Bapak Sudah Tua, Tapi Harus Semangat Jualan Untuk Sekolah Anak

Fimela diperbarui 25 Jan 2017, 11:48 WIB
Cuaca panas, hujan, debu dan asap knalpot menjadi teman setia Pak Parman, seorang pedagang tisu dan berbagai kaos kaki yang dia jual di pinggir jalan. 
 
Usia yang sudah tak lagi muda tidak membuat bapak empat orang ini menyerah pada kenyataan hidup yang sulit. "Saya dagang ini sudah tiga tahun, awalnya saya jadi kenek bus selama lima tahun, tapi umur sudah tidak muda lagi jadi cepat lelah, jadi beralih dagang tisue dan kaos kaki," ujar Pak Parman saat ditemui tim Vemale.com di daerah Senayan, Jakarta Pusat. 
 
Pak Parman, mulai berjualan dari jam 07:00 pagi hingga jam 18:00. Karena lokasi rumahnya yang jauh di daerah Ciputat, beliau harus menumpuh perjalanan pagi-pagi buta menggunakan bis untuk sampai ke tempatnya berjualan di kawasan Senayan. 
 
Dalam sehari, Pak Parman yang sudah memiliki dua cucu ini, bisa meraup untung seratus ribu rupiah jika dagangannya ramai terjual. Namun keuntungan itu tidak semuanya dibawa pulang, sebab barang daganganmya ia ambil dari salah seorang bos. Penghasilannya harus dibagi dengan sang pemilik barang.
 
 
Walaupun saat ini sudah berusia 67 tahun, ternyata Pak Parman masih memiliki dua anak yang masih bersekolah di Sekolah Menengah Pertama dan ingin masuk Sekolah Menengah Atas. 
 
"Istri saya di rumah saja, ngurus rumah tangga. Dua anak masih sekolah jadi penghasilan ini untuk anak-anak dan kebutuhan rumah tangga," tuturnya.
 
Di usianya yang sudah tak muda lagi, pekerjaan ini sering membuat Pak Parman kelelahan setiap hari pulang pergi Ciputat-Senayan. Belum lagi beliau harus selalu waspada terhadap Satpol PP yang siap untuk menjaringnya. Namun, Pak Parman tetap bersemangat berteriak "Bu, tisuenya, bu! Bu, beli kaos kakinya, bu," agar beliau pulang ke rumah tidak dengan tangan hampa. 
 
"Walapun saya capek, tapi saya harus menyekolahkan anak saya ketingkat yang lebih tinggi. Jangan seperti saya yang hanya lulusan Sekolah Dasar. Biar nasib mereka lebih baik lagi. Panasnya cuaca bukan apa-apa buat saya, asalkan dagangan laku dan semakin maju," tutupnya. 
 
Sebuah impian yang tidak muluk-muluk sebagai orang tua. Melihat anak bisa mandiri dan sukses akan membayar semua letih yang sudah dilakukan orang tua. Semoga setiap lelah dan tetes keringat Pak Parman untuk memberikan nafkah kepada anak dan istrinya mendapat balasan pahala yang berlipat.
 
(vem/asp/yel)
What's On Fimela