Semoga Masih Ada Kesempatan untuk Membahagiakan Ayah yang Kini Jauh di Mata

Fimela diperbarui 21 Nov 2017, 13:00 WIB

Kisah sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Ayah Aku Rindu ini mewakili perasaan kita semua, soal upaya dan perjuangan kita untuk membahagiakan orang yang paling berjasa dalam hidup kita.

***

Dunia tidak mengajarkan kita untuk berbuat baik, tidak mengajarkan kita untuk selalu bahagia. Dunia hanya lawan yang hanya bisa menertawakan kesalahan dan menilai orang semaunya.

Kehidupan seolah menuntutku menjadi ini dan itu, tanpa memikirkan risiko apa dan bagaimana aku akan melewati semua itu. Aku hidup dengan keluarga yang sederhana, menjalani kehidupan dengan biasa, tanpa harus ada peraturan dan adat istiadat yang mengekang keluargaku. Aku semenjak kecil bersama orang tuaku, hidup seperti anak yang lain, hanya saja yang membedakan aku dan temanku adalah cara didikan dari orang tua kami masing-masing.

Aku adalah anak sulung dari ayah dan ibuku, ketika umurku mencapai 5 tahun barulah aku memiliki adik perempuan, hingga tahun-tahun berikutnya pun tumbuhlah 1 orang adik perempuanku lagi, dan tahun berganti tahun begitu seterusnya tumbuhlah lagi seorang adik laki-laki yang selama ini ayah dan ibuku inginkan begitu juga denganku.

Awal kehidupanku pun bermula ketika aku sudah mengerti apa arti makan, minum, buang air, dan yang lainnya. Awalnya aku tidak mengerti untuk apa setiap hari ibuku menyiapkan makan dan dengan kesabaran yang ia miliki ia menyuapiku hingga makananku habis. Makan saja harus ditargetkan habis, apalagi hal yang lain? Padahal terlalu banyak makan akan membuat aku gemuk seperti sekarang.

Ayahku seorang petani, beliau yang mendidikku hingga aku tumbuh dewasa, beliau yang mengajariku bagaimana supaya menjadi orang yang pintar bukan sukses. Beliau adalah orang yang paling aku segani, beliau juga yang selalu mewujudkan keinginanku, tidak peduli apa yang terjadi atau yang akan hilang dari kehidupannya. Aku jadi ingat ketika dulu beliau mengajariku penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.

Aku sungguh sangat beteketika beliau mengajariku Matematika, selalu saja aku yang salah, aku pun tidak mengerti kenapa ayahku selalu mengajariku tentang  Matematika jika mata pelajaran yang lain beliau sangat jarang mau membantuku. Tapi itu dulu ketika aku belum mengerti apa tujuannya, sekarang barulah aku merasakannya, entah itu kebetulan atau karena memang itu tujuan ayahku aku tidak tahu, yang jelas Allah memberikan aku ayah yang luar biasa. Karena sekarang aku sedang menjajaki kuliah jurusan Matematika, dan tentunya aku akan mempersembahkan gelar sarjana sains (S.si) kepadanya. Itu yang aku katakan hanya kebetulan atau tidak, tapi aku sudah menuai kesabaran atas didikan ayahku dulu ketika aku masih kecil, entah itu keinginan beliau atau bagaimana, yang aku ketahui sekarang aku merasa senang karena beliau ikut serta dalam setiap jenjang pendidikanku. Beliau sangat mendukung ketika dulu aku lulus jurusan Matematika.

Ayahku itu orang yang sangat super, aku sangat mengaguminya. Bagaimana tidak, beliau yang selalu mendukungku untuk mengejar pendidikan sampai sejauh ini. Aku sangat bangga memilikinya. Allah memang sangat baik padaku, telah memberikan sosok seorang ayah yang amat luar biasa dan amat aku cintai. Dulu ayahku selalu menggendongku ketika ia mau pergi ke rumah tetangga atau ke rumah nenek. Kalau tidak digendong pasti aku diboncengnya naik sepeda, karena dulu hanya sepeda lah kendaraan yang kami punya. Ayahku selalu membawaku kemana beliau pergi main. Aku sangat bahagia dan bangga karena aku selalu jadi prioritas ayahku di antara aku dan ibuku, itu ketika aku belum mempunyai adik.

