Vemale.com - Cosmopolitan
Lihat, dalam hitungan hari, sudah mau tahun 2011 saja. Karena deretan kesibukan yang luar biasa padat, juggling antara karier, keluarga, teman, dan cinta, tak heran waktu terasa cepat sekali berlalu. Mulai dari rapat dengan klien, reuni dengan teman kuliah, pergi ke pernikahan teman SMA, hingga liburan dengan si dia. Betul, semuanya padat merayap, hingga tiap menit dimanfaatkan dengan maksimal. Hebat, ya! Dan di sini, di posisi Anda sekarang, Anda bisa melihat semuanya ke belakang sambil tersenyum karena tahun 2010 benar-benar mengesankan.
Memang, jumlah sahabat yang masih lajang jadi menipis karena banyak dari mereka yang sudah menemukan pasangan sejati, dan tentu saja Anda bahagia dibuatnya. Namun, ini artinya makin sedikit anggota yang ikutan girl's night out. Hmm, kini anggotanya tinggal dua termasuk Anda. Tunggu, sahabat Anda yang luar biasa impulsif itu pun sudah berangkat ke Dubai untuk kerja. Itu artinya...tinggal Anda yang tersisa.
Oke, oke jangan dulu panik. Tentu masih ada yang bisa diajak untuk pergi. Aha! Kekasih tercinta tentu bisa diandalkan! Meski untuk bertemu dengannya saja sudah susah sekali. Tapi setidaknya masih bisa merencanakan acara seru nanti tahun baru. SMS pacar dan ia menjawab, "Ada kemungkinan aku harus menemani bos ke luar kota, say. Padahal inginnya sama kamu." Panik! Langsung terbayang adegan awal film BRIDGET JONE'S DIARY, saat Bridget harus menghabiskan malam tahun baru, seorang diri, di depan televisi melihat pergantian tahun dan pesta kembang api dari balik selimut. "Tidak! Bangunkan saya dari mimpi buruk ini!"
Takut Sendirian. Kok Bisa?
Anda ini seorang wanita yang jadwalnya selalu dipenuhi banyak kehidupan sosial, bahkan hampir tak pernah di rumah. Ponsel konstan berdering, begitu juga SMS yang terus berbunyi. Seharusnya merasa senang karena bisa relaks jika punya waktu untuk diri sendiri. Tapi ketika hanya ada sunyi, kok jadi menyiksa? "Memang terkadang muncul elemen ketakutan saat seseorang yang sangat sosial, tiba-tiba ada di situasi yang bikin ia harus sendiri," ujar Jan Bogg, soerang psikolog dari Universitas Liverpool. "Hidup kita memang lebih cepat dan ada keinginan dalam diri untuk sukses dalam segala hal; brilian di kantor juga populer di pertemanan," tambahnya.
Psikolog dari Medicare Clinic, Anna Surti Ariani, Psi juga punya pendapat yang sama. "Di salah satu aliran psikolog ada yang namanya behaviorism. Mungkin pernah merasa dulu saat masih kecil dan sedang sendirian, selalu saja ada sesuatu yang tak mengenakkan terjadi. Misalnya ada cicak jatuh, suara petir bergelegar, atau mati lampu. Jadi terpatri di benak tiap kali sendirian, pasti saja sial! Selain itu, kadang seseorang mendapatkan tekanan sosial terlalu banyak untuk bersosialisasi, plus adanya pujian yang menyenangkan saat bertemu orang lain. Ketika sendiri, semua itu tak ada dan dirasa jadi sebuah ancaman," ungkap psikolog yang akrab dipanggil Nina ini. Ia juga menambahkan, "Dalam kasus ekstrem, ada yang bahkan sampai traumatik jika harus sendirian. Ini karena naluri manusia untuk menghindari hal yang tak enak dan mendekati yang enak. Dan sendirian jelas bukan hal yang enak bagi orang tersebut."
Akibatnya? "Mereka yang ekstrovert mendapatkan energi dari berinteraksi dengan banyak orang. Senang saat seseorang tertawa ketika Anda melemparkan lelucon, dan bikin Anda merasa lebih baik setelah mendengar banyak pujian. Tapi jika hanya mengandalkan ini sebagai asupan ego semata, lama kelamaan Anda akan sulit menilai seberapa pentingnya diri Anda sendiri," ungkap Octavius Black, salah satu penulis buku THE MIND GYM: GIVE ME TIME.
