Kisah Tragis Feby Lorita, Cinta Ditolak Pisau Bertindak

FimelaDiterbitkan 04 Februari 2014, 20:30 WIB

Indonesia kembali menorehkan kisah tragis pembunuhan wanita berparas cantik.

Adalah nama Feby Lorita yang beberapa waktu ini santer dibicarakan, karena ditemukan meninggal dengan kondisi tak wajar di dalam bagasi mobilnya sendiri. Jasad tersebut ditemukan di dalam sebuah mobil Nissan March berwarna putih dengan nopol F 1356 KA, di Duren Sawit, Selasa (28/1).

(vem/bee)
What's On Fimela
2 dari 5 halaman

Kronologi ditemukannya Feby di dalam bagasi mobilnya

Foto: copyright Merdeka.com

Korban pertama kali ditemukan oleh seorang warga bernama Anang yang merasa curiga akan kehadiran mobil tersebut. Saat didekati, seperti dilansir Merdeka.com, terlihat belatung keluar dari bagasi mobil.

Anangpun melaporkan hal tersebut kepada pihak yang berwajib, dan sembilan saksi, termasuk mantan suami Feby Lorita dipanggil untuk mengusut dan mencari tahu siapakah yang tega melakukan pembunuhan sadis tersebut.

Hendrik Sulaiman, mantan suami Feby sempat dicurigai karena menurut tiga sahabat Feby, ia sering terlibat cekcok dengan mantan suaminya tersebut.

Namun Hendrik mengaku sudah dua tahun tak pernah berkomunikasi dengan Feby, sehingga ia tak tahu menahu soal kehidupan Feby sekarang ini. Bahkan, anak semata wayang mereka, Jacqueline Agne Solecia yang berusia 4 tahun, saat ini berada di Bengkulu.

3 dari 5 halaman

Polisi temukan identitas pembunuh Feby

Foto: copyright Merdeka.com

Tak lama kemudian, Kamis (30/1) polisi mengaku sudah mengantongi identitas pelaku pembunuh Feby. Diduga, pelakunya masih memiliki hubungan dekat dan lebih dari satu orang.

"Kalau dari dugaan lebih dari satu, karena kondisi jenazah terlihat terikat," kata Mulyadi saat ditemui di tenda posko bantuan banjir, di Kampung Pulo, Jakarta Timur, Kamis (30/1).

Sabtu (1/2), polisi menangkap Daniel, seorang sopir angkot M28 pada pukul 17.00 WIB, di jalan Taman Mini, Jakarta Timur. Daniel diduga ikut berperan membantu membuang Feby ke dalam bagasi mobil Nissan. Berkat penangkapan Daniel, diketahuilah bahwa Edo, adik Daniel adalah otak dan eksekutor kematian Feby.

Ia tengah bersembunyi di Siantar, Sumatera Utara. Namun, 2 Februari 2014, polisi menangkap Edo dan membawanya kembali ke Jakarta.

4 dari 5 halaman

Edo membunuh karena ditolak cintanya?

Foto: copyright Merdeka.com

Pengakuan Edo membuat banyak orang cukup shock mendengarnya. Sebelum dibunuh oleh Edo, 22 Januari lalu, Feby sempat terlibat cekcok dengannya. Dugaan awal disebabkan karena Feby menolak cinta Edo, lantaran Edo mengaku sudah punya pacar.

Feby sempat mencakar dan memukul Edo di dalam mobil, Edopun kalap dan sempat memukul hingga gigi Feby rontok. Setelah berkelahi, Edo membawa Feby ke rumahnya di daerah Gadog, Bogor.

Beralasan mengambil uang yang diminta korban jika tak mau dilaporkan ke polisi, Edo memaksa Feby tinggal dan menginap di rumah tersebut.

Sekitar pukul 3 malam, Feby keluar dari kamar dan kembali cekcok dengan Edo. Berpikir bahwa Feby akan kabur, Edo mencekik Feby dan menusukkan pisau ke leher Feby hingga korban tewas.

Feby kemudian diikat dengan kabel dan dimasukkan ke dalam bagasi dalam kondisi mengenaskan. Wajahnya tak bisa dikenali karena sudah hancur, bagian rambut terkelupas hingga terlihat tengkorak kepalanya.

Edo meninggalkan mayat Feby di kawasan Juanda, Depok karena ketakutan aksinya akan tercium polisi yang sedang bertugas.

5 dari 5 halaman

Pengakuan Edo

Foto: copyright Merdeka.com

Benarkah hanya gara-gara cintanya ditolak kemudian Edo menghabisi nyawa Feby?

Pengakuan terbaru dari Edo mengatakan bahwa ia sangat terobsesi memacari Feby karena ingin bekerja di perusahaan tempat Feby bekerja.

"Gue pengen cari kerjaan. Dia kan banyak relasi," kata Edo di Mapolres Jakarta Timur, Senin (3/2).

Diceritakan pula bahwa Edo sudah mengatakan perasaan sukanya pada Feby sejak pertemuan pertama 5 bulan lalu. Sekalipun sudah memiliki kekasih, Edo mengaku akan menjadikan Feby sebagai kekasih barunya.

Kedekatannya dengan Feby selama ini layaknya seorang teman dan rekan bisnis biasa. Namun, timbul keinginannya untuk memacarinya.

Apa yang dialami Feby cukuplah menjadi pelajaran bagi banyak wanita agar lebih berhati-hati dalam memilih teman dan berhubungan dengan teman. Berhati-hati pula dalam bertutur kata agar tak sampai memicu emosi yang memancing tindakan kriminal di luar logika.