Sukses

Lifestyle

Kita Saling Jatuh Cinta Sekian Lama, Tapi Nyatanya Semesta Tak Mengizinkan Bersama

Fimela.com, Jakarta Cinta memang tidak harus bersama, Sahabat Fimela pasti sudah sering mendengar kalimat seperti itu kan? Karena dalam kehidupan nyata, seperti itu adanya. Itu juga yang diceritakan seorang perempuan berikut ini.

Ditulis Nancy Lang dalam Yourtango, ia mengaku bertemu dengan cinta pertamanya Fred di usia 17 ketika Fred sendiri berusia 24 tahun. Kami berada dalam satu produksi teater musikal lokal yang sama, tapi tida pernah bertemu sebelumnya. Kami dipersatukan ilahi ketika menyanyikan "You Gotta Have Heart" untuk acara penggalangan dana.

Fred berambut merah dengan bintik-bintik wajah yang menggemaskan. Dia memiliki senyuman manis, mata bersinar dengan setiap guyonan yang lucu, dan tawa uniknya sangat menular, membuat hatiku meleleh diam-diam. Selama berminggu-minggu kami berlatih dan bercanda untuk mengenal satu sama lain sambil berbagi kecintaan dalam teater. Kami saling memahami sehingga tidak butuh waktu lama sebelum benih-benih cinta itu muncul dan dia mengajakku berkencan.

Kami bagai panci dan tutupnya, berbagi banyak hal bukan hanya soal teater, stand-up comedy dan makanan favorit yang sama, tapi juga selera film, musik dan candaan yang sama. Kata orang usia bukanlah masalah saat jauh cinta, tapi ternyata itu jadi awal kedekatan kami berubah.

Takdir tidak menyatukan cinta kami

Ketika aku masuk kuliah aku tak bisa bertemu dengannya dan aku sangat merindukannya. Sekali waktu kamu menemukan kesempatan saling menelpon dan memberi kabar, terkadang ketika tengah malam setelah ia pulang dari shift kerjanya. Suaranya sangat menenangkan, tapi hubungan jarak jauh tidak cocok untuk kami. Kami sempat balikan setelah aku lulus kuliah tapi hubungan itu pun tak berhasil.

Setelah mengalami konflik batin, aku akhirnya menyadari kami memang tidak bisa menjalani hubungan ini. Anggap saja pandanganku tentang masa depan yang aman dan nyaman secara finansial tidak cocok dengannya. Aku butuh seseorang yang bisa menyeimbangkan sisi kreatif sekaligus memberikan rasa aman. Aku merasa Fred tidak akan stabil secara finansial di masa depan meskipun aku mencintainya.

Lima tahun berlalu dan aku merindukannya. Dan meskipun aku sudah menikah dengan pria lain, setiap kali pergi ke komunitas aku selalu berharap bisa bertemu dengannya. Tapi sisi lain diriku juga merasa bersalah karena mengakhiri hubungan dengan cara yang tak baik. Tapi aku ingin bertemu dengannya, untuk minta maaf.

Setelah mencari-cari informasi, akhirnya aku mendapatkan nomor teleponnya. Aku menghubunginya dan mengajak bertemu. Aku memastikan diri mengatakan padanya bahwa aku sudah menikah dan sedang hamil agar ia tidak salah paham. Saat ia berjalan menemuiku, jantungku berdebar. Ia menyapaku dengan pelukan ringan seperti yang sering ia lakukan dulu. Pelukannya berarti banyak bahkan tanpa bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Dia sakit dan aku menemaninya

Kami duduk dan membicarakan banyak hal. Ia belum menikah dan kehidupannya baik-baik saja. Kami membicarakan perpisahan kami dan saling minta maaf. Persahabatan kami lebih berarti ketimbang pertengkaran tersebut dan setuju bertemu sesekali sebagai teman.

Kami kembali berteman seperti dulu. Namun sepertinya aku jadi lebih sering bertemu dengannya. Aku sadar aku harus fokus dengan kehidupan rumah tanggaku dan aku memutuskan mengurangi pertemuan dengannya dan hanya saling kontak lewat telepon. Suatu ketika, Fred menelpon dengan nada suara yang berbeda, aku tahu ada yang tidak beres.

Ia mengatakan ia mengidap kanker paru-paru. Aku menangis, begitu pun dia. Aku mengunjungi dan menemaninya menjalani kemoterapi di rumah sakit saat sendirian. Singkat cerita setelah beberapa minggu tidak bertemu, aku mendapat telepon dari ibunya, memintaku untuk mengucapkan salam perpisahan pada Fred.

Aku datang dan melihat tubuhnya yang sudah sangat kurus dan lesu. Aku menyentuh wajahnya dan ia membuka mata sekilas dengan penuh cinta. Kukatakan terima kasih karena sudah menjadi bagian penting dalam hidupku. Kukatakan aku mencintainya dan akan selalu seperti itu. Ia tersenyum dan menutup mata. Ia sudah damai di sana.

Apa pun alasannya, kami memang tak ditakdirkan bersama di dunia ini. Namun aku bahagia bisa menemaninya hingga kepergian terakhirnya.

#ChangeMaker with FIMELA

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Update Corona 12 September: Dari 3.806 Kasus Baru Covid-19, DKI Jakarta Sumbang 1.205
Artikel Selanjutnya
Perasaan Lebih Sering Sensitif Belakangan Ini? Ahli Menyatakan Ini Efek Pandemi