Lika-Liku Menikah Muda: Kesiapan, Pilihan dan Tanggung Jawab

Fimela diperbarui 10 Agu 2016, 09:27 WIB

Heboh tentang menikah muda bukan hal baru lagi. Sejak fajarnya modernisasi, setiap pernikahan sepasang muda - mudi yang masih belia atau masih berusia belasan pasti akan selalu 'menghebohkan'. Sebab musababnya menjadi bahan percakapan. Niatnya dipertanyakan dan kesiapan mereka mengarungi 'samudera kehidupan' rumah tangga pun juga diragukan.

Itulah sebagian pemikiran yang muncul dalam masyarakat tentang menikah muda. Dinyatakan secara terbuka dan langsung kepada pihak yang bersangkutan, atau sekedar jadi bahan pergunjingan pengisi waktu luang saat bertemu dengan kawan di sebuah cafe atau warung angkringan.

menikah muda memang rentan permasalahan sejak di awalnya, walau setiap perkawinan pasti punya sendiri - sendiri permasalahan yang harus dihadapi, namun pasangan menikah muda diibaratkan bak'burung yang sudah harus terbang meninggalkan sarang, saat hutan belantara belum setiap pojoknya telah dijelajahi'. Sayapnya mungkin sudah kuat untuk dikepakkan, namun daya jelajahnya masih sangat kurang. Jam terbang pun belum memadai. Kesulitan dan bahaya belum banyak yang dialami, sehingga dikuatirkan pasangan muda ini akan tersesat, bertemu rintangan dan mengalami kegagalan.

Namun, menikah muda bahkan kawin di bawah umur toh tetap terjadi dan dilakukan di hampir semua penjuru belahan dunia. Konon terdapat data yang menyatakan bahwa "25.000 perkawinan di bawah umur masih terjadi setiap hari di dunia, bahkan terdapat data lain yang menyebutkan 39.000 gadis remaja harus menikah di masa remajanya dengan laki - laki yang jauh usianya di atas mereka".

(vem/wnd)
What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Mengapa Menikah Muda?

Menikah muda biasanya dilatarbelakangi berbagai alasan yang hanya pasangan serta keluarga yang punya otoritas memutuskannya. menikah muda yang dilakukan biasanya memang sudah disepakati oleh kedua belah pihak karena suatu dasar pertimbangan. Latar belakang tradisi dan budaya, karena dasar ajaran agama, keputusan pasangan menikah muda dan kesepakatan kedua belah keluarga, atau karena kondisi darurat yang mengharuskan keduanya dikawinkan secara terpaksa. Misalnya; karena hamil diluar nikah.

Untuk alasan yang terakhir, kehamilan di luar nikah terutama di kalangan remaja memang cukup besar dan semakin meningkat saja dari tahun ke tahun. Menurut data Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak Korban Kekerasan 'Retno Dyah Utami', hingga pertengahan tahun ini saja sudah terdapat 1000 remaja putri di seantero Yogyakarta yang hamil diluar nikah dan tidak menerima pertanggungjawaban dari pihak pelakunya. Data ini baru data awal dari jumlah kasus yang dilaporkan dan hanya di sebuah provinsi di Indonesia saja. Bayangkan jika digabungkan dengan data - data lain dari semua provinsi. Berasa miris bukan?

Menikah muda mungkin di jaman ini bukanlah opsi yang kekinian, terutama bagi laki - laki dan perempuan berpendidikan tinggi yang mendambakan kesuksesan di bidang karier dan pekerjaan. Namun menikah muda akan selalu menjadi pilihan bagi remaja terutama remaja putri di bawah umur yang kondisi perekonomian keluarganya tak seberuntung lainnya. Alasan lain, karena tradisi dan budaya 'menikah muda' di lingkungannya yang belum berubah. Pada beberapa orang, menikah muda justru didasari oleh keyakinan pribadi atas ajaran agama dalam memandang perkawinan sebagai 'ibadah' dan upaya menghindari pergaulan bebas remaja masa kini.

Lalu jika ada laki - laki muda belia yang memutuskan mengakhiri masa remajanya dan menjalani masa dewasanya dengan sebuah perkawinan resmi dan sah, kenapa mesti diributkan? Siapapun dia. Termasuk putera seorang ustadz yang juga 'pesohor' di negeri ini yang baru - baru ini menikah di usia 17-nya.

3 dari 3 halaman

Menikah muda, Kesiapan Jasmani dan Rohani

Foto: copyright pixabay.com

Sampai kapanpun menikah muda akan menjadi perbincangan, kontroversi, perdebatan yang tiada habisnya. Pihak yang pro maupun yang kontra, selalu memiliki dasar pemikiran dan argumentasi yang diyakininya sendiri - sendiri. Namun dalam hal menikah muda sebagai opsi, terutama menyangkut pergaulan bebas remaja masa kini, menikah muda dirasa sebagai pilihan yang memiliki nilai positif yang jauh lebih tinggi. Daripada hamil di luar nikah, dan lalu malah melakukan aborsi? Atau malah terlibat pergaulan bebas yang menimbulkan penyakit menular yang mematikan, sehingga 'bungapun layu sebelum berkembang, dan kumbangpun mati sebelum jauh terbang'.

Walau memang bukan hanya kesiapan tubuh sebagai faktor penentu satu - satunya keberhasilan mencetak generasi unggulan yang dilahirkan, namun jika semua pria boleh memilih, mampu dan memiliki kesempatan memilih, sebenarnya mereka akan memilih untuk menikah sedini mungkin. Kenapa harus menunggu, jika pintu sudah terbuka dan jalan sudah ditunjukkan? Menikah secara sah dan resmi, akan sangat jauh lebih baik daripada pacaran, bergaul bebas dan akhirnya justru mengakibatkan kerugian bagi perempuan pasangannya, karena bisa saja lalu hamil dan ditinggalkan atau malah bayinya digugurkan. Mengenaskan bukan?

Meski menikah muda di masa kini bukanlah sebuah opsi yang diminati bahkan dijauhi sebagian besar orang, cobalah mengerti dan menghormati laki - laki atau perempuan belia dan keluarganya, yang menjadikan menikah muda sebagai pilihan. Pilihan dengan keyakinan, bukan karena keterpaksaan atau 'kecelakaan'.

Tulisan ini hanyalah sekadar pendapat, jika ada perbedaan tak perlu menjadi satu perdebatan yang berkepanjangan, toh ijab dan qabul sudah terjadi dan akan semakin banyak terjadi saat puluhan ribu remaja terutama perempuan muda belia di seluruh dunia 'terpaksa' dinikahkan setiap harinya.