Sukses

Parenting

Keluarga, Tempat Terbaik Selamatkan Penderita Anorexia

Vemale.com - Ketika mendapati putri tunggalnya pingsan karena kurang makan, Ratih bingung bercampur malu karena semua orang seakan menuduhnya tidak merawat anak dengan baik. Langsung saja emosinya terpancing karena keluarganya termasuk kalangan berada dan dia merasa telah mencukupi keluarganya dengan makanan-makanan mewah. Apalagi ketika pihak medis menyatakan anaknya mengidap anorexia nervosa, Ratih semakin tidak mengerti mengapa anaknya sampai seperti itu. Akhirnya masalah anaknya bisa diatasi dengan terapi rutin, namun tidak berselang lama putrinya kembali menjadi kurus kering dan sulit makan. Lepas dari ahli terapi, keberhasilan seorang penderita anorexia untuk bangkit sangat ditentukan oleh keluarganya. Dikutip dari nytimes, sebuah penelitian terbaru yang dipimpin oleh Dr. Le Grange dari University of Chicago melaporkan, pendekatan keluarga yang disebut juga the Maudsley method tidak hanya lebih efektif dari terapi perseorangan, namun juga lebih berkesinambungan ketika perawatan penyembuhan itu sembuh. Hal ini mencegah penderita untuk kambuh kembali. Penelitian melibatkan 121 pasien dari usia 12 hingga 18, yang kebanyakan wanita untuk menjalani terapi keluarga atau perseorangan di University of Chicago dan di Stanford, 24 jam penuh selama 1 tahun. Hasilnya, 49 persen yang menjalani terapi keluarga dinyatakan sembuh total, sedangkan yang menjalani terapi perseorangan hanya 23 persen. Sementara itu, dari persentase tersebut hanya 10 persen yang kambuh kembali di tahun berikutnya dari terapi keluarga, sedangkan 40 persen dari mereka yang menjalani terapi perseorangan rata-rata kembali kambuh di tahun berikutnya. Pendekatan atau terapi keluarga pada dasarnya sama dengan perawatan dan perhatian kedua orang tua pada anak mereka yang sedang menderita sakit kanker, kelainan jantung, atau penyakit lainnya. Anda akan menjaga asupan makanan mereka, mengawasi keteraturan konsumsi obat, menjaga dan menyemangati perasaan mereka agar tetap bahagia dan ingin untuk hidup sehat. Seorang anorexia tidak bisa berpikir jernih dan memutuskan mana yang benar dan salah sehingga orang tuanya harus mengarahkan dengan tegas apa yang harus dilakukannya. Walaupun sepertinya urusan makan adalah naluri setiap orang yang tidak perlu diperintah, namun untuk penderita penyimpangan pola makan ini adalah hal penting yang harus diperhatikan dengan baik. Namun terapi keluarga ini tidak melulu menyerahkan penderita begitu saja pada keluarganya. Ada aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh orang tua dan setiap anggota keluarga agar perawatan ini berhasil. Menurut Dr. Le Grange, seperti disampaikan pada nytimes, jangan meremehkan setiap perlakuan pada perawatan ini. Orang tua harus satu suara, satu kata dan satu pendapat dalam mendampingi dan menginstruksi penderita anorexia. Jangan sampai si ayah mendorong anak untuk menghabiskan makanannya, dan ibunya sibuk merengek agar putrinya diijinkan sekali saja mengikuti kata hatinya. Untuk saudara-saudara dan anggota keluarga lain yang tinggal bersama si penderita, Dr. Le Grange menyarankan agar mereka segera meninggalkan meja makan dan tidak memberikan komentar apa pun ketika selesai menyantap makanan mereka. Tinggalkan anak yang menderita anorexia hanya dengan kedua orang tua yang menemani dan menguatkannya untuk menghabiskan makanan tersebut. Sekecil apa pun seruan atau sikap yang tidak menyenangkan dari anggota keluarga lain bisa meruntuhkan usaha penyembuhan yang telah dilakukan, karena ini bukan hanya sekedar masalah 'tidak mau makan' namun juga masalah kejiwaan yang bisa berujung fatal. (vem/nytimes/miw)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

    Loading