Kasih Sayang Ayah Yang Tak Terbatas II

FimelaDiterbitkan 20 Juli 2012, 13:00 WIB

Kisah sebelumnya Kasih Sayang Ayah Yang Tak Terbatas I.

Aku yang jarang sekali ngobrol dengan ayah, kini sering aku bercakap bahkan hal-hal simpel sekalipun, setiap aku pulang. Aku bahkan smsan dan memberi kabar tentang pekerjaan dan bercerita tentang kondisi kantor baruku. Semuanya, kuceritakan pada ayah. Ya, ada hikmahnya aku pindah ke luar kota. Satu hal yang aku tahu mengenai kepindahanku ini, ternyata ayah sayang denganku. Bagaimana aku tahu?

Kalian pernah merasakan bagaimana rasanya dihubungi oleh ayah di saat jam sibuk kantor? Sedangkan selama ini hubungan kalian tidak begitu dekat. Kalian pernah merasakan bagaimana rasanya ditanya sedang apa, bagaimana kondisi kantor, bagaimana dengan teman, dan dinasehati saat kalian tengah drop dengan tekanan di kantor baru? Sedangkan selama ini kalian hanya berbincang seperlunya dengan ayah. Itu tanda sayang. Ya, aku percaya itu adalah tanda sayang seorang ayah pada putrinya.

**

Di puluhan kilometer jarakku dengan rumah, aku berpikir mengenai alasan ayah mengapa sedemikian perhatiannya denganku saat aku jauh. Akhirnya, kuputuskan satu alasan, kuanalogikan pada satu hal yakni kupu-kupu. Analogi itu merujuk padaku.

Jika selama ini induk kupu-kupu selalu menjaga anak-anaknya dari telur, ulat, kepompong hingga kupu-kupu, lalu ketika anaknya besar dan menjadi kupu-kupu dewasa yang cantik, anaknya meninggalkannya. Kau pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan terlebih lagi kehilangan sesuatu atau seseorang yang kau sayangi? Ya, begitulah perasaan seorang ayah. Ia rapuh sebenarnya, meski tampak kuat. Ia tak ingin kehilangan seorang yang amat disayangi, dijaganya dari kecil, namun ketika dewasa meninggalkannya. Gadis kecilnya kini telah menjelma menjadi kupu-kupu dewasa nan cantik, lalu terbang tinggi dan jauh.

Masih berpikir tentang ayah, aku mendapatkan satu kesimpulan lain tentangnya. Tentang mengapa dirinya selalu tampak galak dan jahat di depan anak-anaknya. Satu hal yang kudapatkan bahwa ayah sebenarnya tak ingin anaknya cedera. Tak ingin anaknya lemah, hingga tak sanggup membuat anaknya kembali bangkit. Ia sengaja selalu tampak galak, jahat, tetapi tegas, karena ia sayang dan tak ingin anaknya cedera. Bukan jahat, kalian hanya salah mengira. Ayah yang sebenarnya adalah ia yang selalu menjaga buah hatinya bahkan hingga sering melupakan kebutuhannya sendiri.

Jika kalian tak percaya dengan seberapa besar kasih sayang ayah terhadap kalian, coba tengok album foto keluarga dan cari dimana ayah kalian berada. Benar, beliau selalu ada di belakang kamera, memotret setiap detail tingkah kita dan anggota keluarga yang lain. Ayah, bahkan rela tak ikut berpose demi melihat senyum kita di depan kamera.

**

Dan, menghamburlah kalian pada pelukan ayah, ucapkan rasa sayang kalian sebelum segalanya terlambat. Ayah, tak akan kekal selamanya. Namun, cintanya sepanjang zaman.

(vem/tik)