Menelisik Rupa-Rupa Kisah Tentang Baju Baru Di Hari Lebaran

Fimela diperbarui 04 Jul 2016, 09:17 WIB

Masih ingatkah?

"Doro Mangan Pari, Durung Badha wis Nganyari"

Yang artinya:Merpati Makan Padi, Belum Lebaran (Baju Baru kok) Sudah Dipakai kesana -sini

Bagi anak - anak kampung di Jogja 'tempo doeloe', selarik kalimat di atas pasti sangat familiar di telinga dan hingga kini menempel di ingatan. Biasanya diucapkan bersama - sama, secara ritmis-melodis untuk meledek teman lainnya yang 'belum Lebaran, bajunya baru dan sudah dipakai berkeliaran'. Seistimewa itukah baju baru di jaman itu, hingga memakai baju baru dianggap sudah mendahului Lebaran? Atau seistimewa itukah Lebaran, hingga hanya baju barulah yang harus dikenakan? Nyatanya demikian. Dulu membeli baju baru memang agenda tahunan. Dan baju baru adalah salah satu hal yang dinantikan saat Lebaran. Setidaknya oleh anak - anak kampung 'tempo doeloe' di pinggir Kali Code, di Utara Jogja pinggiran.

Baju baru di Hari Lebaran saat itu adalah simbol gengsi, eksistensi dan 'booster' rasa percaya diri. Tak berbaju baru, atau salah memilih baju, atau ada orang lain yang menyamai atau mengungguli, bisa merusak 'mood' saat harus bersilaturahmi. Kadang malah membuat seseorang malu lalu menyembunyikan diri sendiri. Tak hendak keluar rumah, tak mau ditemui siapapun sepanjang hari. Yah namanya juga anak - anak, walau ada juga beberapa orang dewasa yang mengalami hal seperti ini.

Sudah tradisi, demikian ungkapan yang tepat tentang munculnya syarat baju baru di Hari Lebaran. Momentum istimewa, yang hanya sekali setahun dirayakan. Sudah tradisi, yang kemudian menjadi acuan keberhasilan, barometer kesuksesan dan ukuran pencapaian. Setidaknya saat Lebaran, pernyataan 'ada uang di kantong lah' bisa ditunjukkan, yang diujungnya merebak rasa kebanggaan.

Sayangnya, ada yang harus mencuri di toko baju agar anak - anaknya berbaju baru di Hari Lebaran. Ada yang merampok rumah kosong yang ditinggalkan pulang ke kampung halaman. Ada yang menipu, menggelapkan motor teman dan cara lain yang tak terpuji dan berbuat satu kejahatan. Hanya untuk sebuah kebanggan, berbaju baru di Hari Lebaran. Hanya untuk memenuhi syarat dari sebuah tradisi yang masih dipertahankan. Hanya untuk satu hari dalam satu tahun yang dinanti - nantikan. Bak 'Everything I do, I'll do it for Lebaran'.

Melalui tulisan ini saya hanya ingin mengucapkan terima kasih, kepada semua orang yang peduli dan masih mau berbagi, menggeserkan sedikit ego untuk menempatkan empati. Empati bagi orang - orang yang tak ada uang di sakunya dan kebingungan mendengar rengekan anak - anak di rumah karena baju baru belum terbeli. Orang - orang yang menyebarkan 'ang pao' atau membagikan baju koko dan sarung ke tetangga, handai taulan dan yang berkekurangan. Bukan hanya karena saat ini memiliki jabatan atau karena sekarang menjadi anggota dewan, namun karena sebuah 'tradisi' yang selalu dihidup - hidupkan.

Tradisi berbagi, agar setidaknya semua orang bisa memakai baju dan sarung baru di di Hari Lebaran. Tradisi memberi, agar setidaknya seseorang yang putus asa tak lalu memutuskan nekat berbuat kejahatan, ber 'I'll do everything for Lebaran'. Yakinlah, satu pemberian sederhanapun, kadang bisa mengubah jalan kehidupan seseorang.

Dituliskan oleh Yasin bin Malenggang untuk rubrik #Spinmotion di Vemale Dotcom. Lebih dekat dengan Spinmotion (Single Parents Indonesia in Motion) di http://spinmotion.org/

(vem/wnd)