10 Usaha Figur Publik Mematenkan Aset Mereka

Fimela Editor diperbarui 13 Apr 2011, 08:56 WIB
2 dari 3 halaman

Next

Snooki lost to a cartoon cat.

Nicole “Snooki” Polizzi, bintang serial produksi MTV, “Jerseyshore”, ingin mematenkan nama “panggungnya”, Snooki, karena ia khawatir publik tertukar mengira namanya dengan karakter kucing dari sebuah buku anak-anak, yang sebenarnya sudah lebih dulu mematenkan nama Snooki. Itulah sebabnya, pengajuan perempuan berambut hitam ini ditolak oleh The US Patent and Trademark Office (USPTO).

Walmart wants the happy face

Toko serba ada terbesar di Amerika Serikat ini, ingin simbol senyum berwarna kuning tersebut, menjadi hanya milik mereka. Simbol smiley face ini sendiri, sebenarnya diperkirakan sudah ada sejak tahun 70-an, tapi itu nggak mengurungkan niat pihak Walmart untuk tetap mematenkannya pada tahun 2006. Kekerasan kepala Walmart untuk memiliki sepenuhnya simbol tersebut, bahkan mendorong mereka untuk menuntut seniman Charles Smith yang memparodikan simbol tersebut. Pada akhirnya, keputusan pengadilan menetapkan bahwa si wajah kuning adalah public domain dan nggak bisa dikuasai oleh satu pihak pun.

Paris Hilton and “That's Hot!"

Bagi kamu yang menjadi fans Paris Hilton atau mengikuti serialnya, pasti sering mendengar pewaris tahta rantai perhotelan Hilton ini sering mengucapkan kalimat “That’s hot” untuk setiap hal yang menurutnya bagus atau menarik. Karena menurut Paris kalimat tersebut adalah miliknya, maka pada tahun 2007 dia menuntut Hallmark yang menggunakan ekspresi tersebut dalam salah satu kartu produksi mereka. And guess what...she won! Kini, kalimat tersebut resmi milik kekasih dari pengusaha Cy Watsis itu. Who says blondes are dumb?

Sarah Palin dan tanda tangan

Sarah Palin, mantan kandidat calon wakil presiden dari Partai Republik ini, memang termasuk kader politik yang sangat into showbiz world. Sejak kemunculannya, nggak hanya sisi politiknya yang menarik untuk diulik, tapi juga gaya hidup dan kehidupan pribadinya. Ibu dari 5 anak ini, lalu sempat menjadi headline di media karena ingin mematenkan namanya. Segala syarat untuk kepentingan pematenan namanya sudah dijalankan, namun USPTO akhirnya menolak pengajuannya karena Palin tak kunjung menandatangani berkas-berkas yang diperlukan akibat kesibukannya yang luar biasa.

Kata “Tweet” bukanlah milik Twitter

Bagi kita pengguna Twitter, pasti mengira bahwa istilah “tweet” adalah satu bagian dari media sosial ini. Namun, sayangnya tidak, karena pihak Twitter mengalami kekalahan ketika ingin mematenkan istilah “tweet” atas Twittad, sebuah jasa periklanan di Twitter, yang notabene adalah pihak ketiga dari Twitter sendiri. Twittad sudah lebih dulu menjadikan “tweet” sebagai trademark dalam kalimat “Let YourAd Meet Tweets” di tahun 2008.

 

3 dari 3 halaman

Next

 

Derung suara motor Harley Davidson

Alasan mengapa ada sebagian orang tergila-gila mengendarai motor Harley Davidson adalah karena menyukai sensasi suara garang motor besar itu. Menyadari hal itu adalah sebagai suatu aset, pihak Harley Davidson mencoba mematenkan suara motor produksi mereka, namun dikritik oleh perusahaan manufaktur lainnya yang menganggap bahwa suara mesin motor Harley mirip dengan suara motor lainnya. Akhirnya, Harley dengan sukarela membatalkan pengajuan mereka di tahun 2000.

McDonald’s belum beruntung memiliki kata depan mereknya sendiri

McDonald’s pernah beruntung memenangkan pertarungan sengit di persidangan saat menuntut McCofee, sebuah kafe di San Francisco, dan MacJoy, restoran cepat saji yang berbasis di Filipina, karena kesamaan prefiks “Mac atau Mc” yang digunakan oleh kedua tempat tersebut dengan McDonald’s. Namun, keberuntungan itu nggak terjadi saat di tahun 2009 ia menuntut sebuah restoran Malaysia bernama McCurry. Persidangan antara McDonald’s dan McCurry menghabiskan waktu 8 tahun dengan keputusan akhir Pengadilan Federal yang menolak tuntutan McDonald’s karena dianggap publik nggak akan tertukar dengan kesamaan nama tersebut.

Perang antara Apple dan Amazon memperebutkan istilah "App Store".

Penggunaan istilah “App” dalam “App Store” merupakan kependekan dari kata “application”, bukan merek “Apple”, walaupun kedua kata “App” dan “App Store” dimiliiki oleh perusahaan bentukan Steve Jobs tersebut. Namun, Amazon.com nggak mengurungkan niat mereka untuk meluncurkan menggunakan istilah-istlah tersebut dalan ponsel Android mereka. Apple langsung menuntut Amazon, yang semakin dibuat kacau dengan tambahan tuntutan dari musuh bebuyutan Apple, Microsoft, untuk hal yang sama yaitu istilah “App Store” karena menganggap kata tersebut merupakan istilah umum. Sampai saat ini, istilah “App” maupun “App Store” masih menjadi milik Apple.

Hati-hati menggunakan kata “face”, karena itu miilik Facebook

Kepopuleran Facebook di dunia maya, menjadi amunisi bagi Mark Zuckerberg untuk mematenkan kata “face” yang menjdi suku kata pertama di merek situs pertemanan kreasinya. Tapi, Facebook nggak egois mendominasi kata “face”, karena trademark yang sudah disetujui itu, hanya berlaku untuk layanan telekomunikasi, bukan diberlakukan secara membabi buta di semua penggunaan “face” di segala bidang. Sampai saat ini, aplikasi video chat buatan Apple, FaceTime, masih aman digunakan, belum ada tanda-tanda akan digugat oleh Zuckerberg.

You’re fired, Donald Trump!

Serial reality show “The Apprentice” yang menampilkan Donald Trump sebagai host, mempopulerkan kalimat “you’re fired”. Melihat peluang bisnis dari kalimat khas ini, jutawan real estate tersebut mencoba mematenkan “you’re fired” agar bisa dipakai di bisnis clothing, games, ataupun casino, miliknya. Malangnya, pengajuan trademark tersebut ditolak karena sepintas lalu, “you’re fired” terdengar seperti “you’re hired”, yang sudah menjadi ciri khas dari sebuah educational board game.