Love It Change It Leave It

FimelaDiterbitkan 22 Juli 2010, 15:00 WIB
Vemale.com - Sudah susah-susah menelusuri dengan seksama, eh malah jalan buntu. Alhasil, Anda harus kembali lagi ke awal dan mulai mencari jalan baru. Berlaku saat hendak pergi ke rumah teman yang baru pertama kali Anda sambangi, atau bisa bermakna konotasi. Maksudnya? Oke, jika Cosmo beri tanda kutip pada kata “jalan”, maka kalimat tadi punya makna baru. “Jalan” disini bisa berupa hubungan percintaan, pekerjaan, pertemanan, bentuk tubuh, seks, atau sekadar hidup yang Anda jalani. Contoh yang paling gampang, pekerjaan. Bisa jadi Anda sudah bekerja di sana lebih dari $ tahun, dan selam 3 tahun 11 bulan Anda benci pekerjaan tersebut. Alhasil, tiap bertemu dengan teman lama atau pacar Anda hanya mengeluh, mengeluh, dan mengeluh tentang ini, itu pekerjaan. Agar masalah tak jadi kronis, Anda harus memilih antara tiga pilihan: mencintainya (love it?) mengubahnya (change it?) atau meninggalkannya (leave it?). Hah, bisa jadi itu kalimat singkat, tapi percaya deh, tak akan pernah singkat untuk mencari keputusan mana yang terbaik. Jika jatuh pada pilihan yang pertama, artinya Anda menelan semua keburukan kantor dan jalani dengan lapang dada dan (gulp...) penuh cinta. Jika misalnya Anda memilih yang kedua, artinya ada yang perlu diubah; dalam hal ini bisa jadi rasa benci di dada. Atau jika sudah muak, Anda selalu punya pilihan yang ketiga; keluar dan cari pekerjaan lain. Tricky-nya, mana keputusan paling baik dengan sedikit penyesalan? Menurut Patrick Lindsay, penulis NOW IS THE TIME : 170 WAYS TO SEIZE THE MOMENT, memang paling mudah jika berkutat pada sisi negatif dari suatu hal. “Ini namanya paralysis by analysis, yaitu saat Anda terus-terusan merasa khawatir akan sesuatu hingga hal tersebut sukses mendominasi hidup dan Anda akhirnya berhenti untuk mencari solusinya.” Err, that doesn’t sound nice. Terbayang hasilnya hanya menjalani tiap hari tanpa gairah, nafsu, hilang arah tanpa cita-cita sama sekali. Sekarang saatnya, Ladies. Get up, stand up, and make the right choice! Good versus bad Ada kalanya Anda bikin keputusan yang baik. Sangat baik, malah! Tanpa perlu banyak berpikir, Anda langsung memutuskan dengan yakin. Sampai sekarang, tak ada tuh, penyesalan sedikit pun atas keputusan tadi. Misalnya saja, keputusan untuk ambil jurusan kuliah dulu. Anda menyenangi tiap detiknya tanpa adanya paksaan dalam diri untuk belajar. Jauh dalam diri, Anda tahu ini adalah yang Anda mau. Ada kalanya juga, Anda ragu saat mengambil keputusan. Ada rasa bingung, canggung, khawatir saat hendak memilih sesuatu. Bahkan setelah Anda berkata pada diri sendiri, “Ini pasti benar!” tetap saja rasanya ada yang mengganjal di hati. Setelah melihat ke belakang, ternyata insting Anda yang benar. Oh well, nasi sudah menjadi bubur. Sebelum bikin keputusan, pasti ada pertimbangannya. Iya kan? Ada informasi (sadar atau tidak) yang sebenarnya terpampang di depan mata. Tinggal Anda melihatnya dan menjadikan ini sebagai bahan pertimbangan, atau tak menghiraukannya sama sekali. Bisa dalam bentuk nyata (Anda lihat mantan selingkuh, tapi diam saja dan masih saja bingung untuk mengakhiri hubungan atau tidak) atau sekedar insting atau sinyal persona semata. Nah, bagaimana melatihnya agar lebih....hmmm, tajam? Pikirkan sesuatu yang Anda benci; orang buang sampah sembarangan, menyerobot antrean, suara ribut berlebihan, dan sebagainya. Saat Anda memikirkan hal-hal tadi, bagaimana Anda tahu kalau Anda tak suka? Sensasi macam apa yang terjadi hingga sampai pada keputusan kalau Anda tak menyukainya? Mungkin pernah ada pengalaman buruk