Setelah Film, Teater Opera Jawa Besutan Garin Nugroho Menuai Sukses

Fimela Editor diperbarui 15 Apr 2013, 09:59 WIB
2 dari 3 halaman

Next

Setelah sukses dipentaskan di Solo, Garin Nugroho dan Djarum Bakti Budaya membawa Opera Jawa ke atas pentas teater Jakarta di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 13 dan 14 April 2013 lalu. Pada tahun 2006, Garin Nugroho memproduksi sebuah film dengan judul yang sama, Opera Jawa, dan  berhasil membuat film tersebut melanglang buana ke Belgia, Inggris, serta Kanada.

Garin membuktikan bahwa Opera Jawa dalam kemasan teater pun bisa mendapatkan kesuksesan yang sama besarnya dengan dengan film Opera Jawa yang dibintangi oleh Artika Sari Devi. Ini terbukti dari beragamnya penonton yang hadir di Teater Jakarta, mulai dari anak-anak muda hingga orang tua. Sama seperti cerita dalam film, Opera Jawa ‘Selendang Merah’ mengangkat cerita tentang kondisi budaya dan sosial masyarakat dalam balutan komedi satire.

What's On Fimela
3 dari 3 halaman

Next

Srupti Respati, seorang sinden kenamaan yang sudah tidak diragukan lagi kemampuan vokal dan jam terbangnya, ikut bergabung dalam Opera Jawa ‘Selendang Merah’ dengan memerankan tokoh Sri Ledhek. Cerita ‘Selendang Merah’ dibuka dengan usaha penangkapan seekor monyet, Hanoman, oleh Tuan Ledhek yang pada akhirnya menimbulkan rasa simpati dari Sri Ledhek dan menyelimuti Hanoman dengan selendang merah. Menurut Garin, dalam sebuah pertunjukan, selendang merah memunyai arti dan peran khusus. Dalam Opera Jawa, selendang merah digambarkan Garin sebagai penyebab terjadinya semua kekacauan, manusia berkelakukan layaknya binatang tanpa hati nurani, sedangkan binatang justru berperilaku layaknya manusia.

Kekejaman Tuan Ledhek dalam melatih Hanoman justru malah menjadi bumerang tersendiri baginya. Seekor monyet yang diperlakukan kejam justru bertiwikrama menjadi Hanoman dan bercumbu dengan istrinya sendiri di tengah-tengah usaha Tuan Ledhek memaksa Hanoman untuk melakukan taria tolak bala di sebuah desa. Pertempuran antara Hanoman dan Tuan Ledhek pun kemudian tidak bisa dihindarkan lagi. Sri Ledhek merasa bahwa semua kekacauan yang terjadi akibat selendang merah yang ia berikan kepada Hanoman.

Pertunjukan berdurasi sekitar 90 menit ini menuai decak kagum dari penonton yang hadir di Teater Jakarta. Garin berhasil menyatukan seni peran, tari, dan olah vokal secara menarik untuk menutup pertunjukan trilogi Opera Jawa terakhir. Ada satu hal yang menjadi kendala, untuk mereka yang sama sekali tidak mengenal Bahasa Jawa memang akan mengalami kesulitan untuk menikmati pertunjukan pasalnya hampir seluruh pertunjukan disampaikan dengan Bahasa Jawa halus. Namun, pastinya sang sutradara pun sudah mengantisipasi kendala bahasa karena itu di beberapa bagian cerita, Garin menampilkan tembang yang dinyanyikan dalam teks berbahasa Indonesia dan Inggris.