutradara yang tampilan filmnya bagus dan dipikirkan dengan benar secara estetika. Kalau dari luar negeri, salah satunya Wong Kar-Wai. Settingnya khas dan bagus banget.
Mengaku paling males diet, Sigi termasuk perempuan dengan ukuran tubuh proporsional. Sedikit kaget saat sempat membantu teman dan jalan di catwalk baru-baru ini, karena rata-rata model yang super kurus dan kelihatan nggak sehat. Sigi merasa saat ini dia lebih sehat dan mengerti pentingnya nutrisi yang seimbang buat tubuh. Menurut dia, tubuh harus dijaga, karena tubuh merupakan kendaraan yang kita miliki sampai tua. Kalau nggak sehat dan sakit-sakitan yang rugi kita sendiri, dan biaya perawatan kesehatan pastinya nggak murah.