Seks di Jaman Romawi Kuno

FimelaDiterbitkan 06 Oktober 2013, 14:34 WIB

“Hubungan seksual adalah suatu hubungan yang dilakukan dengan menggesek – gesekkan ke bagian dalam seorang wanita, yang diikuti oleh rasa kejang sebelum akhirnya keluarlah lendir” begitulah penjelasan Marcus Aurelius, seorang warga Romawi kuno, tentang apa itu hubungan seksual sebenarnya.

Di jaman Roma kuno, seperti yang dijelaskan pada psychologytoday.com, disebutkan bahwa seorang pria memiliki kedudukan dan derajat yang lebih tinggi dari para wanita. Saat itu para wanita tidak berhak mendapatkan pendidikan ataupun juga mengeluarkan suara dalam sebuah pemilihan umum.

Diskriminasi terhadap wanita tidak hanya berhenti disitu saja – pria memiliki kendali penuh terhadap wanita. Hubungan seksual saat itu dianggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekedar proses mencari kenikmatan semata.

Prinsip – prinsip kepercayaan di jaman Romawi kuno saat itu dapat dengan mudah dilihat dari kebiasaan hubungan yang sudah diatur dan dilakukan. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana dualitas pria dan wanita diabadikan dengan memasangkan 12 Dii Consentes atau yang lebih dikenal dengan gambaran dewa – dewa agung dari Romawi.

Di jaman yang sama, anal seks memiliki posisi yang sangat berbeda dengan bagaimana masyarakat saat ini memandang gaya seksual tersebut. Saat itu, jika seorang pria melakukan anal seks dengan istrinya, maka pria tersebut dianggap berperan sebagai wanita dan sebaliknya. Nah yang anehnya lagi, seks anal yang dilakukan antara pria dan pria dianggap sesuatu yang jauh lebih hebat daripada seks biasanya.

Oleh: Marintan Widi Lestari

(vem/rsk)
What's On Fimela