Balita dan Permainan “Dokter-dokteran”

FimelaDiterbitkan 14 September 2013, 01:35 WIB

Moms, apakah Anda masih ingat permainan dokter-dokteran semasa kecil? Anak Anda pasti juga melakukan hal kurang lebih sama, bermain dokter-dokteran bersama temannya. Sebenarnya tanpa kita sadari permainan ini menyimpan pelajaran tentang pendidikan seks.

Anak-anak merupakan individu yang sangat ekspresif. Beberapa dari mereka akan memegang organ vital mereka hanya untuk mengekspresikan rasa ingin tahunya. Dalam www.resourceful-parenting.com, American Academy of Pediatrics (AAP) menyatakan bahwa itu bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan karena hal tersebut termasuk normal. Alihkan perhatian anak jika mereka mulai melakukannya di depan umum, tetapi jangan langsung memarahi atau menghukum mereka begitu saja.

Namun rasa ingin tahu mereka ini perlu diwaspadai. Bermain dokter-dokteran memungkinkan anak untuk mengeksplorasi organ seksual anak lain dan juga dirinya sendiri. Untuk itu perlu adanya pengawasan yang ketat dari para orang tua.

Salah satu hal yang bisa ditekankan pada anak adalah bahwa organ seksual merupakan area pribadi yang tidak seharusnya dipertontonkan atau diketahui dengan bebas oleh orang banyak. Tambahkan pula penjelasan tentang fungsi organ tersebut kepada anak.

Untuk mengatasi rasa ingin tahu anak terhadap seks, lebih baik jika Moms mengajarkannya sendiri kepada anak setiap kali ada kesempatan. Memang sih Moms, tidak ada waktu bahkan kurikulum tertentu terkait kapan dan bagaimana orang tua harus mengajarkan anaknya tentang seks. Tapi, dengan penjelasan ringan melalui kejadian sehari-hari, seperti Moms sedang hamil, hal ini bisa menjadi langkah kecil namun bermanfaat yang bisa dilakukan.

Laman female.kompas.com juga menguatkan melalui pernyataan bahwa mengajari anak tentang seks jauh sebelum masa sekolah akan lebih baik. Laman yang sama juga melansir survey yang yang menyebut setidaknya lebih dari 12,47 persen orangtua merasa enggan mengenalkan seks sejak dini pada anak dan merasa sekolahlah yang harus bertanggung jawab penuh untuk memberikan pendidikan seks tersebut.

Pikir punya pikir nih Moms, jika Anda setuju dengan hasil survey tersebut, mana yang menurut Anda lebih baik bagi anak? Diajari orang tua sendiri atau hanya bergantung kepada guru di sekolah yang notabene juga orang asing?

Oleh: Hening

(vem/rsk)
What's On Fimela