Sukses

Health

Upaya Atasi Kasus KLB Polio, Kemenkes Petakan Daerah yang Berisiko Tinggi

Fimela.com, Jakarta Setelah ditemukannya kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) Polio di Kabupaten Pidie, Aceh beberapa waktu lalu membuat masyarakat dan pemerintah waspada terhadap kemungkinan  buruk yang akan terjadi. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia saat ini tengah melakukan surveilans ke seluruh provinsi di Indonesia untuk memetakan daerah mana saja yang berisiko tinggi terjadi KLB Polio.

Melansir dari Liputan6.com, Staf Ahli Bidang Politik dan Globalisasi Kesehatan Kemenkes RI yakni Kirana Pritasari, menyampaikan bahwa pemetaan daerah berisiko tinggi KLB Polio ini dilakukan dengan melihat kriteria dari cakupan imunisasi rutin, termasuk persentase imunisasi Polio yang rendah.

Kirana menyampaikan bahwa pemetaan daerah risiko tinggi KLB Polio ini merupakan salah satu bentuk upaya penanggulangan KLB Polio. Ia juga menegaskan bahwa Polio sangat berbahaya bagi anak-anak, karena penyakit menular ini dapat mengakibatkan kelumpuhan atau kecacatan. Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah melakukan imunisasi rutin lengkap pada anak, khususnya imunisasi Polio lengkap.

Imunisasi Polio lengkap mencakup pemberian Polio Tetes (Bivalent Oral Polio Vaccine/bOPV) pada bayi usia 1-4 bulan, dan pemberian Polio Suntik (Inactivated Polio Vaccine/IPV) pada bayi usia 4 bulan.

"Kita mengetahui bahwa penyakit Polio sangat berbahaya bagi anak. Karena akan menyebabkan kelumpuhan dan tidak ada obatnya. Akan tetapi, dapat dicegah dengan mudah melalui upaya pencegahan lewat imunisasi yang lengkap serta imunisasi (rutin) yang lain," ucap Kirana.

Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat

Selain melakukan imunisasi Polio lengkap, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat juga salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan KLB Polio. Kirana mengungkapkan hal tersebut dapat dilakukan dengan Buang Air Besar (BAB) di jamban yang sesuai dengan standar serta rajin mencuci tangan pakai sabun menggunakan air bersih sebelum makan dan sesudah BAB.

Hal ini ia sampaikan lantaran dari hasil pemeriksaan feses tiga anak yang positif virus Polio tanpa gejala lumpuh layuh mendadak di Kabupaten Pidie, Aceh pada bulan November lalu, menunjukkan bahwa pasien masih kurang menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Ditemukan bahwa masih ada penduduk yang menerapkan BAB di ruang terbuka seperti di sungai.

Meskipun toilet sudah tersedia, lubang pembuangannya langsung mengalir ke sungai. Sedangkan air sungai juga dipakai untuk berbagai aktivitas penduduk, salah satunya untuk tempat bermain anak-anak.

Lakukan imunisasi rutin pada anak

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) beserta dukungan dari berbagai pihak telah menyelenggarakan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) tahun 2022 dalam rangka Pekan Imunisasi Sedunia. Hal ini dilakukan demi mengejar cakupan imunisasi rutin. Tahap Pertama pelaksanaan BIAN telah dimulai pada Mei 2022 yang meliputi Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Sementara itu, Tahap Kedua telah dilakukan pada awal bulan Agustus 2022 di Pulau Jawa dan Bali. Kirana mengatakan bahwa imunisasi rutin merupakan pelindung bagi anak-anak Indonesia agar terhindar dari berbagai penyakit, termasuk Polio.

Sebelumnya, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat juga melaporkan kasus Polio setelah menemukan virus Polio dalam air limbah di pinggiran kota New York dan melakukan pengumpulan sampel pada bulan Juni hingga akhirnya mengumumkan bahwa terdapat seorang warga di Rockland County, New York yang terjangkit Polio pada 21 Juli 2022 lalu. Penemuan kasus tersebut menunjukkan bahwa terdapat lebih banyak orang yang kemungkinan membawa virus Polio lewat tinja mereka.

Jumlah provinsi risiko tinggi KLB Polio

Laporan cakupan imunisasi rutin Kemenkes per 29 November 2022 mencatat bahwa terdapat 2 provinsi dengan risiko tinggi KLB Polio karena memiliki cakupan vaksinasi tetes di bawah angka 60 persen pada tahun 2020.

Plt. Direktur Imunisasi Kemenkes RI Prima Yosephine memaparkan, ada 13 provinsi lain yang berisiko tinggi karena cakupan imunisasi rutin hanya berkisar 60-79 persen. Lalu ada 13 provinsi juga yang cakupannya sedang, sebesar 80-94 persen. Kemudian ada 6 provinsi dengan capaian imunisasi rutin cukup baik untuk imunisasi Polio yakni di atas 95 persen.

Jika dilihat berdasarkan kabupaten/kota, dari 514 kabupaten/kota, tercatat 60 daerah yang sangat berisiko dengan cakupan imunisasi di bawah 60 persen. Selanjutnya, ada 132 kabupaten/kota yang risikonya tinggi antara 60 sampai 79 persen cakupan imunisasi rutin. Ada pula risiko sedang sebanyak 166 daerah, dan yang resiko rendah ada 154 kabupaten/kota.

"Demikian juga untuk imunisasi suntikan (IPV), hanya Yogyakarta di tahun 2020 (yang memenuhi target cakupan imunisasi). Namun, untuk kabupaten/kota sebagian besar berisiko tinggi dan sangat tinggi,” terang Prima.

 

*Penulis: Frida Anggi Pratasya.

#Women for Women

Loading