Saya Sungguh Menyesal

FimelaDiterbitkan 21 Desember 2009, 07:51 WIB
Vemale.com - "Sudah setahun berlalu, namun saya masih ingat betapa menyakitkannya hal itu. Hanya karena sebuah salah paham sepele yang tak kunjung diselesaikan akhirnya hubungan saya dengannya kandas...Seharusnya saya bilang saja waktu itu. Seharusnya saya menjelaskan padanya dengan detail mengapa saya melakukan hal itu..." ujar Diah (bukan nama sebenarnya). Penyesalan memang selalu datang belakangan. Namun, kita juga tahu bahwa tidak baik juga bila terlalu lama berlarut-larut dalam penyesalan. Setelah tahu bahwa kita harus berubah dengan memperbaiki diri, maka kini saatnya untuk bangkit, meninggalkan penyesalan, belajar darinya, dan melangkah maju ke depan. Namun, sebelum kita meninggalkan penyesalan itu, pastikan kita sudah mendapatkan hikmah dari semuanya itu. Jadi, bagaimana agar kita bisa bangkit dari penyesalan? Berhenti menyangkal Semakin lama kita berpikir bahwa hal tersebut tidak seharusnya terjadi, maka semakin dalam kita jatuh dalam penyangkalan akan kenyataan, dan sikap demikian sama sekali tidak sehat. Banyak orang membuang energi mereka berjuang mempertahankan "hal itu seharusnya tidak terjadi". Mati-matian menyangkal apa yang telah terjadi bukanlah penyesalan yang sehat, karena hal tersebut tidak menghasilkan apa-apa dan tidak membawa kita ke mana-mana. Memang mungkin hal itu tak seharusnya terjadi. Anda tak seharusnya berkata sekasar itu, dia tak seharusnya memutuskan hubungan hanya gara-gara masalah sms, namun bila itu telah terjadi, maka terimalah. Itu sudah terjadi, Anda tidak bisa mengubahnya, namun Anda masih bisa memperbaikinya. So, move on! Kenali emosi penyesalan Ada beberapa emosi yang biasa dirasakan oleh manusia, yakni sedih, marah, senang, dan takut. Sedih dan marah merupakan dua emosi yang sering timbul akibat penyesalan, misalnya "Aku menyesal tak bertemu dengannya sebelum dia pergi." Dan, emosi tersebut sah-sah saja untuk dirasakan. Kita justru disarankan untuk mengakui dan merasakan emosi itu agar kita dapat segera keluar darinya. Jadi, akui saja, ucapkan itu! Misalnya, "Aku sedih karena aku begitu kasar tadi." atau "Aku marah padanya karena ia salah mengerti maksudku." Bila perlu, Anda dapat menuliskan emosi penyesalan yang Anda rasakan, bahkan hal-hal yang paling menyakitkan sekalipun. Pengakuan ini akan membuat Anda lega dan Anda pun telah siap untuk langkah selanjutnya. Beri waktu untuk diri Merasa menderita hingga timbul sikap mengasihani diri sendiri merupakan reaksi yang wajar jika kita kehilangan sesuatu atau seseorang. Ditinggal pacar, kehilangan teman, pekerjaan, maupun impian yang kandas hanya gara-gara hal sepele. Namun, sekali lagi tetap ada batas waktu untuk itu semua. Begitu Anda tidak merasa sedih lagi, tidak marah lagi, maka bangkit dan jalani hidup selanjutnya. Bukalah diri untuk kesempatan baru atau orang lain. Hargai yang masih ada Okelah, mungkin Anda sekarang sedang duduk di depan album foto sambil memandangi si dia dengan penuh penyesalan. "Mengapa aku tidak menahan dia dulu agar tidak pergi?!" mungkin begitulah sebagian gerutu yang terlontar dari bibir Anda. Hmm....Lalu apa? Orang yang menyesali sesuatu begitu sibuk memfokuskan diri pada hal-hal yang disesalinya. Padahal pasti selalu ada hal baik lainnya yang masih bisa diperhatikan atau dilakukan. Katakan dia sudah pergi, namun bukankah Anda masih bisa mencari dia lagi? Atau, bila hal itu tidak mungkin dilakukan, maka Anda harus belajar merelakan kepergiannya, dan membuka hati buat yang lain. Jadi, daripada membuang waktu meratapi hal-hal yang disesalkan, maka mari kita alihkan fokus pada hal-hal yang masih ada. Seorang bijak berkata, "Jika dalam hidupmu hanya tersisa bahkan hanya tinggal satu titik saja, maka itu berarti masih ada harapan. Jadi, tetaplah pegang satu titik itu." Bersandarlah pada motivasi kasih atau cinta Jarang sekali ada hal yang bila dilakukan dengan motivasi cinta akan berakhir dengan yang namanya penyesalan. Namun, jika motivasi tersebut sedikit saja dicemari oleh yang namanya ketakutan, maka yang terjadi adalah hal-hal yang menimbulkan penyesalan. Coba saja ingat kembali hal-hal yang membuat Anda menyesal pada masa lalu, maka Anda akan mendapati bahwa motif di balik kejadian itu telah dipengaruhi oleh unsur ketakutan. Ketakutan menyebabkan seseorang bertindak bodoh, dan itulah yang menghasilkan penyesalan. Jadi, belajarlah untuk bertindak dengan motivasi kasih mulai sekarang! Saat Anda menghadapi pilihan maka pilihlah keputusan/ tindakan yang bermotivasikan cinta. Contoh: Anda melihat suami sedang ngobrol dengan wanita yang tidak Anda kenal. Anda bingung harus bagaimana. Apakah Anda harus menginterupsi pembicaraan mereka? Atau membiarkan suami karena Anda percaya padanya? Kebanyakan kita mungkin akan melakukan aksi pamer 'halo, saya istrinya', dan kemudian kecurigaan tersebut bisa berujung pada pertengkaran yang timbul karena suami merasa tidak dipercayai. Untuk aksi pamer tersebut, jelas ada unsur ketakutan yang dirasakan, misalnya takut suami selingkuh, takut kehilangan suami, dan lain-lain. Jadi, pertimbangkan tiap tindakan dengan baik, agar Anda tidak menyesalinya. Dan, bila Anda salah memilih, maka maafkan diri Anda, kemudian bangkitlah dan lanjutkan hidup Anda. Semangat!!! (vem/meg)
What's On Fimela