di baliknya, atau ada gambaran tak menyenangkan yang muncul di kepala akibat hal tadi. Setelahnya akan muncul suara dalam hati. Saat “suara hati” berbicara, kenali ini, dengarkan saat (dalam hati) Anda sebal bahkan sampai bersumpah serapah karenanya. Kini, pikirkan sesuatu yang Anda sukai, yang memberi banyak kesenangan hingga kadang Anda lupa waktu! Akan muncul sensasi yang berbeda saat membayangkan sesuatu yang Anda tak suka dan yang Anda senangi. Ingatkan diri Anda akan sensasi-sensasi tersebut dan perhatikan kualitas dari “gambar” yang Anda visualisasikan di kepala tadi. Ini akan membantu Anda untuk menentukan pilihan. 10-10-10 Ada satu cara menarik yang dijabarkan oleh Suzy Welch melalui bukunya 10-10-10. “Pikirkan dampak dari keputusan Anda 10 menit, 10 bulan, hingga 10 tahun ke depan, dari segala aspek. Mulai dari rasa takut, keinginan, hingga kebutuhan yang akan tercapai dari keputusan tersebut.” Dengan begitu, Anda bisa memproyeksikan yang mungkin terjadi di masa sekarang, pengaruhnya untuk rencana jangka pendek juga panjang dari kehidupan Anda. 1. Proses dari 10-10-10 dimulai dari sebuah pertanyaan. “Haruskah saya menunda pernikahan?” misalnya. 2. Setelah Anda bertanya pada diri sendiri, lanjutkan dengan mengoleksi data-data yang ada di sekitar Anda. Bisa ditulis, diingat-ingat, ketik di komputer, dari percakapan dengan teman, apapun yang nyaman bagi Anda. Yang penting di proses ini adalah Anda mesti jujur dalam menjawab tiga poin penting: apa dampaknya keputusan ini untuk 10 menit (sekarang), 10 bulan (jangka pendek), hingga 10 tahun ke depan (jangka panjang)? Tulis pros and cons dari keputusan berdasarkan time frame tadi. 3. Untuk yang pertama, dampaknya bisa terlihat jelas, karena akan terjadi dalam waktu dekat. Banyak hal yang bisa Anda proyeksikan di pikiran untuk mendapatkan hasil di poin ini. Lalu 10 yang kedua. Meski 10 bulan terdengar lama, tapi gambaran yang mungkin akan terjadi masih cukup jelas, berbeda dengan 10 yang ketiga; di mana dampaknya sangat samar. 4. Saatnya menganalisa. Setelah data dan informasi yang Anda kumpulkan tadi terpapar dengan jelas, saatnya membandingkan dengan nilai-nilai yang Anda anut. Mulai dari kepercayaan, tujuan hidup, impian, angan, dan kebutuhan. “Setelah mengetahui semua pilihan dan konsekuensinya, keputusan mana yang paling baik untuk menciptakan kehidupan yang SAYA inginkan?” Kita ambil contoh yang awal tadi, yaitu ingin menunda menikah. Nah, apa kira-kira dampaknya 10 menit kemudian? Well, tak banyak. Semua masih berjalan lancar, dan si dia akan menjemput Anda untuk pergi nonton Sex and The City 2. lalu, 10 bulan kemudian? Ini sudah masuk ke bagian yang lumayan sulit. Dilihat dari usia, tujuan hidup, dan target Anda, apakah menunda pernikahan adalah pilihan yang bijak? Apakah ia akan setuju dan menunggu? Belum lagi jika berbicara mengenai 10 tahun ke depan. Dapatkah Anda melihat dirinya dengan Anda di masa itu? Apa yang kira-kira sedang Anda berdua lakukan? Jika sekarang Anda berdua bertengkar tiap hari, apakah 10 tahun lagi masih sama polanya? Aksi sekarang bisa mengubah masa depan. Bisa saja 10 tahun lagi Anda berdua malahan sedang honeymoon kedua di Bali. You decided. 5. Saatnya memutuskan. Menunda dan meminta waktu lebih lama lagi tak menjamin keputusan yang diambil akan lebih baik. Ingat bahwa tak ada keputusan yang sempurna, karena tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. And that’s the beauty of life. Hidup tak akan seseru ini jika misteri masa depan sudah terpampang jelas. [initial] Source: Cosmopolitan, Juni 2010, halaman 182 Provided by:
(Cosmo/miw)
What's On Fimela