Kutinggalkan Hubungan yang Tak Sehat, Sebab Aku Juga Berhak Bahagia

Fimela diperbarui 09 Feb 2018, 13:00 WIB

Setiap wanita memiliki kisah cintanya masing-masing. Ada yang penuh liku, luka, hingga akhir kisah yang mungkin tak pernah diduga. Seperti kisah Sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Bukan Cinta Biasa ini.

***

Aku mengenalnya dari media sosial. Dia tinggal di kota asalku. Setelah berkenalan lewat media sosial kami saling bertukar nomor telepon. Setiap malam kami selalu teleponan bahkan tak jarang hingga pagi. Dan aku hanya tidur 1-2 jam sebelum berangkat kerja. Selain wajahnya yang tampan juga karena perhatiannya aku mulai menyukainya dan tak lama dia mengatakan rasa sukanya padaku.

Kami menjalin hubungan 1 tahun 8 hari. Tapi hubungan itu hanya manis selama 5 bulan saja selebihnya hari-hariku penuh dengan air mata. Semua itu dimulai pada saat dia datang ke Jakarta di hari ulang tahunku. Dia tidak memberitahuku dengan maksud memberikan kejutan. Sampailah dia di rumahku dan malam itu dia menginap di rumahku. Kebetulan aku memang tinggal sendiri.  

Malam itu dia mulai mengecek HP dan media sosialku. Dia menemukan riwayat chatting-ku dengan pria lain yang memanggilku sayang padahal aku tidak ada hubungan apapun dengan pria itu, kami hanya sebatas teman tapi dia tidak peduli. Untuk membuktikan kepadanya bahwa aku tidak selingkuh aku menelepon pria itu agar berbicara langsung dengannya tapi bukannya keadaan semakin baik, malah dia semakin marah dan memaki pria itu termasuk memakiku juga.



Dia mengancam akan pulang tapi aku membujuknya bahkan memohon agar dia tidak meninggalkanku. Mungkin karena iba padaku dia tidak jadi pulang dan masih tetap tinggal bersamaku selama 11 hari. Aku membelikannya tiket pulang dengan uangku dan aku mengantarnya ke bandara dengan kesedihan yang mendalam. Air mataku tidak pernah berhenti dan dia pulang dengan pesan-pesan yang sangat banyak terutama agar tidak macam-macam di belakangnya.

Kupikir hubungan kami kembali baik seperti semula, tapi ternyata tidak. Pikiran dia semakin negatif, hingga menyebut aku perempuan gampangan. Dan bahkan kata-katanya itu tidak hanya disampaikan kepadaku saja tapi kepada teman-temanku juga. Tanpa sepengetahuanku dia teleponan dengan temanku dan mengatakan bahwa aku perempuan yang “haus seks”.

Teman-temanku tidak menyampaikannya padaku karena mereka takut membuatku sedih tetapi mereka menunjukkan ketidaksukaan mereka pada pacarku melalui sikap-sikap mereka. Dan aku sangat merasakan itu. Diam-diam mereka memblokir nomor telepon pacarku, aku tahu itu dari pacarku yang katanya sudah tidak bisa menghubungi teman-temanku lagi menanyakan keadaanku. Aku bertanya kepada teman-temanku dan mereka mengiyakan bahwa mereka sudah memblokir nomornya dengan alasan dia mengganggu. Belakangan aku tahu karena mereka tidak suka pacarku menjelek-jelekanku karena teman-temanku sangat mengenalku, apa yang dia tuduhkan tidak sesuai dengan kenyataan. Teman-temanku sudah berusaha meyakinkan dia tapi dia tetap tidak percaya.



Demi menjaga hubunganku dengannya aku mengubah sikapku 180 derajat. Aku tidak lagi berbicara dengan siapapun selain urusan pekerjaan. Aku tidak pernah lagi bercanda seperti dulu kepada siapapun bahkan bisa dibilang aku hampir tidak pernah tersenyum atau tertawa pada siapapun. Siapapun yang menyapaku selalu kuacuhkan.  

Aku menghapus dan memblokir semua kontak laki-laki di HP-ku termasuk yang hubungan kerja. Perubahanku itu bukannya membuat pikiran pacarku menjadi positif tapi malah semakin menjadi-jadi. Segala macam tuduhan dilontarkan kepadaku. Setiap hari telepon harus aktif. Hampir 24 jam telepon tidak pernah mati, bahkan kami tidak ngobrol pun telepon tidak boleh dimatikan sampai tidur malam hari.

Tak jarang keluargaku komplain karena susah menghubungiku. Tapi aku selalu mencari alasan membela diri. Kalau telepon mati dalam hitungan detik saja, dia sudah menuduhku segala macam. Tak jarang kami berantem lewat telepon ketika aku di kantor. Aku bahkan sering tidak bisa menahan tangis di hadapan teman kantorku, dan itu sangat memalukan. Tetapi teman-temanku tidak ada yang ikut campur. Mereka hanya diam saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa denganku. Karena mereka memang sudah sangat muak dengan pacarku.

Bulan Juli dia kembali datang ke Jakarta, itu juga aku yang membeli tiketnya karena memang aku yang memintanya datang. Kebetulan aku libur panjang lebaran, dia di Jakarta selama 4 bulan, semua biaya hidup aku yang tanggung. Tak sedikit uang yang kuhabiskan untuk kami demi membuat dia senang. Bahkan aku sampai menjual perhiasanku tanpa sepengetahuan dia karena aku kehabisan uang.



