Mengenal Nias Selatan Lebih Dekat Lewat Semangkuk Sup Babae

Fimela Editor diperbarui 26 Feb 2014, 12:00 WIB
2 dari 4 halaman

Next

Butuh waktu selama 8 bulan untuk bisa menikmati semua makanan yang tersaji dalam acara The Succulent Tano Niha yang diadakan oleh Azanaya. Setidaknya, begitulah yang dikatakan oleh Lisa Virgiano pada FIMELA.com.

Untuk acara ini, Lisa menggandeng seorang pakar kuliner dari Nias, Noni. Tak sekadar memboyong juru masak dan salah satu pakar sejarah Nias, untuk acara ini, Lisa dan tim membawa langsung semua bahan baku masakan dari Nias Selatan. “Butuh waktu cukup lama untuk mempersiapkan ini, sekitar 8 bulan. Karena memang bahan-bahan yang digunakan cukup susah untuk didapat,” ujar Lisa.

Mulai dari ragam masakan dengan bahan babi dan ikan, semua tersedia di sini. Sayangnya, kami hanya bisa mencicipi masakan nonbabi. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, semua makanan yang tersedia, sekitar 7 jenis makanan, langsung kami cicipi satu per satu. Yang cukup menarik perhatian adalah Sup Babae dan juga Fakhe Nifal?gu.

What's On Fimela
3 dari 4 halaman

Next

Sup Babae merupakan makanan tradisional yang hanya ada di Nias Selatan. Sup ini dibuat dari Kacang babae, sejenis kacang hijau, bedanya kacang babae berwarna putih karena albino. Di Nias, tanaman ini juga tergolong tanaman langka yang hanya ada di desa tertentu. Di Nias Selatan, Sup Babae biasanya dinikmati dengan daging babi asap, tapi tidak sedikit juga yang menggantinya dengan ikan asap. Seperti yang kami nikmati dalam acara kali ini, Sup Babae dengan ikan asap.

Satu lagi yang mencuri perhatian kami adalah Fakhe Nifal?gu. Jika dilihat sekilas, Fakhe Nifal?gu sebenarnya tampak seperti nasi biasa yang dimasak dengan menggunakan wadah bulat hingga sedikit gosong di bagian bawahnya. Yang menjadi pembeda antara nasi biasa dengan Fakhe Nifal?gu adalah, nasi dari Nias Selatan ini dimasak dengan menggunakan air kelapa. Rasanya? Jika dibandingkan dengan nasi biasa, Fakhe Nifal?gu memang lebih gurih. Pas banget menikmati Sup Babae dengan potongan Fakhe Nifal?gu.

4 dari 4 halaman

Next

“Fakhe Nifal?gu dimasak dengan air kelapa dan ditanak dengan menggunakan periuk dari tanah liat berbentuk bulat. Entah magis atau bukan, jika periuk sudah “menolak” digunakan untuk memasak maka biasanya nasi pun gagal. Jadi, sebagai juru masak, kita harus tahu kapan harus berhenti masak dan kapan periuk masih bisa digunakan untuk memasak. Karena saat periuk sudah “menolak” untuk memasak maka percuma jika dipaksakan, hasilnya akan gagal dan justru terbuang percuma,” ujar Noni yang ikut memberikan cerita di balik makanan yang disajikan siang itu.

Lewat acara seperti ini, kita diajak untuk kembali ke akar budaya milik kita yang (mungkin) sudah nyaris punah karena terlupakan. Tak melulu harus belajar dan mengingat tanggal-tanggal bersejarah untuk mengenal kebudayaan milik kita, dengan kembali mengangkat makanan tradisional pun kita sudah turut berperan melestarikan kebudayaan daerah. Jangan sampai satu per satu kebudayaan kita berpindah tangan ke negara lain, Fimelova.

 

 

foto: Gae Nibogo Nifufu