Mungkin Anda sendiri belum sadar sepenuhnya, tapi hasrat untuk berinteraksi itu selalu ada. Dapat akses internet? Langsung situs yang dibuka adalah Facebook dan Twitter. Chatting dan BBM sudah pasti jadi agenda keseharian (atau agenda tiap jam), tak mungkin tidak. Padahal, kita semua tahu, Cosmo yakin Anda pun juga tahu, kalau menghabiskan waktu sendiri, memperoleh me-time itu sangat dibutuhkan. "Waktu untuk diri sendiri itu sangat penting, agar orang tersebut bisa introspeksi dan bisa memanjakan diri sendiri," ungkap Nina lagi.
Sayangnya, jika dihadapi oleh pilihan untuk duduk dan menikmati kesendirian atau "kabur", kebanyakan memilih yang kedua. Padahal studi mengatakan gaya hidup yang terlalu sibuk bisa mengarah ke depresi, stres dan sulit tidur. Ayo, masak sama kesendirian saja takut? Berikut beberapa cara agar Anda bisa "merangkul" kesendirian dengan lega. Ingat, being alone doesn't mean that you're lonely, Dear.
1. Berhenti Membandingkan
Satu fakta untuk Anda. Tiap orang butuh waktu untuk bersantai, cooling down dari segala ingar bingar yang ada. Memang sulit membayangkan teman pesta Anda bisa menikmati waktu sendirian. Tapi, Anda ketemu dirinya saat sedang di atas dance floor, kan? Tak tahu apa yang ia lakukan di waktu lainnya. Bisa jadi, ia malahan gemar membaca buku di waktu lengang dan hobi untuk maraton nonton DVD. Jadi, berhenti untuk membandingkan diri Anda dan ingin jadi "lebih" dari yang lain. Jika bisa membuat Anda merasa lebih baik, Kate Moss di tahun 2005 menarik dirinya dari segala sorotan media dan glamornya London dan kembali dengan kekuatan lebih dan jauh lebih populer dari sebelumnya. Anda pun bisa bikin dampak sosial yang sama. Tak perlu selalu muncul di tiap acara, tapi sekalinya ada Anda, boom! Center of attention!
2. Pelan Tapi Pasti
Panik ketika janjian di sebuah coffee shop dengan seorang teman, dan ia belum datang. Aduh, pasti orang lain akan bersimpati, "Kasihan sekali wanita itu, tak punya teman, duduk sendirian." Hey, itu hanya ketakutan Anda semata. Percaya deh, jika Anda nyaman dengan diri Anda, tak terlihat "mati gaya" dengan sibuk utak-atik ponsel, yang ada di benak mereka malahan, "Wanita cantik itu duduk sendirian. Mungkin bisa didekati dan diajak kenalan?" Jika memang terasa sulit untuk sendirian dalam waktu yang lama, coba lakukan bertahap. Misalnya keluar ruangan, seorang diri, dan nikmati udara segar di luar. Dengarkan kicauan burung, rasakan hangatnya matahari, dan nikmati hal-hal kecil namun berharga tersebut. Anda akan menemukan rasa nyaman, dan ini dimulai dari sesuatu yang simpel seperti kicauan burung tadi.
3. Katakan Apa Adanya
Sebelum mengatakan "ya" pada tiap undangan yang hadir, coba untuk tanyakan pada diri sendiri, apakah teman Anda benar-benar akan keberatan jika Anda, untuk kali ini saja, ingin berada di rumah? Kadang rasa takut untuk mengecewakan orang lain memang ada, tapi jika teman Anda benar-benar mengerti, mereka tak akan memaksa, kok. Dengan mengatakan "tidak" pada mereka, itu artinya Anda mengatakan "ya" untuk diri Anda. Lagipula, nantinya Anda akan punya energi lebih untuk dibagi ke mereka saat pertemuan berikutnya. Tak perlu juga meminta maaf karena, misalnya saat bertemu lagi, Anda tak punya gosip hangat yang biasanya paling rajin Anda bagi. Tapi, Anda bisa mengatakan kalau Anda sukses menemukan kumpulan CD semasa dulu sekolah ketika beberes kamar, dan mendengarkan lagu lawas dengan memori manis di dalamnya. Percaya deh, Anda akan terkejut saat mengetahui betapa nikmatnya menghabiskan waktu untuk diri sendiri!
