Tuhan, Apa karena Diriku Berbeda maka Tak Ada Jodoh Untukku?

Endah Wijayanti diperbarui 23 Feb 2021, 10:21 WIB

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Ansi Rima Paramita

Siapa yang tidak mau menikah? Siapa yang tidak mau punya anak? Siapa yang tidak ingin punya keluarga sendiri? Setiap perempuan ditanya seperti ini pasti ingin. Target menikah jangan ditanya pastinya sudah lewat, entahlah apa bulan Agustus tahun ini ada perubahan atau masih aku lalui sendiri.

Terlahir tunggal dengan kelainan jantung bawaan jenis PDA (patent ductus aertoritis) kelainan jantung bawaan tidak biru walau sudah operasi di usia 12 tahun tetapi mengubah masa laluku, dari kecil penolakan dari lingkungan selalu aku terima. Karena fisik lemahku yang tidak boleh kecapaian membuatku menjadi sedikit memiliki teman.

Banyak tetangga yang tidak boleh anaknya saat kecil bermain bersamaku karena takut aku mati tiba-tiba, dan mereka tidak mau disalahkan. Saat kecil di mana anak lain bisa bermain karet, petak umpet atau galaxyn setiap aku memaksa ikut main hanya dapat anak bawang.

Sering aku menangis dan berkata pada papa dan mama apa salahku kenapa mereka begitu kejam. Mereka bilan, "Tidak usah menangis. Kamu bisa bermain bersama pembantu di rumah."

Saat usia sekolah penolakan kembali kuterima karena merasa dibedakan dengan teman-teman lainnya karena takut sakitku kumat. Terutama bila pelajaran praktik mereka tidak memperbolehkanku mengikuti pelajaran berat terutama olahraga.

Keputusanku mengambil jurusan perhotelan sempat ditentang oleh dokter jantung yang merawatku termasuk keluarga tetapi tekadku bulat bahwa aku mampu dan bisa seperti perempuan lain. Pekerjaanku saat ini adalah pendidik di dunia perhotelan. Mencintai dunia kerja dengan versi terbaikku.

2 dari 2 halaman

Tetap Berjuang Menjalani Hidup dengan Baik

ilustrasi./Photo by Leah Kelley from Pexels

Setiap laki-laki yang dikenalkan, kucintai atau mencintai selalu memilih pergi atau keluarganya menolak setelah tahu kondisi fisikku yang mungkin kecil harapan melahirkan normal, kemungkinan punya anak dengan sakit yang sama. Setiap sakit harus minum antibiotik karena takut kuman atau bakteri masuk melalui aliran daerah dan mengancam jantung, serta setiap tahun harus kontrol rutin ke dokter jantung.

Terkadang bertambah usia semakin jenuh dan selalu sedih bila harus datang reunian, kondangan atau acara kerja. Ketemu teman lama atau orang baru yang tidak tahu bahwa masih sendiri mereka mungkin tidak bermaksud bertanya, "Suamimu kerja di mana? Anakmu sudah berapa?" Dan mereka akan berbisik sambil tertawa usia lebih dari 30 mana ada yang mau.

Keluarga besarku pun mulai sering bertanya. Karena adik sepupuku bahkan beberapa keponakanku sudah menikah sedangkan aku masih memilih sendiri. Bukan karena kriteriaku tinggi tetapi belum ada laki-laki yang siap  dan keluarganya yang ikhlas menerimaku jadi bagian keluarga mereka dengan segala kekuranganku.

Aku sering bertanya pada Tuhan dalam setiap doa. Apa salahku? Kenapa masih sendiri? Seburuk inikah diriku sehingga tidak ada laki-laki yang berniat menjabat tangan ayahku saat ijab qobul di depan penghulu? Seburuk inikah diriku hingga tidak ada yang berjuang untukku ? Entahlah hanya Tuhan yang tahu kapan mimpiku bisa terwujud dan membuat papaku dan almarhumah mamaku bisa tersenyum di sana.

#ElevateWomen