Aku meminjam uang orangtuaku untuk membayar sewa rumah. Walaupun dia di dekatku tak membuat hubungan ini bahagia dan jauh dari pertengkaran, setiap hari kami berantem dan masih sama saja telepon tetap harus terhubung dengannya. Aku sangat tertekan tapi aku takut mengambil keputusan. Bahkan jika dia yang melakukan kesalahan pun dia bisa membalikkan keadaan menjadi aku yang salah dengan cara mengungkit kesalahanku yang lama (temanku yang memanggilku sayang).

Dia selalu memojokkanku, aku adalah orang yang tidak terlalu suka berdebat apalagi meributkan hal yang sama setiap hari. Jika dia menyalahkanku aku hanya bisa diam dan menangis dan minta maaf memohon-mohon padanya agar dia tidak meninggalkanku. Sering dia mengancam akan meninggalkanku, lalu aku akan memohon-mohon dan menangis semalaman agar dia tidak meninggalkanku. Entah apa yang membuatku bisa begitu kepadanya. Padahal aku sendiri menyadari bahwa hubungan kami sudah tidak sehat.

Aku sangat-sangat tertekan, aku bertahan karena aku pikir sangat lelah jika aku harus memulai hubungan yang baru lagi dengan orang lain. Badanku semakin kurus, wajahku lusuh, itu kata teman-temanku. Tapi aku tidak peduli, yang penting aku tidak ditinggalkan pacarku. Sering aku pura-pura bahagia di hadapan dia atau di hadapan teman-temanku. Aku tertawa tapi hati dan pikiranku tidak. Setiap hari aku selalu ketakutan, berantem akan hal apa lagi hari ini? Pernah aku diam saat dia mulai memulai perdebatan, bukannya membuat dia tenang dan berpikir tapi malah jadi semakin menuduh macam-macam karena diamku.

Hingga akhirnya dia pulang karena sepupunya akan menikah. Lagi-lagi aku membelikannya tiket dan mengantarkannya ke bandara. Aku memberinya sedikit uang dan uang itu adalah yang terakhir di tabunganku. Aku menangis karena kepulangannya tapi sedikit lega. Entah mengapa di dalam hatiku berkata bahwa hubungan kami akan berakhir setelah ini. Dan benar, sesampainya dia di sana dia mulai berubah, padahal di bandara dia sudah berjanji bahwa hubungan kami akan semakin baik.

Dia mulai malas-malasan membalas pesanku, mulai malas-malasan teleponan denganku. Aku masih mencoba sabar dan bertahan. Tepat tanggal 22 November 2016 sore, aku mengirim pesan padanya bertanya akan kegiatannya hari itu tapi dia menjawab dengan asal-asalan, jawaban dia tidak ada yang nyambung. Aku semakin kesal tapi aku mencoba tetap tenang.

Sore itu aku bertekad mengakhiri hubungan kami jika kami berantem, entah kekuatan dari mana dan keyakinan dari mana yang membuatku mantap dengan keputusanku. Aku mengingat ulang hubungan kami dari awal sampai kepulangannya terakhir, aku tidak merasakan bahagia sedikit pun, meski aku mengingat hal-hal baik yang kami lewati.



Saat itu aku merasa diriku bodoh mau bertahan dengannya. Aku seperti merasa muak dengannya. Kemudian aku berdoa, aku berdoa dengan sungguh-sungguh meminta agar keputusanku adalah jalan terbaik. Agar aku kuat setelah itu, agar aku tidak menyesal. Aku memberanikan diri bertanya maunya dia apa, dia agak bertele-tele dan membalikkan pertanyaan padaku sampai akhirnya dia menjawab, “Tinggalkan aku.” Kata-kata itu sudah sering diucapkannya tapi aku menolaknya dan dia kembali baik padaku. Dengan menyebut, “Dalam nama Tuhan Yesus,” dan menarik napas dalam-dalam aku membalas pesannya, “Baiklah, aku meninggalkanmu sekarang.” Setelah melihat dia sudah membaca pesanku, aku langsung menghapus semua kontaknya. Dan bernapas lega, aku tidak menangis sedikit pun.

Setelah itu aku mulai memperbaiki hubunganku dengan teman-temanku, mulai tersenyum. Mulai tertawa dan bercanda walau awalnya mereka masih suka menyinggung tentang perubahan sikapku beberapa bulan belakangan itu. Sampai aku bercerita kepada temanku bagaimana hubunganku berakhir, barulah mereka menceritakan semua apa yang mantan kekasihku bilang pada mereka mengenai aku. Tapi mereka lega karena aku sudah tidak lagi menjalin hubungan dengannya.

Sebenarnya sudah lama mereka ingin menyuruhku memutuskan hubunganku denganya. Tiga hari setelah hubungan kami berakhir dia menghubungiku kembali tapi aku tidak mempedulikannya, bahkan sampai berbulan-bulan pun dia masih berusaha menghubungiku, memohon kembali. Dan sekarang aku sudah bahagia dengan kekasihku yang baru yang sangat menyayangiku, memahamiku, mempercayaiku dan memperlakukanku layaknya perempuan. Aku sangat mencintainya.






(vem/nda)
What's On Fimela