Terkadang jika aku bernostalgia semuanya ingin rasanya berlari dan berhambur di pelukan ayah, banyak kata yang ingin aku ucapkan, banyak cerita yang ingin aku ceritakan ketika  mata senjamu akan terlelap, yang akan menjadi dongeng pengantar tidurmu. Walaupun aku yakin ketika engkau mendengar cerita itu, kantukmu pasti hilang dan akan menatapku jauh dari lensa mata dan dari mata hatimu yang paling dalam. Jika pun aku tidak bisa menceritakan semuanya langsung di hadapanmu, jika hanya bisa menceritakan lewat suara tanpa memandang, aku tetap yakin bahwa hatimu yang paling dalam akan merasakan apa yang aku rasakan.

Jika aku menceritakannya mungkin engkau akan bertanya, "Kamu tidak bohong kan, Nak?" Tentu jawabanku tidak ayah, walaupun selama ini aku sangat jarang bicara lewat telepon denganmu, memang aku akui hampir setiap aku menelepon waktu bicaraku hanya habis untuk ibu, tapi ketahuilah aku tidak kuat mendengar suaramu yang bisa membuat rasa tanggung jawabku memberontak diriku sendiri. Maafkan aku, mungkin aku terlihat tidak sopan atau tidak rindu padamu. Aku hanya sedang menguasai diriku mencoba bertanggungjwab sepertimu, aku hanya ingin tanggungjwabku selesai sebelum engkau pergi jauh.

Ayah, aku anak sulungmu, yang jauh dalam jangkauanmu, jauh dalam pandanganmu dan jauh dalam pendengaranmu. Tapi aku yakin aku sangat dekat di hati dan selalu ada di dalam doa setiap sujud-sujudmu di akhir sholatmu. Aku tidak tahu bagaimana cara untuk meluapkan semuanya, terkadang aku ingin berterus terang padamu bahwa aku sudah tidak sanggup hidup dengan orang lain ayah, aku ingin bersama kalian di rumah kita, tapi aku hanya mampu berangan-angan untuk bisa mengatakan itu. Aku tidak sanggup jika harus melihat air matamu keluar padahal selama ini selalu engkau tahan demi diriku.

Ayah jarak antara kita memang jauh untuk saat ini, aku begitu sangat merindukanmu, ibu dan adik-adikku. Hanya seuntai doa yang bisa kuberikan padamu. Sejauh mana kaki ini melangkah bukanlah tolak ukur bahwa aku menyayangimu, karena sayang dan cintaku pada ayah dan ibu tidak mempunyai limit atau batas maksimum. Aku tidak bisa meluapkan semuanya dengan kata-kata, hatiku sangat ingin selalu bersama kalian. Melewati indahnya siang dan malam bersama-sama. Aku Elmia binti Slamet suatu saat akan membuat mata senjamu terpesona dengan semua hasil jerih payahku. Aku akan selalu berdoa meminta kepada Allah yang Maha Cinta untuk selalu menjagamu, ibu dan adik-adikku.

Ya Allah seberapa jauh engkau menguji diriku tidak masalah bagiku, namun jangan engkau menguji ayah dan ibuku teramat berat, walaupun aku tahu Engkau tidak akan menguji umat-Mu melebihi batas kemampuan mereka. Aku sangat menyayangi mereka, prioritas dalam hidupku adalah mereka, mereka lah jembatan yang selama ini selalu ada saat aku hendak melangkah menyeberangi ujian hidupku.

Maka untuk masa yang akan datang entah aku masih bisa bersama ayah dan ibuku atau tidak, aku hanya ingin mempersembahkan untuk yang terakhir kalinya, aku ingin bertanggungjawab menjadi jembatan bagi ayah dan ibuku untuk mengantarkan mereka ke surga-Mu ya Allah. Jagalah mereka hingga kelak Engkau menjemputnya.

Di hatiku ada hati ayah dan ibu yang harus aku jaga,

I LOVE YOU AYAH,

I MISS YOU SO MUCH.

(vem/nda)
What's On Fimela