Mengapa Anak Tidak Mau Nurut dan Mendengarkan? Kenali 7 Alasan Utamanya

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 15 Mei 2026, 12:09 WIB

ringkasan

  • Anak tidak mendengarkan bukan selalu karena pembangkangan, melainkan kombinasi faktor perkembangan, emosional, dan situasional yang kompleks.
  • Penyebab umum meliputi otak yang masih berkembang, gangguan perhatian, kurangnya motivasi, pola komunikasi orang tua, serta faktor emosional dan masalah mendasar.
  • Membangun komunikasi yang tenang, koneksi emosional, disiplin positif, serta memahami perspektif anak adalah kunci untuk mendorong mereka mendengarkan.

 

Fimela.com, Jakarta - Orantua sering merasa frustrasi karena si kecil seolah punya telinga tapi tidak mendengar saat dipanggil atau diberi tahu? Tenang, Anda tidak sendirian, banyak orangtua merasakan hal yang sama. Rasanya seperti berbicara dengan tembok, ya?

Nah, sebelum kita buru-buru melabeli si kecil 'bandel' atau 'susah diatur', ada baiknya kita pahami dulu akar permasalahannya. Ternyata, ada banyak faktor di balik perilaku mengapa anak tidak mendengarkan, lho. Ini bukan cuma soal kemauan, tapi juga perkembangan mereka.

Mulai dari faktor perkembangan otak sampai gaya komunikasi kita sebagai orangtua, semuanya bisa jadi pemicu. Yuk, kita kupas satu per satu agar komunikasi dengan si kecil jadi lebih efektif dan menyenangkan!

Menurut Kristen Cook, MD, dari Psychology Today, ketika anak tidak mendengarkan, biasanya ada satu atau lebih dari tiga alasan utama. Pertama, mereka tidak sepenuhnya memproses apa yang kamu katakan karena perhatian, gangguan, dan perkembangan otak. Kedua, mereka tidak merasa termotivasi untuk merespons karena tidak ada urgensi atau manfaat yang jelas. Ketiga, mereka telah belajar bahwa mereka tidak harus mendengarkan pada kali pertama, terutama jika instruksi sering diulang atau dinegosiasikan.

What's On Fimela
2 dari 7 halaman

Otak Si Kecil Masih Berkembang, Wajar Kalau Belum Jago Mendengar

Memberikan perhatian pada perilaku buruk dan mengabaikan perilaku patuh juga bisa memperkuat kebiasaan tidak mendengarkan. Jadi, penting untuk konsisten dan memberikan konsekuensi yang jelas agar anak tahu batasan. (Freepik).

Mendengarkan itu bukan bakat lahir, tapi keterampilan yang dipelajari, lho. Otak anak, terutama balita, masih terus berkembang, khususnya bagian yang mengatur kontrol impuls, perhatian, dan kemampuan mengikuti instruksi multi-langkah. Jadi, wajar banget kalau mereka belum jago mendengarkan dan memproses informasi secepat kita.

Korteks prefrontal, bagian otak yang bertanggung jawab untuk belajar, empati, kontrol impuls, dan pengambilan keputusan, belum sepenuhnya matang pada anak kecil. Makanya, jangan heran kalau kadang mereka butuh waktu lebih lama untuk merespons atau memahami instruksi yang kamu berikan.

3 dari 7 halaman

Terlalu Asyik Bermain? Perhatian Anak Memang Gampang Terpecah

Pernah kan, ketika memanggil si kecil berkali-kali tapi dia tetap asyik dengan dunianya sendiri? Ini bukan berarti dia sengaja mengabaikanmu, tapi perhatian anak memang mudah terpecah, apalagi kalau mereka sedang fokus bermain atau menonton layar.

Anak kecil seringkali hanya bisa fokus pada satu hal dalam satu waktu. Jadi, kalau mereka sedang seru-serunya dengan mainan atau gadget, sulit bagi mereka untuk langsung mengalihkan perhatian dan mendengarkanmu.

4 dari 7 halaman

Anak Belajar dari Pola Kita, Hati-hati Kebiasaan Mengulang Perintah

Tanpa sadar, kita kadang menciptakan pola yang membuat anak belajar untuk tidak mendengarkan pada kali pertama. Misalnya, kalau orangtua sering mengulang permintaan, meninggikan suara, atau bahkan mengancam, anak akan belajar bahwa mereka tidak perlu merespons sampai orangtua 'serius'.

Memberikan perhatian pada perilaku buruk dan mengabaikan perilaku patuh juga bisa memperkuat kebiasaan tidak mendengarkan. Jadi, penting untuk konsisten dan memberikan konsekuensi yang jelas agar anak tahu batasan.

5 dari 7 halaman

Faktor Emosi dan Gaya Komunikasi Orangtua Juga Berpengaruh Lho

Hubungan emosional yang kuat antara orangtua dan si kecil itu penting banget untuk menginspirasi kerja sama. Kalau anak merasa tidak terhubung atau tidak dihormati, mereka mungkin kurang termotivasi untuk mendengarkan.

Gaya komunikasi kita juga berperan besar. Berteriak bisa membuat pusat pembelajaran di otak anak 'mati', instruksi yang tidak jelas membingungkan, dan menggunakan 'you statements' (misalnya, 'Kamu berantakan sekali!') bisa membuat mereka merasa diserang. Sebaliknya, mendengarkan aktif dan menggunakan nada tenang akan membuat anak lebih mau merespons.

6 dari 7 halaman

Waspada, Ada Masalah Tersembunyi di Balik Sikap Tidak Mendengar

Kadang, perilaku tidak mendengarkan bisa jadi indikasi adanya masalah yang lebih dalam. Anak-anak bisa mengalami stres atau kewalahan yang membuat mereka sulit fokus. Pada remaja, masalah kesehatan mental seperti kecemasan atau depresi juga bisa jadi pemicu.

Selain itu, masalah pendengaran, gangguan spektrum autisme (ASD), ADHD, atau kesulitan bahasa juga dapat memengaruhi kemampuan anak untuk mengikuti aturan dan mendengarkan. Jika kamu khawatir ada masalah medis atau perkembangan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan profesional, ya.

7 dari 7 halaman

Strategi Jitu Agar Si Kecil Mau Mendengarkan Kamu

Melihat berbagai alasan mengapa anak tidak mendengarkan, kita bisa menerapkan beberapa strategi jitu untuk memperbaikinya. Pertama, komunikasi yang tenang dan jelas itu kunci. Gunakan kalimat pendek, positif, dan langsung.

Kedua, pastikan kamu mendapatkan perhatian anak sebelum berbicara. Lakukan kontak mata dan panggil namanya. Ketiga, bangun koneksi dan rasa hormat dengan meluangkan waktu berkualitas dan mendengarkan mereka secara aktif. Keempat, terapkan disiplin positif dan konsekuensi yang konsisten. Terakhir, coba pahami perspektif anak dan berikan peringatan sebelum transisi aktivitas.

Jadi, memahami mengapa anak tidak mendengarkan itu penting banget untuk membangun komunikasi yang lebih baik. Dengan mengenali faktor perkembangan, emosional, dan situasional yang memengaruhi si kecil, kamu bisa menerapkan strategi komunikasi yang lebih efektif dan menciptakan hubungan yang lebih harmonis. Selamat bereksperimen dan semoga komunikasi dengan si kecil makin lancar, ya!