Inikah yang Terbesit di Pikiran Anda Saat Mendengar Kabar Kematiannya?

Fimela diperbarui 03 Okt 2014, 14:30 WIB

Kita tahu bahwa jatah kita hidup di dunia hanya satu kali. Kita pun sangat paham kalau kita bisa saja meninggal sewaktu-waktu. Dan terkadang kita juga baru sadar bahwa kematian bisa datang kepada siapa saja, termasuk ke orang yang paling kita cintai, kapan pun  dan di saat yang sama sekali tak kita duga. Pernahkah Anda tiba-tiba merasa terkejut saat menerima sebuah kabar duka—kabar duka tentang meninggalnya seseorang yang sangat Anda cintai dan kasihi? Lalu apa yang langsung terbesit di pikiran Anda saat Anda tahu orang yang paling dekat dengan Anda sudah berada di dunia yang berbeda?

“It is a curious thing, the death of a loved one. We all know that our time in this world is limited, and that eventually all of us will end up underneath some sheet, never to wake up. And yet it is always a surprise when it happens to someone we know. It is like walking up the stairs to your bedroom in the dark, and thinking there is one more stair than there is. Your foot falls down, through the air, and there is a sickly moment of dark surprise as you try and readjust the way you thought of things.” ― Lemony Snicket, Horseradish

Ketika sebuah kabar duka sampai di telinga kita, rasanya akan ada banyak sekali hal dan ribuan tanya yang memenuhi pikiran. Benarkah ia sudah meninggal? Kenapa ia meninggal lebih dahulu? Bukankah tadinya dia masih baik-baik saja? Ah, sayang sekali aku tak memberi kesan yang baik untuknya ketika aku terakhir kali bertemu dengannya. Bagaimana bisa dia meninggal di saat yang seperti ini? Atau… tidak, kabar ini tidak benar, ia jelas-jelas masih hidup, aku bisa merasakannya.

“Death ends a life, not a relationship.” ― Mitch Albom, Tuesdays with Morrie. Kematian… ia sering disebut-sebut sebagai ujung akhir kehidupan seseorang, terputusnya akses seseorang dengan kehidupan dunia. Tapi pernahkah Anda berpikir bahwa meskipun kematian seseorang itu telah memutuskan kemampuannya untuk berhubungan dengan kita (yang masih hidup), tapi hubungan yang pernah kita jalin bersamanya akan terus ada, akan terus dikenang.

Saat seorang anggota keluarga yang paling kita cintai dan kasihi meninggal dunia, kita bisa langsung tergugu dan pikiran jadi kosong. Atau ketika sang kekasih hati meninggal dengan cara yang sangat mendadak, akal sehat ini bisa jadi berhenti bekerja. Benarkah kabar yang kuterima ini? Saat pada akhirnya kita melihat wajah orang yang paling kita sayangi untuk terakhir kalinya, tepat sebelum dikuburkan, mungkin di saat itulah kita baru percaya bahwa memang orang yang kita cintai itu sudah menempuh dunia yang berbeda, melanjutkan ‘petualangan dan perjalanannya’ yang baru ke dimensi yang belum bisa kita tembus.

“To the well-organized mind, death is but the next great adventure.” ― J.K. Rowling, Harry Potter and the Sorcerer's Stone

Tapi meskipun kita sudah tak bisa lagi melihat senyuman wajahnya, mendengar suaranya, menyentuh kedua tangannya yang hangat, kita tahu bahwa masih ada sebuah ruang dalam hati kita bahwa kita akan selalu mengenangnya. Kita tak akan pernah melupakan semua memori indah yang kita miliki dengannya.

Iya, kita pasti sedih saat orang yang paling kita cintai sudah terlebih dahulu meninggalkan dunia dan melanjutkan perjalanannya. Hanya saja, apakah kita pernah terpikir bahwa kita pun masih memiliki kesempatan hidup kita sendiri? Akankah kita hanya menyia-nyiakan hidup ini? Tegakah kita mengecewakan orang-orang yang menyayangi kita saat masih hidup saat ini? Atau mampukah kita memenuhi janji kita pada seseorang yang sudah meninggalkan kita itu untuk jadi seseorang yang lebih baik lagi?

 

(vem/nda)