Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernahkah Anda mendengar tentang Hantavirus dan Leptospirosis? Kedua penyakit ini, yang ditularkan oleh hewan pengerat, berpotensi sangat membahayakan kesehatan manusia. Waspada terhadap ancaman tersembunyi dari tikus di sekitar kita menjadi sangat penting.
Hantavirus adalah kelompok virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat tanpa menyebabkan mereka sakit. Namun, saat menular ke manusia, virus ini dapat menyebabkan kondisi serius, bahkan mematikan. Penularannya terjadi terutama melalui kontak dengan urin, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi.
Penyakit ini tersebar luas di berbagai belahan dunia, dari Eropa hingga Amerika, dengan gejala yang bervariasi. Memahami cara penularan, gejala, serta langkah pencegahannya adalah kunci untuk melindungi diri dan keluarga dari risiko infeksi yang dapat menyerang paru-paru atau ginjal.
Mengenal Hantavirus: Definisi dan Cara Penularan yang Perlu Diketahui
Hantavirus merupakan virus zoonosis yang termasuk dalam famili Hantaviridae, ordo Bunyavirales. Virus ini secara alami menginfeksi hewan pengerat seperti tikus, mencit, dan tikus sawah sebagai inang tanpa menyebabkan penyakit pada mereka. Setiap jenis hantavirus umumnya terkait dengan spesies inang pengerat tertentu.
Penularan Hantavirus ke manusia terjadi terutama melalui kontak dengan urin, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Manusia dapat terinfeksi dengan menghirup aerosol yang terkontaminasi partikel virus dari kotoran hewan pengerat yang kering. Aktivitas seperti membersihkan ruang tertutup atau berventilasi buruk, pekerjaan pertanian, kehutanan, dan tidur di tempat tinggal yang dipenuhi hewan pengerat meningkatkan risiko paparan.
Penularan juga dapat terjadi, meskipun lebih jarang, melalui gigitan hewan pengerat atau jika partikel terkontaminasi tertelan atau menyentuh mata/hidung setelah kontak dengan permukaan yang terkontaminasi. Penting diketahui bahwa penularan dari manusia ke manusia sangat jarang terjadi dan hanya didokumentasikan untuk virus Andes di Amerika Selatan, khususnya di Argentina dan Cili. Hal ini berbeda dengan Leptospirosis, penyakit bakteri yang juga ditularkan oleh tikus, namun umumnya melalui kontak kulit yang lecet atau mukosa dengan air atau tanah yang tercemar urin tikus.
Dua Sindrom Utama Hantavirus: HCPS dan HFRS dengan Gejala Berbeda
Hantavirus menyebabkan dua sindrom klinis utama pada manusia, tergantung pada jenis virus dan lokasi geografisnya. Kedua sindrom ini memiliki tingkat keparahan dan gejala yang berbeda.
a. Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS) atau Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)
- Terjadi di Amerika Utara, Tengah, dan Selatan.
- Merupakan penyakit pernapasan parah yang berkembang pesat, memengaruhi paru-paru dan jantung.
- Tingkat kematian kasus bisa mencapai 30-50%.
- Gejala biasanya muncul antara satu hingga delapan minggu setelah paparan.
- Gejala awal dapat meliputi: demam, sakit kepala, nyeri otot (terutama paha, pinggul, punggung, bahu), gejala gastrointestinal (sakit perut, mual, muntah, diare), kelelahan ekstrem, pusing, dan menggigil.
- Empat hingga sepuluh hari setelah fase awal, gejala akhir HPS muncul, termasuk batuk dan sesak napas. Pasien mungkin mengalami sesak di dada karena paru-paru terisi cairan.
b. Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)
- Terjadi di Eropa dan Asia.
- Penyakit ini terutama memengaruhi ginjal dan pembuluh darah.
- Tingkat kematian kasus bervariasi dari 1-12%.
- Gejala biasanya berkembang dalam 1 hingga 2 minggu setelah paparan, meskipun dalam kasus yang jarang bisa sampai 8 minggu.
- Gejala awal muncul tiba-tiba dan meliputi: sakit kepala hebat, nyeri punggung dan perut, demam/menggigil, mual, penglihatan kabur, wajah memerah, ruam, dan mata merah atau sakit.
- Pada tahap selanjutnya, dapat terjadi tekanan darah rendah, gangguan pendarahan, dan gagal ginjal.
- Bentuk HFRS yang lebih ringan, yang disebut Nephropathia Epidemica (NE), disebabkan oleh hantavirus Puumala dan terjadi di Eropa.
Diagnosis, Pengobatan, dan Pencegahan Efektif Hantavirus
Diagnosis awal infeksi hantavirus bisa sulit karena gejala awalnya mirip dengan penyakit demam atau pernapasan lainnya, seperti influenza, COVID-19, pneumonia virus, atau bahkan Leptospirosis. Riwayat pasien yang cermat sangat penting, dengan perhatian khusus pada kemungkinan paparan hewan pengerat, risiko pekerjaan dan lingkungan, riwayat perjalanan, serta kontak dengan kasus yang diketahui di daerah di mana hantavirus ada. Konfirmasi laboratorium mengandalkan pengujian serologis untuk mendeteksi antibodi IgM spesifik hantavirus atau peningkatan titer IgG, serta metode molekuler seperti reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR) selama fase akut penyakit.
Saat ini, tidak ada pengobatan antivirus spesifik atau vaksin berlisensi untuk infeksi hantavirus. Perawatan bersifat suportif dan berfokus pada pemantauan klinis yang ketat serta penanganan komplikasi pernapasan, jantung, dan ginjal. Akses awal ke perawatan intensif, bila diindikasikan secara klinis, meningkatkan hasil, terutama untuk pasien dengan sindrom kardiopulmoner hantavirus. Dalam kasus yang parah, intubasi dan ventilasi mekanis mungkin diperlukan untuk mendukung pernapasan dan membantu mengelola cairan di paru-paru. Penyakit parah mungkin memerlukan perawatan extracorporeal membrane oxygenation (ECMO) untuk memastikan pasokan oksigen yang cukup. Ribavirin adalah satu-satunya obat yang digunakan dalam infeksi hantavirus parah di Eropa.
Pencegahan infeksi hantavirus terutama bergantung pada pengurangan kontak antara manusia dan hewan pengerat. Langkah-langkah efektif meliputi:
- Menjaga kebersihan rumah dan tempat kerja.
- Menutup celah yang memungkinkan hewan pengerat masuk ke dalam bangunan.
- Menyimpan makanan, air, dan sampah dalam wadah tertutup rapat.
- Menggunakan praktik pembersihan yang aman di area yang terkontaminasi hewan pengerat, seperti membasahi area terkontaminasi sebelum membersihkan dan menghindari penyapuan kering atau menyedot kotoran.
- Memperkuat praktik kebersihan tangan.
- Menempatkan perangkap tikus di seluruh bangunan.
- Menjaga kebersihan halaman dan menumpuk kayu bakar jauh dari bangunan.
Tidak ada vaksin untuk infeksi hantavirus, sehingga menghindari paparan adalah kunci. Sementara itu, untuk Leptospirosis, pencegahan juga melibatkan penghindaran kontak dengan air atau tanah yang mungkin terkontaminasi urin tikus, terutama setelah banjir.