Orangtua Wajib Tahu, Ini Kebiasaan Pagi yang Mengganggu Fokus Anak

Alyaa Hasna HunafaDiterbitkan 14 Mei 2026, 15:30 WIB

Fimela.com, Jakarta - Pagi hari sering jadi waktu paling sibuk di rumah. Orang tua buru-buru untuk bekerja, anak dikejar jam sekolah, suasana pun jadi serba tergesa. Tanpa disadari, pagi yang penuh tekanan seperti ini bisa jadi awal yang kurang baik untuk anak, karena mood dan fokus mereka ikut terbawa sepanjang hari. Kondisi ini kerap dianggap wajar, padahal dampaknya cukup besar.

Melansir laman georgegervinprepacademy.org anak-anak belum sepenuhnya bisa mengatur emosi dan waktu seperti orang dewasa. Saat pagi hari dipenuhi teriakan, terburu-buru, atau panik karena kesiangan, otak anak masih menyimpan stres tersebut saat mereka sudah duduk di kelas. Akibatnya, anak jadi sulit fokus, gampang terdistraksi, dan tidak siap menerima pelajaran. 

Kebiasaan pagi yang terlihat sepele, seperti bangun terlalu mepet, melewatkan sarapan, atau mencari barang di detik terakhir, ternyata punya dampak besar. Sama seperti orang dewasa yang badmood seharian karena pagi yang kacau, anak pun merasakan hal serupa, hanya saja mereka belum tahu cara menenangkan diri dengan cepat. Kebiasaan ini sering terulang tanpa disadari oleh orang tua.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Pagi yang tenang bikin anak lebih percaya diri dan siap belajar

Suasana emosional di rumah sangat memengaruhi kondisi anak. (foto: jcomp/freepik)

Rutinitas pagi yang tidak teratur juga membuat anak merasa tidak aman. Anak butuh pola yang bisa ditebak agar pikirannya lebih tenang. Ketika mereka tahu apa yang akan dilakukan setelah bangun tidur, mandi, sarapan, lalu berangkat sekolah, otak anak lebih rileks dan siap berkonsentrasi. Rasa aman inilah yang membantu anak lebih mudah menyerap pelajaran.

Masalah lain yang sering jadi akar dari pagi yang berantakan adalah kurang tidur. Anak yang tidur terlalu malam cenderung bangun dalam kondisi lelah, rewel, dan sulit diajak kerja sama. Sebagus apapun rencana pagi yang dibuat, semuanya akan terasa berat kalau anak belum mendapatkan waktu tidur yang cukup. Karena itu, rutinitas pagi sebaiknya dimulai dari kebiasaan malam hari.

Selain itu, suasana emosional di rumah sangat memengaruhi kondisi anak. Jika pagi hari diisi dengan nada tinggi, emosi, dan tekanan, anak akan membawa perasaan itu ke sekolah. Sebaliknya, pagi yang tenang, meski sederhana, bisa membuat anak merasa lebih percaya diri dan nyaman saat belajar. 

3 dari 3 halaman

Rutinitas pagi sederhana yang bikin anak lebih tenang dan fokus

Rutinitas pagi membentuk suasana hati dan mental anak. (foto: jcomp/freepik)

Membangun pagi yang lebih tertata sebenarnya tidak harus rumit. Menyiapkan tas dan baju sekolah sejak malam, bangun sedikit lebih awal, serta menghindari layar gadget di pagi hari bisa membantu mengurangi kekacauan. Sarapan sederhana pun sudah cukup untuk memberi energi pada otak anak. Kebiasaan kecil ini bisa memberi perubahan besar jika dilakukan konsisten.

Yang sering terlupakan, anak juga butuh koneksi emosional di pagi hari. Pelukan singkat, obrolan ringan, atau senyum sebelum berangkat sekolah bisa memberi rasa aman. Anak yang merasa diperhatikan cenderung lebih tenang dan mampu fokus menghadapi aktivitasnya. Momen singkat ini bisa jadi bekal emosional yang penting bagi anak.

Pada akhirnya, rutinitas pagi bukan sekadar soal disiplin, tapi tentang membentuk suasana hati dan kesiapan mental anak. Pagi yang terlalu kacau bisa menghambat fokus dan kepercayaan diri mereka. Namun, dengan perubahan kecil dan konsisten, orang tua bisa membantu anak memulai hari dengan lebih tenang, fokus, dan siap belajar. 

 

Penulis: Alyaa Hasna Hunafa