Denny Malik 32 Tahun Berkarya, Buat Pagelaran Bertabur Bintang

Fimela Editor diperbarui 10 Mei 2012, 13:30 WIB
Cornelia Agatha menjadi Ratu Budaya di pagelaran ini. Memperlihatkan kemampuan menarinya, Lia, panggilan singkat aktris senior tersebut, mempersilakan para penonton untuk menikmati sajian kesenian yang menjadi satu kesatuan pada malam hari itu.
Pertunjukan langsung disambung dengan Tari Tirta Merta, sebuah gerak tari yang menunjukkan keindahan batik dan kebaya untuk kecantikan seorang perempuan. Pada sequence ketiga ini, pertunjukan masih sangat terasa lambat dan agak membosankan karena tata suara yang kurang menggelegar dan tata lampu yang redup.
Anne Avantie, desainer spesialis Kebaya asal Semarang, ikut berpartisipasi dalam acara ini. Sederet koleksi kebaya indah khas Anne, diperagakan oleh para model senior seperti Ira Duati, Sarita, Citra, Dhanny Dahlan, Nana Krit, dan Elva.
Alur acara yang lambat seketika berubah cerah dan menghentak pada sequence Tari Kerincing Jago. Musik yang upbeat serta koreografi yang cepat dan bersemangat, membuat penonton seperti “bangun” lagi dan bisa mulai menikmati kembali jalannya acara.
Daniel Christianto, penyanyi seriosa muda, menyanyikan lagu “Melati di Tapal Batas”. Suara bariton Daniel dan penampilannya yang tampan, membuat laki-laki ini menjadi daya tarik tersendiri di acara malam itu.
Di tengah penampilan Daniel, tiba-tiba muncul Vicky Burki, figur yang dekat dengan dunia olahraga dan senam, untuk beratraksi berani tanpa menggunakan sling sama sekali. Vicky terlihat fit dan segar seperti dulu, sama sekali nggak terlihat bahwa ia sudah berusia 46 tahun. Badannya masih terjaga dan nggak kehilangan kelenturannya untuk meliuk-liuk sambil melayang.
Denny yang memulai kariernya sebagai penari di kelompok tari bentukan Guruh Soekarno Putra, Swara Mahardhika, ingin memperlihatkan kemampuannya sebagai koreografer berjam terbang tinggi yang menguasai berbagai teknik tari Nusantara. Tari Topeng Nusantara yang terdiri dari Topeng Greget Sari dan Topeng Gejul, menghibur penonton dengan atraksi penari bertopeng yang lincah. Uniknya, pada saat memeragakan Topeng Gejul, para penari laki-laki yang tadinya menari dengan gagah, mendadak berlenggak-lenggok centil untuk menggoda penonton.
Kain Pinawetengan khas Minahasa, Sulawesi Utara, sudah sering diperagakan di berbagai ajang fashion show, tapi masih juga banyak orang awam yang nggak mengenalnya. Di tangan Iyarita W. Mawardi, kain sulam itu disulap menjadi outfit berdesain modern, funky, dan colourful. Yang menariknya lagi, kreasi busana kontemporer itu tetap diperagakan oleh para model senior yang sama saat sequence Anne Avantie, sehingga penonton cukup terpukau dengan kepercayaan diri Citra yang memeragakan busana semini itu walaupun ia nggak muda lagi. Di sesi ini, Atalarik, Donny Damara, dan Pierre Gruno, turut memeragakan busana kreasi Kain Pinawetengan.
Tom Ibnur, sebagai sosok penari dan koreografer yang termasuk sebagai generasi ketiga di dalam peta pertumbuhan seni tari Indonesia, ikut berpartisipasi dalam pagelaran ini. Memang berasal dari Padang, Tom menarikan tarian dari Sumatera Barat secara solo. Keterlibatan Tom di pagelaran ini juga menjadi kebanggaan tersendiri untuk Denny karena laki-laki ini menjadi seperti role model untuknya.
Itang Yunasz memamerkan koleksinya yang masih berada di jalur busana Muslim dengan sentuhan Timur Tengah. Kali ini, giliran Okky Asokawati, Henidar Amroe, dan Eka sebagai jajaran peragawati senior yang comeback ke atas panggung.
Suasana makin segar ketika Wawan dari kelompok lawak Teamlo, memparodikan perjalanan karier Denny selama ini, mulai dari penari, koreografer, penyanyi, hingga bintang sinetron “Melodi Cinta” yang melambungkan namanya di awal tahun 2000-an.
Penampilan Titi DJ termasuk yang paling ditunggu malam itu. Titi menyanyikan “Bubuy Bulan” dan “Cingcang Keling” dengan cengkok khas Sunda yang cukup meyakinkan. Setelah bernyanyi, Titi sempat bertestimoni bahwa karier Denny berkembang bersamaan dengannya karena mereka sudah saling mengenal sejak kecil. “Denny bahkan sempat menjadi sosok yang ditaksir oleh Titi kecil,” akunya centil. Titi lalu lanjut bernyanyi melantunkan single terbaru ciptaannya, “Ekspresi Ekspresi” bersama trio Darajana.
Denny Malik adalah nama figur publik yang berkibar di tahun 80-an. Itulah sebabnya, ia mempersembahkan satu sekuen khusus bertajuk “Zoolook” yang mempertunjukkan seni tari breakdance dengan musik techno khas 80-an. Penonton yang besar di tahun tersebut, terlihat sangat terhibur dan terbayar rasa kangennya dengan disuguhkan tarian atraktif dan outfit penari yang warna-warni. Sangat 80-an!
Seakan ingin tetap menapakkan kaki di tren dunia hiburan sekarang, pagelaran ini menampilkan grup boyband Max 5 untuk menyanyikan hits single Denny yang memorable, “Jalan Jalan Sore” dan “Putri Impian”. Namun, semua penonton punya pertanyaan yang sama di benaknya, yaitu dimanakah Denny? Kenapa di acaranya sendiri, ia malah nggak terlihat sama sekali?
Dan inilah dia, Denny Malik, bintang malam itu. Datang ke tengah panggung dibalut jubah dan mengenakan topeng, kehadiran Denny di atas panggung bagaikan “gong” yang membuat puncak acara semakin menghentak. Satu yang pasti adalah, ia sama sekali nggak bertambah tua karena penampilan fisik dan kegesitannya menari, nggak berkurang sama sekali.
Kedatangan Denny ke panggung sekaligus menjadi tanda bahwa acara perayaan 32 tahun kariernya, sudah hampir berakhir. Sebagai sesi penutup, Daniel dan Titi berduet menyanyikan lagu “Terima Kasih”. Acara sarat budaya ini secara keseluruhan cukup menghibur dengan bisa menjadi tontonan yang membangkitkan nostalgia dan memberi wawasan baru tentang kesenian daerah yang sudah mulai terlupakan oleh generasi muda.