ID Berkebun: Serunya Bercocok Tanam Di Tengah Kota

Fimela Editor diperbarui 25 Jun 2012, 11:29 WIB
2 dari 4 halaman

Next

Penat dan prihatin dengan kondisi perkotaan di Indonesia, Ridwan Kamil pun membuat sebuah komunitas yang bergerak di bidang agrikultur. Adalah ID Berkebun, sebuah komunitas nirlaba yang awalnya terbentuk hanya dari berita di Twitter.

“Awalnya ide ini tercetus karena saya prihatin melihat kondisi perkotaan di Indonesia. Indonesia ini sebenarnya negeri yang indah, namun sayang terlalu banyak masalah. Sedangkan perkotaan merupakan tolak ukur kemajuan sebuah negara dan saat ini perkotaan di Indonesia pun sudah semakin tidak sehat. Ada 4 faktor yang menjadi fokus perhatian saya saat membentuk komunitas ini, yakni banyaknya lahan kosong yang tidak terurus, banyaknya orang kota yang stres dan memerlukan tempat refreshing yang lebih dari sekadar pusat perbelanjaan, anak-anak yang kurang menyalurkan aktivitas motoriknya, dan juga food crisis yang sudah mulai terjadi. Sebenarnya banyak orang kota yang merindukan bisa beraktivitas bersentuhan dengan alam karena pada kenyataannya selama ini masyarakat kota hanya bisa me-refresh diri mereka di pusat perbelanjaan. Padahal menurut sebuah penelitian, pekerja kantoran yang sering melihat pemandangan alam daya konsentrasi mereka saat bekerja pun akan meningkat,” ujar Ridwan saat dihubungi tim FIMELA.com.

What's On Fimela
3 dari 4 halaman

Next

 

Dengan gagasan awal memanfaatkan lahan kosong, akhirnya Ridwan pun berani untuk mengungkapkan idenya tersebut lewat akun Twitter pribadinya. Maraknya penggunaan social media ternyata membawa dampak positif bagi ide penghijauan yang dicetuskan Ridwan, respon pengguna Twitter terhadap ide Ridwan pun sangat positif. Akhirnya, setelah melemparkan ide tersebut ke forum Twitter pada bulan November 2010, pada bulan Februari 2011 Ridwan dan teman-teman dari Komunitas ID Berkebun membuka lahan pertama mereka di Springhill Kemayoran.

Kini ID Berkebun telah tersebar di 26 kota di seluruh Indonesia.“Awalnya saya hanya berpikir untuk menghijaukan lahan-lahan kosong di sekitar rumah. Namun, saya kembali berpikir bahwa akan lebih baik lagi jika kegiatan ini juga memunyai nilai ekonomis. Maka dari itu, akhirnya kami menjadikan berbagai jenis sayuran yang biasa dikonsumsi sehari-hari menjadi bibit yang ditanam di lahan-lahan ID Berkebun sehingga bisa dijual,” cerita Ridwan.

Di luar dugaan Sang Founder, sejak resmi beraktivitas pada bulan Februari 2011, kini ID Berkebun telah tersebar di 26 kota di seluruh Indonesia, Makassar Berkebun, Bogor Berkebun, Banten Berkebun, dan lainnya. Masing-masing kota pun memiliki program masing-masing. Tak hanya memikirkan untuk melakukan penghijauan dengan tindakan nyata lewat berkebun, ID Berkebun pun melakukan pencerdasan kepada masyarakat sekitar tentang cara memanfaatkan areal kosong di rumah mereka, misalnya Komunitas Bandung Berkebun.

4 dari 4 halaman

Next

 

Komunitas Bandung Berkebun membuat Kampung Farming yang bertujuan mencerdaskan ibu-ibu di perkampungan agar mereka bisa memanfaatkan ruang kosong di sekitar rumah mereka menjadi lahan hijau. Selain itu, ID Berkebun juga melakukan pembinaan terhadap anak-anak untuk mulai belajar bersentuhan dengan alam. Jadi, nggak heran kalau kamu menemukan anak-anak hingga orangtua sebagai anggota di Komunitas ID Berkebun.

November 2011 ID Berkebun mendapatkan sebuah penghargaan dari Google sebagai komunitas yang berhasil memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan kegiatan positif.Baru berjalan selama beberapa bulan, pada bulan November 2011 ID Berkebun mendapatkan sebuah penghargaan dari Google sebagai komunitas yang berhasil memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan kegiatan positif. Dari sekian banyak lahan yang sudah tersebar di 26 kota di Indonesia, hasil panen ID Berkebun pun mayoritas masuk ke restoran-restoran di setiap daerah.

Di Jakarta, misalnya, komoditas bayam organik dari ID Berkebun ditampung di Steak Holycow, sebuah restoran steak di Jakarta yang kini sedang naik daun. Sedangkan di Bandung, komoditas perkebunan hasil Bandung Berkebun berupa bayam dan kangkung disalurkan ke Sindikat Kuliner, yakni gabungan dari 50 pengusaha kuliner asal Bandung.

Untuk ke depannya, Ridwan mengatakan tidak akan ada perubahan dari Komunitas ID Berkebun. Yang ada hanyalah penyesuaian kebutuhan dari setiap kota dengan tetap memertahankan prinsip dasar Komunitas ID Berkebun. Jadi, sudah nggak bingung lagi untuk beraktivitas dengan alam di perkotaan kan?