Reza Rahadian & Raline Shah, Bertengkar Lalu Akhirnya Saling Menggoda

Fimela Editor diperbarui 17 Des 2012, 06:00 WIB
Leila dikatakan sebagai “anak emas” Sastra Indonesia saat ini. Maka, rasanya wajar kalau peluncuran novelnya tidak biasa-biasa saja. Ia menggelar dramatic reading dengan mengajak beberapa pembaca yang terdiri dari pemain teater dan aktor yang berpengalaman. Slamet Rahardjo, Ine Febriyanti, Reza Rahadian, Raline Shah, Sitok Srengenge, dan Joko Anwar, adalah teman sekaligus para pemain yang bersedia meluangkan waktu mereka untuk membacakan buku terbaru Leila.
Dramatic reading ini tak ubahnya seperti menonton pementasan teater mini. Leila menyiapkan tayangan visual berupa potongan dokumentasi sejarah saat peristiwa G30SPKI baru terjadi, juga pidato mantan presiden Soeharto saat lengser di tahun 1997. Memang novel ini erat kaitannya dengan pergolakan politik di Indonesia, tapi Leila membentuk "Pulang" dengan gaya keperempuannya yang feminin dan mengalir dengan enak. Babak pertama dramatic reading dibuka oleh Sitok Srengenge. Pemain teater senior ini, membuka acara dengan membacakan bait pembuka buku tanpa membaca sama sekali. Pengalamannya sebagai pemain teater membuat kalimat yang cukup banyak harus dihapalnya, terlihat mudah untuk dilakukan.
Kami sedikit terbantu untuk memahami jalannya dramatic reading karena sempat membaca “Pulang” sebelum acara dimulai. Namun, tanpa mengetahui buku ini sama sekali pun, tetap bisa menikmati dan memahami novel, karena para cast yang membacakan buku ini sangat menghayati paragraf demi paragraf buku ini. Seperti Slamet Rahardjo yang mendapatkan peran sebagai Dimas Suryo. Karakter suaranya yang sejuk dan puitis, terdengar meyakinkan untuk membawakan peran sebagai seorang pengasingan yang terjebak di Prancis dan tersiksa agar bisa pulang ke Indonesia.
Di babak berikutnya, keluar Raline Shah. Aktris yang sedang bersinar ini berperan sebagai Lintang Utara, pelajar idealis dari generasi anak muda zaman sekarang yang terhubung dengan peristiwa G30SPKI di tahun 1965. Keterlibatan Raline di dramatic reading ini, patut diperhitungkan karena dia terlihat serius dan total untuk mendalami akting. Ia pun sempat bernyanyi sedikit lagu berbahasa Prancis sebagai unsur pendukung untuk menggambarkan karakternya sebagai gadis blasteran Indonesia-Prancis. Kami pun jadi makin yakin kalau ia bukan sekadar aktris berwajah cantik, tapi sebenarnya juga berbakat.
Berikutnya, hadir Reza Rahadian. Aktor laris ini mendapatkan peran sebagai Segara Alam. Jujur, sequence Reza paling menarik karena dia pandai memainkan mood penonton untuk ikut tergelitik dengan celotehannya. Unsur humor pun berhasil ia tampilkan untuk mengurangi suasana kaku. Seperti ketika Reza menegur tim musisi untuk memainkan musik dari dialog yang baru saja ia bacakan dimana menurutnya butuh efek suara pendukung. Jam terbang Reza berakting tampaknya memang sudah tak bisa dipungkiri, karena baik di depan kamera maupun di atas panggung langsung, ia mampu berperan sebagai orang lain dan menghayatinya dengan baik.
Babak selanjutnya, Reza dipasangkan berdua dengan Raline. Duduk berjauhan, bukan berarti dialog Reza dan Raline kaku dan dingin. Justru, bagian ini yang paling terasa interaktif dan menghibur. Dialog mereka yang cukup panjang, diawali dengan adegan berselisih pendapat dan bertengkar, lalu berkembang menjadi hubungan antara laki-laki dan perempuan yang saling memendam rasa suka. Setelah berpasangan dengan bagusnya bersama  Acha Septriasa di film “Test Pack”, ,tampaknya Reza bisa mendapatkan chemistry penonton jika dipasangkan degan Raline untuk sebuah film. Who knows, next movie perhaps?
Selanjutnya, keluar Joko Anwar sebagai pembaca berikutnya. Seperti apa Joko bila duduk sebagai salah satu cast sebuah pementasan? Di sinilah kami bisa melihat kalau Joko sebenarnya punya bakat alami untuk berakting. Ada sedikit dialog yang dibacakannya dengan kurang tepat, tapi secara keseluruhan, mendengarkan cerita dari penuturan Joko tak mengecewakan.
Joko juga sempat beradu dialog dengan Reza, dan hasilnya...sequence mereka menarik tawa penonton. Kombinasi usil Reza dan konyol Joko, lucu tanpa terasa dan terlihat berlebihan.
Ada Ine Febrianti juga di acara ini. Aktris yang sudah lama tak terlihat di arena televisi ini, tampil di sequence penghujung. Banyak berpengalaman di teater, mimik, aksen, dan gestur Ine ketika memerankan Surti, seorang istri dari buronan poilitik yang dikejar oleh pihak tentara, terlihat dan terdengar meyakinkan. Penonton bahkan sampai terdiam ketika ia membacakan bagian dialog tentang kekerasan seksual yang terdengar deskriptif dan meyakinkan. Mendapat bagian dialog yang sedih dan menguras emosi, Ine bahkan sampai meneteskan air mata.
Pementasan dramatic reading ini rupanya bukan acara biasa, karena sebenarnya juga menjadi kado ulang tahun untuk Leila yang memang berulang tahun di tanggal cantik 12 Desember 2012. Ketika acara selesai, para cast, sahabat, serta semua pengunjung acara malam itu, kompak menyanyikan lagu ulang tahun untuknya sambil membawakan kue, memberikan bunga, dan memberi kesempatan pada Leila untuk make a wish dan meniup lilin di atas panggung.
Cara Leila untuk merilis novelnya patut diberi pujian. Beberapa orang awalnya menganggap bahwa novel ini adalah bacaan yang berat dan susah dipahami. Namun, dengan diperkenalkan melalui dramatic reading, otomatis menggelitik semua pengunjung untuk ikut membaca bukunya agar bisa mengetahui ceritanya secara lengkap, dan memang ternyata memang enak dibaca. Leila berkali-kali menegaskan kalau cerita ini adalah fiksi, namun berkat penceritaan Leila yang realis dan apa adanya, tetap saja membuat kami bergidik ngeri membayangkan betapa kelamnya negara ini pascakejadian tersebut. Sebuah novel yang patut dinikmati. Bukan hanya untuk memperluas khasanah tentang sejarah Indonesia, tapi juga bisa menjadi bacaan penghibur di kala senggang.