Setelah 28 Tahun, Patung GWK Akhirnya Rampung dan Jadi Ikon Baru Pariwisata Bali

Gadis Abdul diperbarui 09 Agu 2018, 09:07 WIB

Fimela.com, Jakarta I Nyoman Nuarta, tentunya bagi masyarakat Indonesia pematung yang satu ini sudah tidak asing lagi. Alumni ITB tahun 1979 ini telah membuat lebih dari seratus karya seni patung, mulai dari seni patung mdern sampai gaya naturalistik. Dan salah satu patung yang buatannya yang paling fenomenal adalah patung GWK atau Monumen Garuda Wisnu Kencana (GWK).

Cerita bermula ketika pada tahun 8 Juni 1997, Nuarta mulai membuat patung GWK yang berukuran tidak biasa. Patung GWK dirancang memiliki ketinggian 75 meter dengan rentang sayap sepanjang 64 meter. Lalu untuk tinggi pedestalnya sendiri, yakni 60 meter. Jika dihitung secara keseluruhan, maka tinggi patung dan pedestal secara keseluruhan, yakni 126 meter.

Proyek Nuarta yang paling ambisius ini meman memakan waktu yang cukup lama, apalagi pembuatannya sempat terhenti beberapa tahun lantaran adanya berbagai hambatan yang harus Nuarta selesaikan terlebih dahulu. Total, pembuatan Monumen Garuda Wisnu Kencana Sendiri membutuhkan waktu selama 28 tahun.

patung gwk

Dan akhirnya setelah penantian panjang dan kerja keras dari ratusan seniman yang selama puluhan tahun ini tekun dan sabar mengerjakan patung yang tentunya akan semakin mempopulerkan pariwisata di Indonesia ini rampung. GWK resmi diluncurkan sebagaiikon baru pariwisata Bali.

Dilansir dari Liputan6.com, Kamis (9/8/2018), peluncuran patung GWK ditandai dengan pagelaran Swadharma Ning Pertiwi, di kawasan Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana, Bukit Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu (4/8/2018). “Kami yakin, Garuda Wisnu Kencana akan menjadi identitas Bali dan Indonesia karena Garuda Wisnu Kencana memiliki kesinambungan modernitas dengan budaya tradisional,” ujar Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata, I Gde Pitana.

2 dari 2 halaman

Kerja Keras Ratusan Seniman Membuat Patung GWK

patung gwk

Banyak cerita di balik pembuatan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK). Dan cerita tersebut bisa dilihat saat sebuah pagelaran yang bertajuk “Swadharma Ning Pertiwi” digelar untuk memberikan penghargaan kepada 120 seniman yang selama ini menyusun dan merampungkan pembangunan patung GWK.

"Inti dari seluruh perhelatan ini adalah untuk memberikan penghargaan kepada 120 seniman yang selama ini tekun, sabar, dan bekerja keras menyusun patung GWK dari hari ke hari. Sebagian besar dari mereka telah bekerja selama 28 tahun," kata I Nyoman Nuarta di Bali, Sabtu, 4 Agustus 2018, malam, dilansir Antara.

Ratusan seniman telah bekerja keras untuk mengerjakan keping-keping tubuh patung yang jumlahnya mencapai 300 truk. Keping-keping patung di Badung kemudian dikirim dengan truk ke bengkel kerja di dekat patung GWK yang berlokasi di Ungasan, Bali. "Mereka pula yang menyusun keping-keping itu di Bali sampai kemudian siap dinaikkan ke atas pedestalan patung," katanya.

Mengangkat keping-keping patung yang beratnya mencapai 3 ton per keping itu tentu bukanlah bukan perkara yang mudah. Para seniman hanya menggunakan alat crane untuk membantu proses pengangkatan dan pemasangan. "Cara seperti ini membuat para pekerja harus berani bergelantungan di atas ketinggian ratusan meter dari permukaan tanah," katanya.