Tenun Ikat Sumba Dan Sebuah Pengakuan

FimelaDiterbitkan 18 April 2012, 10:52 WIB

Berlangsung di ruang kementerian Departemen Pendidikan & Kebudayaan Republik Indonesia kemarin, (17/4), Pemerintah Indonesia mengumumkan pengajuan tenun ikat Sumba sebagai "Warisan Budaya Tak Benda" pada tahun 2013, yang telah disampaikan ke UNESCO.

Hadir dalam konferensi Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bidang Kebudayaan, Ibu Wiendu Nuryanti, Mr. Hubert Gijzen selaku Direktur UNESCO Jakarta Office, Ketua Cita Tenun Indonesia, Okke Hatta Rajasa serta sebagai moderator Arief Rachman yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO.

Dalam persiapan yang hanya dua bulan, pihak Cita Tenun Indonesia bekerja sama dengan kementerian Departemen Pendidikan & Kebudayaan Republik Indonesia, mempersiapkan semua keperluan dokumen - dokumen, dan telah diterima oleh UNESCO. [quote]

Mr. Hubert Gijzen mengatakan bahwa tenun Sumba ini merupakan suatu warisan yang hidup dengan manusianya, dan karenanya diperlukan pelestarian dari generasi ke generasi lainnya.

“Kita patut bersyukur bahwa pengusulan pengakuan dunia bagi tenun Sumba sudah diterima oleh Unesco 11 hari yang lalu, dan untuk itu kementerian pendidikan dan Kebudayaan juga mencoba menyosialisasikan kepada masyarakat. Demam untuk mencintai produk – produk budaya Indonesia ini harus terus-menerus ditularkan dan disebarluaskan,” ucap Wiendu, sebagai Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Menurut Wiendu diharapkan usaha ini menjadi inspirasi bagi warisan-warisan budaya lainnya untuk bisa juga dikukuhkan oleh UNESCO. Mengapa pengakuan Unesco dianggap penting, pada konferensi pers, Wiendu menjelaskan bahwa warisan budaya ini selain sebagai bagian dari ekspresi nilai budaya, juga sebagai perekat sosial yang akan memberikan dampak ekonomi yang luar biasa. Sebagian besar penenun merupakan para wanita yang bisa menafkahi keluarganya, oleh karena itu program – program khusus bagi penenun ini akan bisa berdampak mengurangi kemiskinan.

Merujuk dari kesuksesan batik, yang sejak dicanangkan hingga kini batik telah dapat menyerap hingga 1 trilyun nilai ekonomi, naik 300 persen lebih dari nilai sebelumnya. Pengakuan Unesco ini mau tidak mau membawa dampak ekonomi. Wiendu juga berharap mudah – mudahan jika nanti pengakuan tenun dapat diberikan Unesco, kesuksesannya bisa mengikuti batik, tentu saja dengan dukungan seluruh pihak, mulai dari para pengrajin, desainer, aspek – aspek pendukung lainnya. Menurut Wiendu, dan telah diterapkan oleh para pengrajin dibantu CTI, tenun ikat ini tidak hanya bisa fokus pada keperluan busana saja, untuk keperluan pernik interior juga sangat bagus dan berpotensi.

Arief Rachman juga mengatakan kriteria yang diusulkan dari pengakuan Unesco harus memenuhi sisi orisinalitas, otentik, memiliki dampak budaya juga ekonomi, dalam rangka untuk menjaga agar suatu bangsa tidak kehilangan warisan budaya mereka.

(vem/ana/miw)