4. Rencana Ke Depan
Mungkin sekarang-sekarang ini terasa sulit, namun Anda akan terasa manfaatnya di jangka panjang. Tak lagi merasa aneh ketika menemukan jadwal kosong dalam keseharian, hingga akhirnya sadar bahwa hidup itu lebih daripada sekadar "live for the moment". Coba saja tip Cosmo berikut: tulis 12 hal yang ingin Anda lakukan untuk 12 bulan ke depan. Tepat untuk dilakukan menjelang akhir tahun! Ingat, Anda mesti jujur saat menulisnya, hal-hal yang ingin Anda wujudkan untuk diri sendiri. Sudah? Nah, lakukan pelan-pelan, misalnya tiap minggu dari waktu Anda, untuk mewujudkan keinginan tersebut. Ambil contoh, Anda mau berlibur ke Perancis! Segera, lakukan kegiatan yang bisa bikin angan ini terwujud. Mulai dengan les bahasa Prancis, dan ketika Anda menemukan momen sendiri, coba buka buku dan kerjakan PR yang ada. Memang, momen itu bisa dihabisi dengan gosip bersama rekan kantor, tapi ini tak membantu Anda untuk naik kapal di sungai Seine bak film BEFORE SUNSET! Coba untuk mulai fokus dan melihat ke depan, tak hanya hidup untuk sekarang saja.
5. Meski Takut, Tetap Lakukan!
Dear, perubahan tak selalu buruk, apalagi untuk hal ini. Menghabiskan waktu sendiri bisa dijadikan sebagai cara untuk detoks, mencari tahu dengan sesungguhnya apa yang Anda inginkan dalam hidup. Anggap saja ini sebagai cara Anda untuk lebih mengenal diri sendiri, apa yang benar-benar diinginkan tanpa ada pengaruh luar. Jadi ketika Anda nanti bertemu dengan teman dan bersosialisasi, Anda sudah jadi sosok yang solid, wanita fearless yang tahu apa yang diinginkan dalam hidup, tanpa campur tangan orang lain.
Me-time membantu Anda untuk menjadi diri Anda seutuhnya yang sekarang, dan nantinya, Anda bisa membaginya ke orang lain. Jangan takut untuk mendengarkan apa yang diri Anda inginkan. Siap untuk melempar pesta seru dengan diri Anda sebagai tamu VIP-nya? Hidangan lezat ditemani musik favorit, saatnya solitude party!
Tolong...Saya Sendirian, Tak Punya Pacar!
Mantan sudah move on dan Anda masih sendirian? Itu cerita lama!
Hadapi saja!
Bayangkan skenario terburuk yang mungkin terjadi. Silakan saja menangis, marah, kesal! Makin Anda hadapi, makin Anda merasa bebas nantinya.
Tetap bahagia.
Ajak diri ke satu titik di mana Anda tahu dan sadar bahwa sendirian itu bukan hal yang buruk. Semua akan baik-baik saja. Anda bisa terbebas dari kepanikan mantan yang berlebihan, atau kebiasaannya mengatur Anda sesuka hati anda tetap bisa bahagia, meski tanpa ada dirinya di samping Anda. Ulang kembali semua hal yang pernah terjadi, jadi Anda bisa tahu mengapa hubungan bisa sampai tak berhasil. Dengarkan baik-baik semua yang diri Anda katakan.
Tangkis rasa takut.
Ada yang bilang ketakutan terbesar itu ada di dalam diri sendiri. Taklukan ini terlebih dahulu. Tiap orang berhak untuk bahagia, dan jika bukan dengan mantan Anda itu, bisa saja dengan orang lain. Kalau bukan sekarang, mungkin saja nanti. Semua pasti ada jalannya, dan jika memang harus sendiri dulu, kenapa mesti takut? Tersenyum, jadi diri sendiri, nikmati hidup yang berjalan dan resapi tiap detiknya. Energi positif ini akan terpancar dan, di situ, calon kekasih sudah menunggu! [initial]
Source: Cosmopolitan, Desember 2009, halaman 185
Provided by:
(Cosmo/meg)
(Cosmo/meg)
What's On Fimela
powered by