Dari Swedia ke Indonesia, Gagasan Ingvar Kamprad dan Inovasi Produk yang Relevan di Indonesia

hilya KamilaDiterbitkan 27 Maret 2026, 17:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Pada 1943, IKEA didirikan oleh Ingvar sebagai usaha pemesanan via pos, menjual berbagai barang kecil, dan mendistribusikan produk dengan efisien. Beberapa tahun kemudian, ia mulai melihat peluang agar membuat banyak orang tertarik dengan menjual perabot rumah tangga.

Untuk mewujudkan itu, Ingvar bekerja langsung dengan produsen dan memperkenalkan cara-cara baru dalam memajang serta mengirim produk, termasuk mendorong komitmen IKEA yang selalu berupaya untuk melakukan inovasi produk dengan menyeimbangkan antara tampilan, bentuk, dan fungsi terhadap produknya.

Selain itu, Ingvar juga tetap berusaha untuk menjaga nilai-nilai IKEA dengan mengutamakan inovasi produk melalui prinsip kesederhanaan, tanggung jawab serta keberanian dalam inovasi yang berkelanjutan. Untuk menjamin keberlanjutan jangka panjang, pada 1982 Ingvar membangun struktur yayasan yang menjaga independensi IKEA dan memastikan keuntungan kembali diinvestasikan untuk mengembangkan perusahaan dan mendukung inisiatif sosial. Ia meyakini bahwa IKEA ada untuk banyak orang dan keberhasilan harus memberikan manfaat bagi mereka yang membutuhkan.

Gagasan tersebut ternyata berdasarkan nilai yang ia bawa dari tanah kelahirannya, yaitu di Småland, Swedia. Nilai-nilai tentang kesederhanaan, efisiensi, dan desain yang berpihak pada banyak orang tetap terasa relevan di Indonesia. Contoh hal yang relevan dengan kebiasaan di Indonesia adalah  keluarga yang berbagi satu ruang untuk berbagai kegiatan. Dalam keseharian seperti itu, gagasan Ingvar tentang rumah yang fungsional, terjangkau, dan dekat dengan kehidupan nyata terasa semakin relevan dengan masyarakat Indonesia, berdasarkan cara tinggal yang kreatif dan sederhana.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Filosofi yang Tetap Relevan dengan Keadaan

Produk-produk IKEA memiliki desain sederhana, multifungsi, dan memiliki banyak manfaat yang tak terlihat. (Foto/dok: IKEA Indonesia)

Visi IKEA adalah menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih baik bagi banyak orang. Dengan menawarkan rangkaian produk perabot rumah tangga yang fungsional, desain yang berkualitas tinggi serta harga yang terjangkau, memungkinkan banyak orang untuk membelinya. Selain itu, produk-produk IKEA memiliki desain sederhana, multifungsi, dan memiliki banyak manfaat yang tak terlihat. Produk IKEA dikemas dengan simple sehingga memungkinkan konsep do-it-yourself.

Hal itu selaras dengan gagasan dan ide yang diusung oleh pendiri IKEA tersebut. Pada 1976, Ingvar merangkum pemikirannya dalam prinsip The Testament of a Furniture Dealer, sebuah dokumen yang jauh lebih personal dibanding buku manajemen pada umumnya. Isinya sederhana, yaitu untuk menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih baik bagi banyak orang, keputusan harus dibuat dengan jujur dan efisien, dan keberanian mencoba cara baru harus selalu dijaga.

Dari prinsip inilah, democratic design lahir yang berusaha untuk memastikan keseimbangan antara fungsi, bentuk, kualitas, keberlanjutan, dan keterjangkauan. Pendekatan ini terasa jelas di Indonesia seperti pelanggan yang memilih produk tidak hanya karena bentuknya, tetapi juga fungsinya dalam kehidupan sehari-hari. Rak yang sekaligus menjadi partisi, tempat tidur dengan penyimpanan tambahan hingga kotak dan keranjang yang membantu rumah tetap tertata. Hal itu menunjukkan bahwa produk berfungsi sebagai solusi, bukan sekadar benda.

3 dari 3 halaman

Produk yang Relevan Hadir di Indonesia

Ingvar mengatakan bahwa rumah tidak harus besar, tetapi yang penting adalah bagaimana setiap sudut beradaptasi. (Foto/dok: IKEA Indonesia)

Pertumbuhan compact living space di kota-kota besar mengakibatkan semakin banyaknya keluarga kecil. Selain itu, gaya hidup yang terus berubah juga membuat kebutuhan akan solusi rumah semakin tinggi. Bagi pasangan muda, rumah menjadi titik awal perjalanan bersama. Sementara itu, rumah adalah tempat anak bertumbuh sekaligus tempat bekerja bagi keluarga. Untuk mereka yang tinggal sendiri, ruang yang ringan dan mudah dirapikan sering menjadi kebutuhan yang utama.

Dalam konteks seperti ini, nilai yang dibawa Ingvar terasa sangat dekat dengan kehidupan di Indonesia. Rumah tidak harus besar, tetapi yang penting adalah bagaimana setiap sudut beradaptasi dan bagaimana ruang bisa mengikuti kebutuhan sehari-hari. Keseharian yang terus bergerak inilah menjadikan warisan Ingvar relevan hingga kini di Indonesia.

“Warisan Ingvar selalu berangkat dari hal-hal sederhana, memahami apa yang benar-benar dibutuhkan orang di rumah. Kami melihat bagaimana banyak orang Indonesia menata ruang dengan cara yang kreatif agar kehidupan sehari-hari terasa lebih nyaman. Tantangan seperti ruang terbatas atau rutinitas yang padat, justru mendorong munculnya solusi yang cerdas dan dekat dengan kehidupan nyata. Semangat itulah yang terus menginspirasi kami dalam menghadirkan solusi yang relevan dan terjangkau bagi banyak orang.” ujar Ririn Basuki, Public Relations Manager IKEA Indonesia.