Wangari Maathai, Rencana Simpel Untuk Masalah Kompleks

FimelaDiterbitkan 26 Juni 2010, 07:00 WIB
Vemale.com - Wanita pertama di Afrika Tengah dan Timur yang meraih gelar Ph.D, wanita pertama yang memimpin sebuah departemen universitas di Kenya dan wanita Afrika pertama yang memenangkan Nobel Perdamaian, dialah Wangari Maathai. Maathai lahir di Nyeri, pada tanggal 1 April 1940, adalah wanita yang berhasil menjadi salah satu dari 300 pelajar Kenya yang dikirim untuk studi ke negara Barat. Pada tahun itu (1959), kesempatan wanita untuk mendapatkan pendidikan hingga perguruan tinggi masih langka. Namun, Maathai memiliki prestasi akademik yang bagus selama bersekolah dan dia dipilih sebagai promising student yang dikirim belajar ke United States atas biaya Joseph P. Kennedy Jr. Foundation. Dia mendapatkan gelar sarjana biologi dari Mount St. Scholastica College di Kansas dan mendapatkan gelar master di bidang yang sama pada University of Pittsburgh. Mempelajari bidang biologi selama bertahun-tahun, terutama pada jenjang master di University of Pittsburgh, mengenalkan Maathai pada restorasi lingkungan. Dunia biologi yang dia geluti, membuatnya paham benar akan lingkungan hidup yang nantinya menjadi langkah besar untuk negaranya. Setelah usai masa studi untuk gelar master, Maathai menerima pekerjaan sebagai asisten peneliti seorang profesor zoology di University College Nairobi. Hal ini membuatnya kembali pada Afrika, walaupun sesampainya di sana ternyata pekerjaan tersebut telah diberikan pada orang lain dengan alasan yang diduga Maathai sebagai alasan gender dan ras. Namun tidak menunggu lama, Maathai mendapat tawaran dari University of Giessen, Jerman, untuk menjadi asisten peneliti di bagian mikroanatomi Departemen Anatomi Hewan yang baru dibentuk the School of Veterinary Medicine di University College of Nairobi juga. Dari pekerjaan ini pula Maathai berkesempatan untuk melanjutkan pendidikannya meraih gelar doktoral di University of Giessen dan University of Munich. Pada tahun 1971, Maathai menjadi wanita Afrika Timur pertama yang memperoleh gelar Ph.D. Maathai tetap mengajar di universitas yang sama, dan karirnya terus menanjak hingga menjadi kepala departemen Anatomi Hewan pada tahun 1976 dan asosiasi profesor pada tahun 1977. Posisi yang baru pertama kali ini ditempati oleh seorang wanita di Nairobi. Pada masa-masa itu, Maathai berkampanye untuk staff wanita di universitas agar mendapatkan timbal balik yang setara. Awalnya semua ide tersebut ditolak, tetapi lambat laun permintaannya dipenuhi. Ketika menjabat sebagai profesor, Maathai bergabung dengan the National Council of Women of Kenya, sebuah organisasi yang memperjuangkan keadaan yang lebih baik bagi wanita Afrika. Dari pertemuannya dengan orang-orang yang hidup di area pinggiran, Maathai menemukan bahwa masalah kurang gizi, kekurangan air bersih dan sebagainya bersumber dari penggundulan hutan yang digunakan untuk tanaman perkebunan seperti kopi dan teh. Pemerintah membujuk petani untuk mengganti tanaman pangan mereka dengan tanaman perkebunan untuk kebutuhan ekspor. Hal ini menyebabkan penggundulan hutan besar-besaran, kesulitan mendapatkan kayu bakar, aliran sungai mengering dan menyebabkan tidak bisa lagi menanam tanaman pangan, hewan ternak pun juga tidak bisa diternakkan karena tidak ada lagi rumput untuk pakan mereka. Masalah ini sangat kompleks, karena berkaitan dengan semua bidang di antaranya kemanusiaan, politik dan hukum. Maathai merasa bahwa rencana yang tepat sasaran dan dapat segera direalisasikan sangat dibutuhkan dalam hal ini. Menyadari bahwa dalam masalah ini banyak pihak yang terkait, Maathai memberikan solusi sederhana yang tepat guna yaitu menanam pohon. Berawal dari menanam tujuh pohon, dengan dukungan the National Council of Women, Maathai memutuskan untuk berhenti sebagai pengajar dan mendirikan the Green Belt Movement. Organisasi berawal dari beberapa penduduk desa yang dengan suka rela mengumpulkan benih dan menanamnya, namun kelompok kecil ini kemudian berkembang menjadi besar dan setelah 30 tahun, lebih dari 3 juta pohon telah ditanam. Enam ribu kebun pembibitan pohon telah didirikan dan dijalankan oleh para wanita, dan tersedia lapangan pekerjaan untuk lebih dari seratus ribu orang. Bagian terpenting adalah melalui gerakan ini Maathai telah membawa wanita Afrika mulai memegang kendali untuk masa depan mereka. Hal yang sebelumnya terasa tidak mungkin terjadi akibat tekanan dari para pria dan pemimpin-pemimpin desa. Perjuangan Maathai untuk kemanusiaan, wanita dan lingkungan hidup ini tidak mudah. Bahkan pada tahun 1979, suaminya, Mwangi Mathai menceraikan Maathai dengan alasan Maathai terlalu keras kepala sebagai wanita dan suaminya tidak bisa mengontrolnya. Mwangi menuduh istrinya telah berselingkuh dengan anggota parlemen yang lain dan dengan alasan tersebut, hakim mengabulkan permohonan cerai Mwangi. Selanjutnya, langkah-langkah politik Maathai selalu diganjal oleh banyak pihak. Ditangkap oleh aparat pemerintah telah dialaminya berkali-kali, bahkan luka di kepala akibat kerusuhan saat penanaman pohon juga pernah dialami Maathai. Namun ganjalan-ganjalan tersebut tidak membuatnya takut dan mundur. Pada bulan Januari tahun 2002, Wangari Maathai menerima posisi sebagai Visiting Fellow di Yale University's Global Institute for Sustainable Forestry. Setahun berikutnya, Maathai ditunjuk sebagai wakil menteri the Ministry of Environment, Natural Resources and Wildlife oleh presiden Kenya, Mwai Kibabi. Perjuangan Wangari Maathai mengantarnya sebagai pemenang Nobel Perdamaian tahun 2004 atas kontribusinya pada pengembangan, demokrasi dan perdamaian yang berkesinambungan. Kutipan dari Maathai: "Women are responsible for their children, they cannot sit back, waste time and see them starve", tidak hanya berlaku bagi wanita Afrika saja tetapi juga semua wanita di seluruh dunia, dengan kondisi dan usahanya sendiri-sendiri. Siapa bilang wanita lemah dan bisa dibungkam oleh kekerasan? Wangari Maathai mencontohkannya pada kita semua. (vem/miw)
What's On Fimela