Sukses

Beauty

11 Mitos Seputar Sembelit Akhirnya Terjawab

Vemale.com - Mitos, tak tahu pasti darimana asalnya. Yang jelas setiap mitos memang perlu diselidiki lebih dulu benar-tidaknya. Jika selama ini Anda kerap mendengar berbagai mitos seputar sembelit atau konstipasi, yang diragukan kebenarannya, maka Anda bisa mendapatkan jawabannya di sini. 1. Mitos: BAB harus setiap hari. Standar 'normal' tiap orang berbeda. Beberapa orang BAB 3 kali sehari, lainnya, 3 kali seminggu. Meski BAB rutin setiap hari adalah yang paling umum, namun tak mengapa bila ternyata Anda tak bisa rutin melakukannya. Seseorang dianggap mengalami konstipasi jika BAB-nya kurang dari sekali seminggu. Jika ini yang terjadi, maka Anda harus segera menemui dokter. 2. Mitos: Konstipasi menghasilkan racun dan masalah kesehatan. Beberapa orang percaya bahwa konstipasi dapat menyebabkan tubuh menyerap racun ketika kotoran tertahan. Mereka percaya hal ini bisa menimbulkan beragam penyakit seperti radang sendi, asma, dan kanker usus besar. Namun sebenarnya tak ada bukti kuat tentang hal itu. 3. Mitos: Konstipasi berarti seseorang kurang serat. Serat memang bisa membantu penyembuhan konstipasi, namun kadang konstipasi juga bisa disebabkan penyakit lain seperti stroke, diabetes, tiroid, atau Parkinson. Tak jarang, sembelit juga menjadi pertanda adanya kanker colorectal. Segera temui dokter jika konstipasi tak kunjung sembuh hingga lebih dari 2 minggu atau jika terjadi pendarahan, rasa sakit saat BAB, atau penurunan berat badan yang tak masuk akal. 4. Mitos: Permen karet yang tertelan bisa tersangkut di lambung dan menyebabkan konstipasi. Tentu saja hal itu tak benar adanya. Bagian permen karet yang tak bisa dicerna tetap dapat dikeluarkan dari tubuh melalui BAB, biasanya setelah beberapa hari. Sangat jarang, menelan permen karet dalam jumlah banyak/ sering bisa memblokir sistem cerna, terutama jika Anda menelannya dengan makanan lain yang juga tak mudah dicerna. 5. Mitos: Menahan BAB takkan melukai tubuh. Terlalu malas BAB ketika sedang asyik bekerja? Atau, lebih suka melakukannya di rumah sendiri... Masalahnya, mengabaikan kebutuhan BAB ketika 'saatnya tiba' tak hanya akan membuat tubuh jadi tak nyaman, namun juga memicu terjadinya sembelit. Beberapa orang menetapkan waktu rutinnya sendiri, namun kapanpun panggilan alam tersebut datang, Anda sebaiknya tak menolaknya. 6. Mitos: Semua serat 'berkualitas' sama. Serat tak mudah larut mampu mempermudah BAB lebih baik daripada serat larut. Sumbernya adalah roti gandum, pasta, dan sereal. Sedangkan serat larut dalam air biasanya ditemukan dalam buah dan sayuran segar. Untuk merangsang pertumbuhan bakteri baik dalam usus besar, cobalah mengonsumsi buah-buahan sitrus atau jenis polong-polongan. 7. Mitos: Kopi bisa menyembuhkan konstipasi. Adalah benar bila kafein dalam kopi bisa menstimulasi otot sistem cerna agar berkontraksi, namun kopi tak bisa membantu menyembuhkan sembelit karena sifat diuretik-nya yang justru memicu tubuh sering buang air kecil (padahal tubuh butuh air agar 'pembuangan' lancar). Jadi jika Anda sembelit, lebih baik jauhi minuman diuretik seperti alkohol, teh berkafein, dan cola. 8. Mitos: Obat pencahar selalu membantu. Obat pencahar mungkin bisa membantu memperlancar BAB sementara waktu, namun takkan menyembuhkan konstipasi. Obat pencahar malah bisa menyebabkan konstipasi pada orang dewasa jika mereka mengonsumsinya secara rutin. Obat pencahar juga dapat merusak usus besar sehingga memicu timbulnya masalah lain. Lebih baik berkonsultasi dengan dokter sebelum mengambil pengobatan sendiri. 9. Mitos: Minyak jarak bisa jadi obat mujarab untuk segala penyakit. Minyak jarak merupakan obat pencuci perut yang kuat, namun tak seperti obat lainnya, minyak ini sebaiknya jarang digunakan. Menggunakannya secara berlebih bisa mencederai kemampuan tubuh dalam menyerap nutrisi dan obat lainnya. Minyak ini bisa melukai otot usus, saraf-saraf, dan jaringan sekitar usus bila digunakan berlebihan. Gunakan sesuai petunjuk dokter. 10. Mitos: Konstipasi hanya masalah orang dewasa. Orang berusia lanjut tampaknya cenderung lebih muda terkena konstipasi. Hal ini dikarenakan kondisi medisnya, kurangnya nutrisi, penggunaan obat-obatan dalam jumlah banyak, dan kurang gerak. Namun, konstipasi bisa menyerang siapa saja, dengan berbagai range umur, tak terkecuali untuk ibu hamil, melahirkan, atau setelah operasi. 11. Mitos: Adalah normal bila terjadi pendarahan. Darah yang keluar saat BAB memang tak selalu berakibat serius, namun sebaiknya Anda selalu menghubungi dokter ketika hal tersebut terjadi. Darah warna merah terang yang keluar biasanya berasal dari bawasir atau luka pada bagian dubur. Konstipasi dan susah payah saat mengejan bisa menjadi penyebabnya. Sedangkan darah yang cenderung gelap biasanya menandakan adanya pendarahan dari area cerna yang lebih ke bagian dalam, satu ini penyebabnya bisa jadi serius. (vem/meg)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

    Loading